Lima tahun lebih berlalu, tangan-tangan itu tentu lelah. Tapi di Karang Taliwang, lelah justru menjadi tanda, masih ada remaja yang memilih bergerak dengan kepedulian.
---
DI Karang Taliwang, pengabdian sosial tak selalu lahir dari rapat resmi atau proposal panjang. Ia bisa bermula dari obrolan ringan, dari tawa di sela nongkrong, dari pertemuan yang awalnya tak punya niat apa-apa kecuali kebersamaan.
“Dari situlah komunitas ini tumbuh,” kisah Irwansyah atau yang beken disapa Iwan Icos, pada Lombok Post, Rabu (21/1).
Sudah lebih dari lima tahun, sekelompok pemuda ini konsisten bergerak membantu warga. Dari sekadar salaman dan diskusi, kini tangan-tangan mereka terbiasa memikul karung sembako, mendorong kursi roda, hingga membersihkan kuburan warga.
Nama Tau Ditaqn diambil dari bahasa Taliwang—serapan Sumbawa—yang berarti orang kita. Sederhana, tapi tepat menggambarkan arah gerak mereka: untuk warga sendiri.
Baca Juga: Kreasi Lokal Tembus ke Pasar Global, Inilah Perjalanan Inspiratif Baiq Andrea Asal Lombok Tengah
“Awalnya cuma nongkrong-nongkrong biasa. Terus muncul obrolan, ayo kita bikin yang positif,” imbuhnya.
Dari obrolan itu lahir kegiatan gotong royong yang mereka sebut PERKUSI akronim dari persiq kubir sambil diskusi – bersihin kuburan sambil diskusi. Kerja fisik dan ruang pikir berjalan beriring.
“Habis itu kita duduk, ngobrol, bahas apa lagi yang bisa dikerjakan,” ujarnya.
Pelan-pelan, ruang gerak mereka meluas. Dari kuburan ke gang-gang kampung.
Baca Juga: Atasi Abrasi Pantai Ampenan, Pemkot Mataram Pastikan Pemasangan Riprap Mulai 2027
“Dari bersih-bersih ke berbagi. Dari spontanitas ke rutinitas,” terangnya.
Seiring waktu, gerakan kecil itu mulai dilirik. Donatur datang tanpa banyak seremoni.
Rutinitas pun terbentuk. Setiap Jumat, Tau Ditaqn konsisten membagikan bantuan. Ada sembako, snack, hingga kebutuhan lansia dan anak yatim.
“Kadang donasinya kecil, kadang besar. Tapi tetap jalan,” terangnya.
Baca Juga: Butuh Healing? Ini 5 Rekomendasi Drama Tiongkok yang Hangat dan Menyentuh Hati
Para donatur kebanyakan datang dari warga sekitar: pemilik warung ayam bakar, pedagang kecil, hingga warga yang mengenal Tau Ditaqn lewat media sosial.
Akun Instagram dan Facebook komunitas menjadi etalase transparansi. “Semua kita posting. Biar orang tahu bantuannya ke mana,” ujarnya.
Dari sana pula bantuan lain mengalir. Sesekali datang dari instansi pemerintah: kursi roda, perlengkapan kebersihan, hingga alat-alat yang kemudian menjadi inventaris bersama.
Jumlah anggota aktif tak lagi sebanyak awal berdiri. Dulu puluhan orang kerap hadir lengkap dengan seragam.
Baca Juga: Butuh Healing? Ini 5 Rekomendasi Drama Tiongkok yang Hangat dan Menyentuh Hati
Kini, sebagian merantau, bekerja di Gili, atau sibuk dengan keluarga. “Tapi Jumat tetap hidup,” tekannya.
Jika ada rezeki masuk, mereka saling menghubungi. Setelah salat Jumat, kumpul kembali, lalu bergerak.
“Yang penting jalannya,” ujarnya singkat.
Di Karang Taliwang, sebenarnya ada komunitas kepemudaan lain. Namun, dalam praktiknya, aktivitas sosial sering bertumpu pada jejaring yang sama: anak-anak muda yang tak betah diam melihat kebutuhan sekitar.
Baca Juga: Cuaca Buruk di Mataram, Sawah Rebah tapi Belum Ada Panen Gagal
Salah satu kisah yang kerap dikenang adalah saat Tau Ditaqn membutuhkan kendaraan operasional. Dana terbatas tak membuat mereka berhenti.
Kaos komunitas dicetak, lalu dijual ke warga. Hasilnya cukup untuk membeli sebuah motor Caesar bekas.
Motor itu diservis bersama—kebetulan ada anggota yang bekerja di bengkel. “Bukan soal motornya, tapi soal rasa memiliki,”
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin