Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Banjir Rob dan Gelombang Tinggi Kembali Mengintai, Ratusan Warga Pesisir Ampenan Terancam!

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 2 Februari 2026 | 15:15 WIB

Tangkapan layar video amatir warga yang merekam momen gelombang tinggi hantam pemukiman warga di Pondok Perasi, Rabu (28/1).
Tangkapan layar video amatir warga yang merekam momen gelombang tinggi hantam pemukiman warga di Pondok Perasi, Rabu (28/1).

LombokPost
 – Suara debur ombak yang menghantam pesisir Pondok Perasi dan Kampung Bugis, masih menyisakan rasa takut bagi warga. Setiap gelombang besar datang, air laut dengan cepat merangsek masuk ke sela-sela rumah, membuat penghuni hanya bisa bersiap menyelamatkan diri.

“Saya benar-benar takut kalau ombak besar datang lagi. Air bisa langsung masuk ke rumah, rumah terasa bergetar. Kami bingung, mau selamatkan barang atau langsung lari,” ungkap warga Pondok Perasi, Aswi Asna, Jumat (30/1). 

Pada Rabu (28/1) siang, gelombang tinggi itu kembali menghantam pesisir Pondok Prasi. Meskipun dalam dua hari kemudian gelombang tinggi mereda, tidak ada yang menjamin ancamannya telah usai. 

“Kami belum bisa tenang,” ungkapnya. 

Menurut Aswi, kondisi tersebut bukan pertama kali terjadi. Namun intensitas gelombang kali ini dinilai lebih besar dibandingkan sebelumnya, sehingga kerusakan yang ditimbulkan semakin parah.

Di kawasan pantai Kampung Bugis, laporan serupa juga masuk. Terjangan ombak yang dilaporkan mencapai lebih dari dua meter itu menyebabkan sedikitnya 20 rumah warga mengalami kerusakan berat.

Rumah-rumah yang berada paling dekat dengan garis pantai menjadi titik terparah terdampak hempasan gelombang laut. Pelaksana Tugas (Plt) Kalak BPBD Kota Mataram Ahmad Muzaki, membenarkan jumlah tersebut. Ia mengatakan kerusakan dipicu gelombang tinggi yang menghantam permukiman pesisir.

“Total ada 20 rumah warga yang rusak berat akibat banjir rob. Kerusakan terjadi setelah diterjang gelombang tinggi,” kata Muzaki.

Ia memperkirakan potensi banjir rob masih bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Seiring mendekatnya fase bulan purnama yang memicu pasang maksimum air laut akibat pertemuan gaya gravitasi bulan dan matahari.

Untuk penanganan sementara, BPBD bersama instansi terkait telah menyiapkan tenda darurat bagi warga yang rumahnya tidak bisa ditempati. Sebagian warga juga memilih mengungsi ke rumah keluarga terdekat.

“Di dekat TK PAUD ada tiga KK yang tinggal di tenda, dan kami juga bangunkan tenda di Bintaro,” jelasnya.

Selain dampak banjir rob, BPBD juga mencatat 20 rumah warga mengalami kerusakan ringan akibat angin puting beliung di wilayah Kecamatan Sekarbela, Ampenan, dan Monjok. Penanganan awal dilakukan dengan mendistribusikan seng dan spandek.

Untuk pola perbaikan rumah rusak berat akibat gelombang tinggi, Muzaki menyebut akan ditangani Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim). Skema bantuan mengacu pada ketentuan BNPB, yakni Rp 15 juta untuk rusak ringan, Rp 30 juta untuk rusak sedang, dan Rp 65 juta untuk rusak berat, dengan teknis pelaksanaan melibatkan unsur PUPR.

Sementara itu, Dinas Sosial membuka dapur umum guna memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak. Sekitar 600 porsi makanan disiapkan setiap hari dan dibagikan kepada warga, khususnya mereka yang tidak dapat memasak di rumahnya.

Plt Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Lalu Samsul Adnan, mengatakan dapur umum direncanakan beroperasi selama tujuh hari. Anggaran sekitar Rp 100 juta dan dapat diperpanjang jika cuaca ekstrem masih berlanjut.

“Kami fokus pada warga yang terdampak langsung, terutama yang rumahya tidak bisa ditempati,” pungkasnya. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kampung BUgis Ampenan #banjir rob Mataram #Pondok Perasi #gelombang tinggi NTB #rumah rusak pesisir