Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kilau Emas Bebani Inflasi di Kota Mataram 

Sanchia Vaneka • Rabu, 4 Februari 2026 | 07:32 WIB

 

Harga emas picu inflasi di Kota Mataram
Harga emas picu inflasi di Kota Mataram
 

LombokPost - Ekonomi Kota Mataram di awal tahun 2026 rupanya sedang silau oleh kilau harga emas. Logam mulia yang harganya terus meroket di pasar global ini menjadi biang kerok utama yang memicu kenaikan inflasi tahunan di ibu kota NTB ini. 

“Emas ini pengaruhnya sangat masif karena sifatnya nasional bahkan global. Begitu harga emas dunia melonjak, dampaknya langsung terasa ke daerah, termasuk kita di Mataram,” kata Asisten II Setda Kota Mataram Miftahurrahman. 

Miftah mengungkapkan, dinamika ini sulit dihindari karena dipengaruhi oleh mekanisme pasar global. Bayangkan saja, harga emas kini sudah menembus angka fantastis Rp 3,3 juta per gram. 

 Baca Juga: Inflasi NTB Tembus 3,86  Persen, Emas Jadi Penyebab Utama

Berdasarkan data terbaru yang dirilis usai rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Mataram, inflasi tahunan (year on year) Mataram tercatat merangkak naik ke angka 3,69 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,48 persen jika dibandingkan dengan posisi inflasi pada tahun 2025 yang bertengger di angka 3,21 persen.

Tak hanya emas, perut warga Mataram juga sedikit tertekan dengan adanya penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) beras. Komoditas pokok ini mengalami kenaikan dari Rp 12.500 menjadi Rp 13.500 per kilogram. Kenaikan seribu rupiah ini nyatanya memberikan andil yang cukup signifikan terhadap angka inflasi secara keseluruhan.

 Belum lagi berakhirnya masa subsidi listrik. Kebijakan pemerintah pusat yang menghentikan diskon 50 persen bagi pelanggan daya 450 VA hingga 2.200 VA membuat tarif kembali ke posisi normal.  

“Normalisasi tarif listrik ini turut menopang kenaikan inflasi secara nasional, dan Mataram terkena imbasnya,” tambahnya.  

Meski dibayangi kenaikan harga emas dan beras, warga Mataram setidaknya bisa sedikit bernapas lega. Pasalnya, inflasi di Kota Mataram tercatat masih yang paling rendah dibandingkan kabupaten/kota lain di NTB. Jika inflasi provinsi berada di angka 3,86 persen, Mataram masih mampu bertahan di level 3,69 persen.

Keberhasilan menahan laju inflasi ini tak lepas dari intervensi taktis melalui program Gerakan Kolaborasi Pasar Keliling (Kopling).

Di saat inflasi tahunan naik, inflasi bulanan (month to month) justru menunjukkan tren deflasi atau penurunan harga, terutama pada komoditas hortikultura.

“Harga cabai merah dan tomat justru turun. Ini membuktikan program Kopling yang kita gelar sejak Januari sangat efektif. Kita jemput bola ke masyarakat untuk memastikan ketersediaan stok dengan harga terjangkau,” tegasnya.

Baca Juga: Kerja Sampingan Jadi Sabuk Pengaman di Tengah Ketidakpastian

Sementara itu, Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram Sri Wahyunida, memastikan stok bahan pangan di pasar-pasar tradisional masih dalam kategori aman. Pihaknya terus melakukan pemantauan ketat agar tidak ada oknum yang bermain harga di tengah situasi transisi ekonomi awal tahun ini.

“Sejauh ini bahan pokok lainnya masih sangat terkendali. Belum ada lonjakan yang mengkhawatirkan di luar beras,” kata Sri.

Menghadapi bulan suci Ramadan yang sudah di depan mata, Pemkot Mataram sudah menyusun strategi perang melawan spekulan. Program Kopling akan diintensifkan di berbagai titik pemukiman warga. Tujuannya satu, yakni untuk memastikan masyarakat bisa beribadah dengan tenang tanpa harus dipusingkan oleh harga dapur yang mencekik. 

 

 

 

 

Editor : Akbar Sirinawa
#EMAS #harga emas #Inflasi #Mataram #Dinas Perdagangan