LombokPost – Pelaksanaan Full Day School (FDS) di Kota Mataram memasuki hari ketiga, terus mendapat perhatian dari legislatif. Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram Nyayu Ernawati, menegaskan keberhasilan FDS tidak hanya ditentukan perubahan jam belajar, tetapi juga kesiapan sarana dan prasarana sekolah.
“Yang utama itu sekolah harus menyiapkan sarana dan prasarana,” ujarnya, Rabu (14/1).
Menurut Nyayu, durasi belajar yang lebih panjang membuat sekolah wajib memastikan kebutuhan dasar siswa benar-benar terpenuhi. Ia mengingatkan agar pelaksanaan FDS tidak membebani anak secara fisik maupun kesehatan.
Politisi PDI Perjuangan tersebut menilai, kebijakan FDS akan sulit berjalan optimal jika fasilitas penunjang belum memadai. Terlebih, anak-anak berada di lingkungan sekolah hampir seharian penuh, dari pagi hingga sore.
Nyayu juga menyinggung keberadaan program makan bergizi gratis (MBG) yang telah berjalan. Ia berharap program tersebut benar-benar dijalankan sesuai tujuan awal, yakni memastikan kecukupan gizi siswa selama mengikuti pembelajaran sehari penuh.
“Kan sudah ada MBG, semoga betul-betul bergizi,” tekannya.
Ia menekankan, kualitas makanan menjadi faktor penting menjaga stamina dan konsentrasi anak. Tanpa asupan gizi yang cukup, siswa berpotensi mengalami kelelahan, kantuk berlebihan, bahkan gangguan kesehatan.
Selain makanan, perhatian serius juga diarahkan pada kebutuhan cairan tubuh. Nyayu meminta sekolah menyiapkan galon air minum yang mudah diakses oleh anak-anak selama berada di sekolah.
“Supaya anak-anak cukup membawa tempat air minum dari rumah,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan membawa botol minum sendiri akan lebih efektif jika sekolah menyediakan air minum yang aman. Dengan demikian, siswa tidak perlu membeli minuman di luar yang belum tentu sehat.
“Yang penting anak-anak tidak sampai dehidrasi. Ini kelihatannya sepele, tapi dampaknya besar,” tegasnya.
Ia menilai, risiko dehidrasi cukup tinggi mengingat aktivitas siswa dalam skema FDS lebih padat, baik di dalam kelas maupun saat mengikuti kegiatan luar ruang. Kondisi ini harus diantisipasi sejak awal oleh pihak sekolah dan pemerintah daerah.
Nyayu juga mengingatkan agar evaluasi pelaksanaan FDS tidak hanya berfokus pada aspek akademik. Menurutnya, kesehatan dan kenyamanan anak harus menjadi indikator utama dalam menilai keberhasilan program ini.
“Jangan sampai semangat memperbaiki sistem pendidikan, tapi kebutuhan dasar anak terabaikan,” katanya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin