Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Remaja Adu Panco Berujung Pembubaran di Sayang-Sayang, Camat Cakranegara: Tidak Ada Gangster!

Lalu Mohammad Zaenudin • Minggu, 22 Februari 2026 | 16:26 WIB

Aparat dari Kelurahan Sayang-Sayang mengimbau anak-anak agar segera pulang ke rumah setelah salat tarawih.
Aparat dari Kelurahan Sayang-Sayang mengimbau anak-anak agar segera pulang ke rumah setelah salat tarawih.

LombokPost – Aktivitas kerumunan remaja yang sempat ramai dibicarakan di media sosial pada Sabtu malam (21/2/2026) dipastikan bukan aksi gangster. Camat Cakranegara Irfan Syafindra S. menegaskan, kejadian yang terpantau di wilayahnya terjadi di Kelurahan Sayang-Sayang dan berawal dari ajang adu panco yang disertai taruhan antar kelompok pemuda.


“Kalau yang di Sayang-Sayang saya tahu. Awalnya itu adu panco, biasa ada taruhan. Mereka punya grup sendiri di media sosial, lalu janjian dan berkumpul di sana. Karena ramai, akhirnya dibubarkan,” ujar Irfan kepada wartawan, Minggu (22/2/2026).


Irfan meluruskan  pembubaran tersebut tidak berkaitan dengan isu keributan di Rembige yang juga beredar di media sosial. Menurutnya, wilayah Rembige berada di Kecamatan Selaparang sehingga tidak masuk laporan pemantauan Kecamatan Cakranegara.


“Kalau yang di Rembige saya tidak mantau karena itu wilayah Selaparang. Di laporan kami juga tidak ada kejadian seperti yang diklaim di sana,” tegasnya.


Ia menambahkan, situasi hingga Sabtu malam secara umum masih kondusif. Kerumunan yang muncul di Sayang-Sayang pun hanya memicu ketegangan saat petugas membubarkan massa, tanpa adanya korban luka.


“Keributan di Sayang-Sayang itu bukan tawuran, tapi karena dibubarkan. Tidak ada yang terluka,” katanya.


Terkait narasi gangster yang sempat viral, Irfan menyebut istilah tersebut tidak tepat digunakan untuk konteks Mataram. Menurutnya, karakter aksi gangster di sejumlah kota besar Jawa sangat berbeda dengan fenomena kerumunan remaja lokal yang biasanya sebatas tantangan permainan atau adu kekuatan.


“Kalau gangster itu mereka keliling bawa senjata, teror orang di jalan, bikin suasana mencekam. Di Lombok saya belum pernah lihat yang seperti itu. Di sini paling kelompok anak-anak kumpul, adu panco, balap lari, atau konvoi,” jelasnya.


Ia mengakui, kelompok pemuda yang sempat berkumpul di Sayang-Sayang tidak semuanya berasal dari wilayah setempat. Tantangan yang awalnya dipicu remaja lokal kemudian direspons kelompok lain dari sejumlah kawasan sekitar.


“Yang datang bukan hanya anak Sayang-Sayang. Ada juga dari Rembige, Kekeri, Gunungsari, bahkan wilayah lain. Karena lokasi itu dianggap sepi, jadi sering dipilih sebagai tempat kumpul,” ujarnya.


Selain di Sayang-Sayang, pihak kecamatan juga menerima informasi adanya konvoi sekitar 50 kendaraan pemuda di kawasan Mandalika. Namun aktivitas tersebut tidak berkembang menjadi konflik.


“Kelompok-kelompok ini kadang konvoi atau kumpul untuk kegiatan seperti adu panco atau balap lari. Tapi bukan gangster,” tegas Irfan.


Menanggapi informasi yang beredar di media sosial, termasuk unggahan yang menyebut adanya gangster di Rembige, Irfan menilai narasi tersebut berlebihan dan cenderung hoaks jika dikaitkan dengan kondisi di wilayah Cakranegara.


“Kalau disebut gangster di Mataram, menurut saya itu hoaks. Kondisi kita masih kondusif sampai semalam,” pungkasnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Camat Cakranegara #Adu panco Sayang Sayang #Isu gangster Mataram #Kondisi kamtibmas Mataram #Kerumunan remaja