Aroma legit durian premium asal Lombok Utara, durian lokal, dan bermacam jenis durian lainnya menyulap Taman Loang Baloq menjadi lautan massa yang rela mengantre demi mendapatkan Musang King dan Oci dengan harga petani. Festival dua hari ini menjadi ajang pembuktian kualitas durian lokal sekaligus menjadi solusi bagi pengunjung yang menginginkan buah berkualitas dengan harga yang jauh lebih miring dibanding pasar kota.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Aroma khas durian yang menyengat namun menggoda menyeruak di antara semilir angin pantai Taman Loang Baloq, Mataram. Di bawah tenda putih-hijau yang berjejer, ratusan butir durian dengan berbagai ukuran tersaji rapi di atas meja berlapis kain hitam. Para pencinta "Si Raja Buah" berkumpul, berdesakan, hingga rela mengantre demi mencicipi legitnya durian lokal unggulan.
Salah satu lapak yang paling menyedot perhatian adalah milik Adrian, seorang pemuda asal Kabupaten Lombok Utara (KLU). Mengenakan kaus hitam bertuliskan "Star Wars" dan kupluk hitam yang modis, Adrian tampak sibuk melayani pembeli yang tak henti-hentinya menunjuk ke arah buah berduri tersebut. Ia penjual dari bos nya yang seorang pelopor budidaya durian jenis Oci dan Musang King di wilayah Lombok Utara.
“Sangat membantu buat kita promosi. Terutama kami dari petani yang benar-benar dari pelosok. Akhirnya banyak yang mengenal kebun dan varietas kami,” ujar Adrian, Senin (2/2).
Baca Juga: Gandeng Swasta, Festival Durian Dinilai Ampuh Hidupkan Wisata Loang Baloq
Selama ini di KLU, ia seringkali harus berhadapan dengan harga dari para pengepul. Varietas premium seperti Musang King dan Oci seringkali hanya dihargai sekitar Rp 120.000 per kilogram oleh pengepul di desa. Namun, begitu menginjakkan kaki di Mataram, Adrian baru menyadari betapa tinggi nilai jual hasil keringatnya.
Di pasar kota, harga Musang King bisa mencapai Rp 250.000 per kilogram. Memanfaatkan momentum festival, Adrian memilih jalan tengah yang manis bagi konsumen, ia mematok harga Rp 180.000 per kilogram.
Harga yang lebih miring dari harga pasar kota ini tak pelak membuat lapaknya diserbu warga. Terlihat suasana begitu riuh. Ibu-ibu yang menggendong anak hingga bapak-bapak berseragam dinas tampak asyik memilah durian. Adrian dengan cekatan memegang sebuah durian berukuran sedang, menunjukkan kualitas kulit dan bobotnya kepada calon pembeli yang tampak sangat berminat.
“Kemarin kami bawa sekitar 50 biji, habis. Hari ini baru bawa 10 biji juga langsung ludes. Banyak yang protes karena tidak kebagian,” kata Adrian sambil tertawa kecil.
Kualitas durian dari KLU ini memang tidak main-main. Adrian mengklaim perawatan ekstra mulai dari penanaman hingga pemupukan menjadi kunci mengapa duriannya masuk dalam kategori premium.
Selain Musang King dan Oci, kebunnya juga menghasilkan varietas Kane dan Montong.
Festival di Taman Loang Baloq ini bukan sekadar ajang jual beli, melainkan panggung bagi petani pelosok seperti Adrian untuk menunjukkan bahwa durian lokal NTB punya kelas yang sejajar dengan varietas impor.
Tak hanya para penjual yang meraup untung, gairah festival ini juga dari para pengunjung. Fina, seorang pencinta durian asal Kota Mataram, tampak antusias memilah buah-buah lokal yang dijajakan. Kedatangannya ke Taman Loang Baloq memang sudah direncanakan sejak mendengar kabar adanya festival yang hanya berlangsung selama dua hari tersebut.
"Sengaja ke sini karena hari ini terakhir, infonya kan tanggal satu sampai dua saja," ujarnya.
Baginya, konsep festival memberikan keuntungan tersendiri bagi konsumen. Dengan banyaknya pedagang yang berkumpul di satu titik, persaingan harga dan kualitas menjadi lebih kompetitif dibandingkan membeli di pinggir jalan biasanya.
Fina yang sudah sering berburu durian hingga ke Ampenan dan Gerung ini mengaku lebih tertarik dengan durian lokal yang ditawarkan dalam festival kali ini.
“Harusnya lebih enak karena banyak saingannya di sini. Saya dapat harga Rp 35.000, itu hitungannya murah untuk durian lokal,” tambahnya.
Meski baru mencoba di hari penutupan, Fina berharap ajang serupa bisa menjadi agenda rutin tahunan di Mataram. Ia memimpikan festival di masa depan bisa menghadirkan lebih banyak jenis durian, termasuk varietas dari luar daerah, meskipun durian lokal tetap menjadi juara di hatinya.
“Semoga tahun-tahun selanjutnya ada terus, biar kita makin tahu banyak jenis durian yang enak-enak,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa