Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Edukasi MBG: Anak TK Diajari Cek Makanan, Mencegah Risiko Keracunan Massal

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 13 Januari 2026 | 06:50 WIB
Kepala Dikes Kota Mataram dr. Emirald Isfihan saat turun mengecek distribusi MBG.
Kepala Dikes Kota Mataram dr. Emirald Isfihan saat turun mengecek distribusi MBG.


LombokPost
 – Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dr. Emirald Isfihan, turun langsung melakukan pemantauan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pasca libur panjang Natal dan Tahun Baru. Pemantauan dilakukan untuk memastikan distribusi MBG kembali berjalan optimal sejak hari ini.

“Distribusi MBG mulai berjalan kembali hari ini (kemarin, Red). Kami ingin memastikan anak-anak benar-benar menerima makanan yang sesuai standar,” ujar dr. Emirald, Kamis (8/1). 

Sebelumnya, pemantauan telah dilakukan di tingkat SMP dan SD. Kali ini, fokus diarahkan ke jenjang pendidikan paling bawah, yakni TK dan PAUD. 

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah TK Mutiara, di Sekarbela. Di lokasi tersebut, menu MBG yang disajikan dinilai cukup baik dan sesuai standar gizi.

Terdiri dari nasi, ayam goreng, tahu goreng, capcay, sayuran, serta dilengkapi susu. “Komposisi menunya cukup bagus dan layak untuk anak-anak,” terangnya.

Selain memastikan kualitas menu, tujuan utama turun langsung ke sekolah adalah melakukan edukasi. Selama ini, belum ada sistem pemantauan yang dilakukan secara terus-menerus saat makanan diterima. 

Karena itu, pihak sekolah, guru, dan siswa didorong untuk ikut berperan aktif. Guru diakui tidak mungkin memeriksa satu per satu makanan yang diterima siswa karena jumlah ompreng atau piring nasi jumlahnya mencapai ratusan di setiap sekolah. 

Oleh sebab itu, disiapkan edukasi dan SOP sederhana agar siswa, termasuk anak TK, dapat melakukan pengecekan mandiri sebelum mengonsumsi makanan. “Anak-anak kami ajarkan melihat secara kasat mata apakah ada hal mencurigakan, seperti ulat, makanan terlalu lembek, atau tampak tidak layak. Mereka juga diajarkan mencium bau makanan, apakah ada aroma tidak sedap atau tanda-tanda basi, serta meraba teksturnya,” jelasnya.

Edukasi sederhana ini dinilai penting mencegah risiko keracunan massal, sakit perut, atau gangguan kesehatan lainnya akibat makanan yang tidak layak konsumsi. Sebelumnya, dikes telah membangun komunikasi dengan Dinas Pendidikan untuk mengoptimalkan peran UKS dalam melakukan pengecekan makanan MBG.

 Namun, faktanya tidak semua sekolah memiliki UKS yang aktif. “Sekolah yang punya UKS bisa melakukan pengecekan lewat UKS. Tapi bagi sekolah yang tidak memiliki UKS, kita dorong pengecekan mandiri. Karena itu, edukasi langsung ke anak-anak menjadi sangat penting,” ujarnya.

Pemerintah saat ini juga terus menambah waktu dan tenaga memperluas edukasi langsung ke sekolah-sekolah. Harapannya, kesadaran dan kebiasaan pengecekan mandiri dapat tumbuh sejak dini.

Pemilihan TK Mutiara juga dimaksudkan sebagai contoh. “Kami ambil titik-titik strategis yang diharapkan bisa menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam melakukan pengecekan makanan MBG,” katanya. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #Makan Bergizi Gratis #Pemeriksaan Makanan #TK Mutiara #edukasi anak