LombokPost - Kecamatan Ampenan masih memegang rapor merah dalam peta kemiskinan di Kota Mataram.
Berdasarkan data terbaru Pemerintah Kota Mataram, wilayah yang dikenal dengan kawasan pesisirnya ini menempati posisi teratas dengan jumlah warga miskin ekstrem mencapai 6.549 Kepala Keluarga (KK).
Angka ini jauh melampaui kecamatan lain seperti Sandubaya 6.396 KK maupun Sekarbela yang berada di posisi buncit dengan 3.650 KK.
“Kalau kita bicara teman-teman nelayan di Bintaro, sebenarnya mereka itu suge-suge (kaya-kaya). Sekali melaut atau nembak ikan, mereka bisa bawa pulang Rp 1,5 juta. Masalahnya bukan di pendapatan, tapi di manajemen keuangan rumah tangga,” kata Camat Ampenan Muzakkir Walad.
Baca Juga: Pemkot Mataram Bidik Nol Persen Kemiskinan Ekstrem di 2029
Muzakkir mengungkapkan, tingginya angka kemiskinan, khususnya di Kelurahan Bintaro, bukan semata-mata karena ketiadaan penghasilan.
Fenomena yang ditemukan di lapangan justru menunjukkan adanya anomali perilaku ekonomi masyarakat.
Menurutnya, perilaku konsumtif menjadi musuh utama.
Akibatnya, banyak anak usia sekolah yang lebih memilih putus sekolah di jenjang SMP demi ikut melaut, karena tergiur uang instan namun tidak dibarengi dengan edukasi investasi atau tabungan.
Selain gaya hidup, Muzakkir menyoroti temuan baru yang mengejutkan dalam proses verifikasi data.
Baca Juga: Wasit dan VAR Seolah Bersatu Rugikan AC Milan, Ini Kata Marco Landucci
Banyak warga yang seharusnya masuk kategori sejahtera justru terjebak dalam data kemiskinan akibat aktivitas negatif di dunia digital.
“Setelah dilakukan verifikasi dan penyandingan data, ada indikasi warga terjebak judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol). Nama atau KTP mereka tersaring dalam sistem karena aktivitas itu. Persentasenya mungkin di bawah 10 persen, tapi ini nyata ada,” jelasnya.
Lurah Bintaro Rudy Herlambang membenarkan, wilayahnya kini menjadi perhatian serius pemerintah, baik kota maupun provinsi.
Berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS/DTSN), terdapat sekitar 3.377 KK di Bintaro yang tersebar dari desil 1 hingga 10.
“Untuk desil 1 atau yang masuk kategori kemiskinan ekstrem, ada sekitar 534 KK. Dari jumlah itu, sebanyak 345 KK akan mendapatkan pendampingan khusus dari Pemerintah Provinsi melalui program Kelurahan Berdaya,” jelasnya.
Rudy menambahkan, meski angkanya masih tinggi, ada tren positif berupa penurunan jumlah warga miskin yang cukup signifikan.
Baca Juga: LAZ Serahkan SK Pengurus Baru DPD PAN se-NTB, Optimistis Tambah Kursi DPRD di Pileg 2029
Terjadi pengurangan sekitar 500 KK dari data sebelumnya berkat proses verifikasi dan validasi faktual di lapangan.
“Angka penerima bantuan yang sebelumnya mencapai 1.900-an, kini berkurang. Sekarang posisi di Bintaro berada di angka 1.130 karena ada pengurangan 500 kemarin,” paparnya.
Editor : Kimda Farida