Di sisi barat kawasan Islamic Center Mataram, siang tidak pernah benar-benar sepi. Di bawah deretan pohon yang menaungi taman, motor-motor dengan gerobak kecil berpayung berjejer rapi.
----
AROMA kopi lebih dulu menyapa sebelum percakapan terdengar. Satu per satu mahasiswa dan pelajar datang, sebagian membawa buku, sebagian lagi laptop.
Mereka duduk di taman, membuka halaman bacaan, lalu memesan segelas kopi hitam atau es kopi susu. “Enak, ngopi ini,” celetuk seorang remaja menghampiri salah satu gerobak kopi.
Tak ada perbincangan panjang. Remaja itu cuma menunjuk, pilihan menu dan pedagang yang juga remaja mulai mengerjakan tugasnya.
Di sisi lain, para pedagang kopi keliling menunggu dengan santai. Tidak ada teriakan menawarkan dagangan.
Tidak ada saling sikut. “Di sini kami sama-sama cari makan. Rezeki sudah ada yang atur,” ujar Rizal (34), salah satu pedagang kopi keliling, mulutnya menghisap lalu kemudian asap mengepul.
Ia mengaku, Islamic Center bagian barat menjadi titik favorit karena suasananya teduh dan ramai anak muda. “Kalau siang sampai sore biasanya mahasiswa banyak. Mereka baca buku, diskusi, atau cuma nongkrong,” katanya.
Tidak hanya itu, keberadaan Islamic Center sebagai spot wisata tengah kota juga telah menyedot berbus-bus wisatawan religi yang datang. Ada yang dari luar kota, hingga luar daerah.
“Sumbawa, Jawa, Sumatra, Kalimantan, bahkan banyak juga wisatawan mancanegara,” ujarnya.
Seusai berkeliling, biasanya para wisatawan mampir sekadar ngopi atau mencari minuman segar. “Kopi juga ada varian segar,” imbuh pria asal Lombok Tengah itu.
Gerobak kopi motor kini memang menjadi pemandangan yang semakin lazim di Mataram. Modalnya relatif terjangkau.
Baca Juga: AC Milan Mulai List Nama Pemain Incaran, Persiapan Diboyong untuk Musim 2027 Mendatang
Mobilitasnya tinggi, dan pasarnya jelas: anak muda urban yang mencari kopi murah tapi tetap berkarakter.
Satu gelas kopi dijual mulai Rp5 ribu hingga Rp 20 ribu. Menu pun beragam.
Menariknya, meski secara usaha mereka bersaing, para pedagang ini justru membentuk komunitas kecil. Mereka saling berbagi informasi lokasi ramai, agenda kegiatan, hingga titik event yang potensial didatangi bersama.
“Kalau ada event kampus atau kegiatan di lapangan, biasanya kami saling kabar. Biar bisa datang bareng,” ujar Ardi (29), pedagang lain yang mangkal tak jauh dari Rizal.
Ia menyebut, dalam satu hari bisa ada lebih dari 10 gerobak kopi berjejer di sisi barat Islamic Center. Namun suasananya tetap cair.
Sesekali mereka saling bercanda, menanyakan hasil jualan hari itu. “Dapat berapa gelas hari ini?” tanya salah satu pedagang, disambut tawa ringan.
Bagi mereka, nongkrong bersama bukan sekadar menunggu pembeli. Ia menjadi ruang berbagi cerita.
Tentang keluarga, tentang harga yang naik, tentang harapan agar cuaca cerah supaya pembeli ramai. “Kalau saya gak bisa ikut naikan harga kecuali memang diperintah bos,” ucapnya lugu, menanggapi harga-harga yang mulai naik jelang puasa.
Di taman, sekelompok mahasiswa duduk melingkar. Buku-buku terbuka, kopi di tangan. “Enak di sini. Teduh, murah, dan bisa lama,” ujar Dinda, mahasiswi semester akhir yang sedang menyelesaikan skripsi.
Menurutnya, keberadaan kopi keliling membuat suasana belajar jadi lebih hidup. Tidak kaku seperti di dalam kelas, tidak pula semahal kafe.
Fenomena kopi keliling memang menjadi bagian dari wajah baru ekonomi mikro perkotaan. Ia fleksibel, adaptif, dan dekat dengan ruang-ruang publik.
Di Islamic Center, denyut itu terasa jelas. Di satu sisi berdiri megah kubah dan menara sebagai simbol religiusitas.
Di sisi lain, di bawah pohon rindang, geliat ekonomi rakyat bergerak pelan tapi pasti. Menjelang sore, bayangan pohon semakin panjang.
Beberapa pedagang mulai merapikan perlengkapan. Sebagian masih bertahan menunggu pembeli terakhir.
“Kita di sini bukan cuma jual kopi. Kita jual suasana,” kata Rizal.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin