LombokPost - Kehilangan rumah serta hanyutnya seragam dan buku pelajaran akibat banjir rob di Pesisir Bintaro, Rasiya Ariya Putra mendapat kunjungan dari teman-teman sekelas dan wali kelasnya. Kehadiran mereka membawa bantuan dn juga menjadi pelukan hangat yang memulihkan semangat bocah kelas 6 SDN 5 Ampenan tersebut setelah dihantam musibah.
Debur ombak Selat Lombok yang biasanya menjadi pengantar tidur bagi warga Pesisir Bintaro, menyisakan trauma. Di antara puing batako yang berserakan dan sisa-sisa kayu yang dihantam banjir rob, berdiri seorang bocah dengan tatapan kosong. Rasiya Ariya Putra (12), siswa kelas 6 SDN 5 Ampenan, hanya bisa terdiam menatap rumahnya yang kini tak lagi memiliki dinding.
Pemandangan mengharukan, belasan anak laki-laki dan perempuan berseragam putih dan mengenakan peci hitam datang menyerbu. Mereka bukan datang untuk bermain bola di pinggir pantai, melainkan untuk menjemput senyum sahabat mereka yang hilang bersama arus.
“Rasya, yang sabar ya,” bisik salah satu temannya sambil merangkul pundak Rasiya dengan erat, Jumat (24/1).
Baca Juga: Banjir Rob Kembali Menghantam Rumah Warga Pesisir Ampenan
Rasiya yang sedari tadi tegar, akhirnya tertunduk. Air matanya jatuh, kali ini bukan karena takut, melainkan karena merasa tak sendirian.
Banjir rob yang menerjang dua hari lalu memang tak menyisakan banyak hal bagi keluarga Rasiya. Ia menceritakan bagaimana air laut naik begitu cepat dan menyapu seluruh harta benda miliknya.
“Dua hari sudah tidak sekolah. Baju sekolah hilang semua, hanyut. Buku-buku juga tidak ada yang tersisa,” kata Rasiya saat ditemui di sela-sela kunjungan teman-temannya.
Rumah yang dulu menjadi tempatnya belajar kini tinggal kerangka. Pintu-pintu terlepas, dan pasir laut memenuhi setiap sudut ruangan yang tersisa. Rasiya menceritakan, saat kejadian, ia sedang berada di luar bersama adiknya. Beruntung, ia dan keluarganya selamat meski kini harus menumpang di rumah tetangga karena hunian mereka tak lagi layak ditinggal.
Kehadiran teman-teman sekolah dan sepermainannya menjadi obat. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Beberapa bantuan dari sekolah, seperti seragam baru, mulai berdatangan untuk memastikan Rasiya bisa segera kembali ke bangku kelas. Apalagi, sebagai siswa kelas 6, ujian akhir sudah membayang di depan mata.
Baca Juga: Jalan Pesisir Kampung Bugis Hilang, 10 Ribu Geobag Jadi Tumpuan Terakhir
“Rasanya terhibur sekali didatangi teman-teman,” ucap Rasiya singkat, sambil menyeka air matanya.
Senyum tipis mulai muncul di wajahnya saat teman-temannya mulai melontarkan candaan ringan untuk mengalihkan perhatiannya dari puing-puing rumah di belakangnya.
Rasiya kini hanya berharap bisa segera mendapatkan buku pelajaran baru untuk menyongsong ujiannya.
Teman-teman Rasiya tidak datang sendiri, mereka didampingi oleh wali kelas mereka, Made Resini. Ibu Made Resini menuturkan, inisiatif kunjungan ini murni datang dari rasa empati para siswa.
“Begitu ibunya Rasiya mengabari kondisi rumah yang menyedihkan lewat grup kelas, anak-anak langsung bergerak. Mereka bilang, 'Bu, ayo kita ke rumah Rasiya, kami mau kasih sumbangan',” ujar Made Resini saat mendampingi murid-muridnya di lokasi kejadian.
Bagi Made, musibah yang menimpa Rasiya bukan sekadar bencana alam, melainkan momentum penting untuk menanamkan pendidikan karakter bagi siswa lainnya.
“Ini bentuk empati luar biasa dari anak-anak. Di sini mereka belajar tentang kepedulian sesama dan bagaimana menjaga lingkungan. Saya bangga mereka punya rasa peduli yang tinggi terhadap temannya,” tambahnya.
Kondisi rumah Rasiya memang sangat memprihatinkan. Harta benda, termasuk seragam dan buku-buku sekolah, hanyut tak bersisa. Hal ini membuat Rasiya sempat tak masuk sekolah selama dua hari. Namun, berkat koordinasi sekolah, bantuan mulai mengalir.
“Sekolah sudah berinisiatif mengumpulkan sumbangan dari kelas-kelas lain juga. Kami ingin memastikan Rasiya bisa segera kembali belajar karena ujian sudah dekat,” pungkasnya.
Editor : Marthadi