Di bawah tenda putih yang terpasang sederhana, Mahdan menata sepasang sepatu di atas meja pameran. Tangannya bergerak pelan, nyaris tanpa suara, seolah ingin memastikan setiap detail tampil apa adanya.
---
WAJAHNYA tenang. Mencerminkan kebiasaan panjang seorang perajin yang lebih banyak bekerja dalam diam ketimbang berbicara.
Sepatu-sepatu itu menjadi penanda kerja tangan, ketekunan, dan proses panjang yang jarang terlihat publik. “Kalau dari sisi sepatu, kita bikin ada sport sama pantopel,” ujar Mahdan sambil menunjuk contoh produk yang dipajang, Jumat (9/1).
Ia menjelaskan, pantopel yang dibuat pun tidak tunggal. Tersedia untuk perempuan dan laki-laki, menyesuaikan kebutuhan pemesan.
Jenis produk yang dihasilkan tidak berhenti pada contoh yang terlihat di meja. Menurutnya, empat pasang sepatu yang dipajang hanyalah representasi kecil dari kemampuan produksi yang dimiliki.
Baca Juga: Dewan Herman: Full-Day School Jangan Dibuat Ujuk-Ujuk, Anak Bisa Stres!
“Ini bukan cuma empat ini saja, ada yang lain juga,” terangnya.
Model sepatu yang paling sering dikerjakan memang sport dan pantopel. Namun di luar itu, ia membuka diri terhadap berbagai pesanan khusus.
“Kalau sesuai permintaan, sepatu apa pun bisa. Jenggel juga bisa, tergantung pesanan,” ucapnya.
Kemampuan tersebut tidak datang secara instan. Mahdan mengungkapkan bahan baku sepatu dari Jawa, lalu diolah di tempatnya.
Baca Juga: HSBC Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen pada 2026
“Di sini kita olah dan jual ke teman-teman di Lombok,” tuturnya singkat.
Sementara ilmunya didapat dengan beberapa skema. Ada pelatih dari Jawa yang datang langsung ke Lombok, ada pula perajin lokal yang berangkat untuk berguru.
“Ada yang datang ke sini, ada juga kita yang ke sana,” katanya.
Kerja sama tersebut difasilitasi dalam program pelatihan lintas daerah. Salah satunya dengan Surabaya.
Baca Juga: Warga Pesisir Mataram Diingatkan Waspada! Gelombang Rob dan Cuaca Ekstrem Mengancam
“Itu program kerja sama, sama-sama di sini,” ujarnya, menandakan adanya dukungan dalam pengembangan keterampilan perajin.
Soal penjualan, Mahdan tidak menyebut angka pasti. Namun ia mengakui hasil produksinya sudah cukup banyak terserap pasar.
“Tidak pernah saya hitung, tapi lumayan lah,” katanya sambil tersenyum tipis.
Jumlah pesanan tiap bulan tidak menentu. Ada masa ramai, ada pula masa sepi.
Baca Juga: DPRD Tegaskan: Penertiban Manusia Silver Harus Disertai Pembinaan Permanen
“Kalau sekarang agak sepi,” ujarnya jujur.
Dalam kondisi normal, pesanan bisa sangat beragam, dari skala kecil hingga besar. “Kadang satu pasang, dua pasang. Pernah juga lima puluh pasang, seratus pasang,” katanya.
Fluktuasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perajin skala kecil yang mengandalkan sistem pesanan. Pesanan terbanyak yang pernah ia terima mencapai 200 pasang.
“Pernah sampai dua ratus,” katanya. Model yang dipesan saat itu adalah pantopel, jenis sepatu yang banyak dibutuhkan untuk kegiatan formal.
Baca Juga: Hari Pertama Full-Day School: Siswa Ngantuk, Jalanan Makin Lancar!
Produk sepatu yang dibuat juga memiliki merek. Salah satunya bernama Sasaka.
“Mereknya kita punya,” katanya.
Namun untuk urusan showroom, ia tidak mengelolanya sendiri. “Showroom itu punya pemerintah,” tambahnya.
Dalam proses produksi, ia tidak bekerja sendirian sepenuhnya. “Kalau tenaga kerja, sekitar tiga orang,” ujarnya.
Baca Juga: Warga Rembiga Delapan Hari Tanpa Air Bersih, DPRD Tegur PDAM!
Namun jumlah itu fleksibel. “Kalau pesanan sedikit, saya kerjakan sendiri. Kalau banyak, baru saya panggil,” imbuhnya.
Bagi Mahdan, usaha sepatu ini bukan sekadar soal produksi. Ada dampak sosial yang ia rasakan langsung.
“Manfaatnya ya membuka lapangan kerja buat teman-teman sekitar,” katanya.
Dari sisi ekonomi keluarga pun ia bersyukur. “Alhamdulillah, bisa bantu ekonomi, bisa sekolahkan anak,” tutupnya.
Baca Juga: HUT Ke-58 SMKN 4 Mataram, Wagub NTB Tekankan Anti Perundungan dan SDM Global
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin