Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Api Hampir Padam, Air Laut Masuk, Dapur Umum Bintaro Tetap Memasak

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 2 Februari 2026 | 16:19 WIB
Para relawan dapur umum Dinas Sosial Kota Mataram tengah membungkus nasi untuk warga terdampak gelombang tinggi dan abrasi.
Para relawan dapur umum Dinas Sosial Kota Mataram tengah membungkus nasi untuk warga terdampak gelombang tinggi dan abrasi.

 

 

Angin laut berembus keras di kawasan Bintaro, Ampenan. Tenda dapur umum milik Tagana Dinas Sosial Kota Mataram berdiri beberapa meter dari garis pantai yang terus tergerus abrasi!

----

BERHADAPAN langsung dengan cuaca yang sejak beberapa hari terakhir sulit diprediksi, tenda warna Biru itu tetap berdiri kokoh. Di dalam tenda, belasan panci besar berjajar di atas kompor gas. 

Uap nasi mengepul, bercampur aroma bawang dan bumbu tumis. Sejumlah relawan bergerak cepat, sebagian mengaduk kuali, sebagian memotong bahan, sebagian lagi menyiapkan bungkusan nasi.

“Awalnya diminta 300 bungkus. Lalu ditambah jadi 320,” kata Siti Aisyah, Kamis (28/1). 

Ia terlihat lebih sering mondar-mandir, memastikan setiap titik kerja berjalan. Selama tujuh hari terakhir, Siti Aisyah menjadi koordinator dapur umum yang melayani warga terdampak gelombang tinggi dan abrasi hebat di kawasan pesisir Bintaro.

Angka itu, menurutnya, bukan batas kaku. Di lapangan, kebutuhan sering bergerak mengikuti kondisi warga yang datang silih berganti.

“Kadang sehari bisa lebih dari 400 bungkus,” ujarnya.

Sekitar 40 relawan terlibat aktif setiap hari. Mereka datang bergantian, menyesuaikan waktu dan tenaga yang dimiliki.

Siti Aisyah sendiri hampir tidak pernah benar-benar meninggalkan dapur. “Saya tidak mungkin ninggalin dapur karena saya yang mengoordinir teman-teman,” tekannya.

Baca Juga: Tinjau SD 10 Mataram, Wakil Ketua Komisi DPRD Soroti Minimnya Fasilitas Ibadah

Sejak subuh, ia sudah berada di lokasi. Sekitar pukul enam pagi, proses memasak dimulai agar makan siang dapat terdistribusi tepat waktu.

“Kalau tidak masak pagi, bisa-bisa warga baru makan jam dua siang,” ujarnya.

Cuaca menjadi tantangan paling berat sejak hari pertama. Ia masih mengingat bagaimana nasi tak kunjung matang dari siang hingga sore karena angin yang terlalu kencang membuat api kompor tidak stabil.

“Sejak itu, seluruh kompor dipindahkan ke dalam tenda agar terlindung dari terpaan angin,” ucapnya. 

Baca Juga: Pasar Saham Bergejolak, Sentimen Negatif Picu Kekhawatiran Investor

Masalah tidak berhenti di situ. Beberapa kali, air laut naik hingga menggenangi sekitar dapur.

“Tadi (kemarin, Red) sempat kemasukan air laut, sampai kita evakuasi barang-barang dapur,” katanya.

Air memang surut menjelang sore, tetapi hujan kembali turun ketika relawan masih sibuk membungkus nasi. Di tengah kondisi seperti itu, dapur umum tetap berjalan.

Bagi Tagana, berhenti memasak bukan pilihan. “Yang penting warga bisa makan dulu,” katanya. 

Baca Juga: Pasar Saham Bergejolak, Sentimen Negatif Picu Kekhawatiran Investor

Kalimat itu bukan sekadar prinsip kerja, melainkan fondasi dari seluruh aktivitas dapur umum di Bintaro. Di tenda sederhana itu, di antara angin kencang dan bau laut, kerja-kerja kemanusiaan berlangsung tanpa banyak suara.

Dan cerita dapur umum tidak berhenti pada panci dan kompor. Ia berlanjut pada orang-orang yang datang ke sana.

“Ada juga anak-anak nelayan yang datang, tetap kita layani,” ungkapnya. (Bersambung/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Abrasi Pesisir #Gelombang Tinggi #dapur umum Bintaro #relawan Tagana #bantuan warga