Di balik jeruji besi yang dingin, layanan video call Wartelsuspas (Warung Telekomunikasi Khusus Pemasyarakatan) menjadi tempat bagi warga binaan untuk tetap terhubung dengan hangatnya suasana keluarga di bulan suci Ramadhan. Fasilitas komunikasi digital ini hadir sebagai pemenuhan hak dasar sekaligus instrumen penguat moral bagi mereka yang sedang menempuh jalan hijrah di dalam lembaga pemasyarakatan.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Lantai ubin di salah satu sudut Lapas Kelas IIA Lombok Barat tampak lebih sibuk dari biasanya. Aroma takjil yang mulai disiapkan di dapur umum menyatu dengan riuh rendah suara percakapan dari deretan bilik kayu.
Di sana, seorang pria paruh baya dengan kaos hijau bertuliskan "Warga Binaan Pemasyarakatan" tampak terpaku pada layar monitor. Jemarinya sesekali menyentuh kaca, seolah ingin membelai wajah mungil seorang anak yang melambai di layar ponsel seberang.
“Jujur, kami sebagai warga binaan menjalani puasa di dalam sini kalau nggak dengar suara atau lihat wajah anak istri itu rasanya sepi banget. Tapi alhamdulillah, lewat video call di Wartelsuspas ini, rasa haus dan lapar seolah terbayar pas lihat anak saya senyum di layar,” kata salah seorang warga binaan dengan inisial O (30).
Dirinya juga berpesan kepada anak istrinya di rumah untuk tetap menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk. Dan tidak meninggalkan ibadah pada bulan suci ini.
“Tadi saya sempat pesan ke mereka buat rajin tarawih dan doakan saya supaya cepat pulang. Fasilitas ini benar-benar jadi penyemangat saya buat cepat bebas dan nggak mau mengulangi kesalahan lagi,” ujarnya.
Ramadhan memang selalu punya cara sendiri untuk memantik rindu. Bagi mereka yang raga-nya tertahan tembok tinggi, momen sahur dan berbuka bersama keluarga adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati lewat transmisi digital.
Baca Juga: Dikes Mataram Ancam Tarik SLHS SPPG MBG yang Bandel
Di sinilah peran Wartelsuspas dibutuhkan. Bukan lagi sekadar deretan telepon kabel yang usang, melainkan sarana video call yang mampu menghadirkan senyum orang tercinta secara visual.
Sejak pagi hari, warga binaan secara bergantian memanfaatkan fasilitas Wartelsuspas dengan pengawasan petugas. Suasana haru dan penuh kehangatan terlihat saat mereka berbincang dengan keluarga di kampung halaman, terlebih di bulan Ramadhan yang identik dengan kebersamaan.
Obat kangen, begitu mereka menyebutnya. Sebuah istilah sederhana yang menggambarkan betapa berartinya durasi singkat di depan layar tersebut.
Raut wajah yang mulanya tegang karena rutinitas pembinaan, seketika melunak saat sapaan Ibu atau Ayah terdengar dari speaker. Layanan ini menjadi suplemen mental yang krusial agar para penghuni tidak merasa terisolasi atau dilupakan oleh dunia luar selama menjalani masa pidana.
Baca Juga: Hujan Datang, Jalan Kalijaga Timur Jadi Kubangan
Kehadiran layanan ini bukan tanpa dasar. Negara menjamin hak komunikasi ini melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. Aturan tersebut menegaskan, setiap warga binaan berhak mendapatkan sarana untuk terhubung dengan keluarga maupun penasihat hukum.
Secara teknis, pelaksanaannya diperkuat melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS-06.OT.02.02 Tahun 2025. Standarisasi ini bertujuan untuk memastikan layanan dilakukan secara profesional sekaligus menekan peredaran ponsel ilegal di dalam sel.
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM NTB Agung Krisna mengungkapkan, menjaga kesehatan psikologis warga binaan adalah bagian tak terpisahkan dari proses pembinaan. Terutama di bulan Ramadhan, aspek spiritual dan dukungan emosional dari keluarga menjadi kunci keberhasilan transformasi perilaku mereka.
“Kami menyadari dukungan keluarga adalah faktor kunci dalam keberhasilan pembinaan. Melalui Wartelsuspas yang kini sudah mendukung video call, kami memberikan ruang bagi warga binaan untuk tetap terhubung secara visual dengan orang tercinta," ujar Agung.
Agung menambahkan, melihat langsung kondisi keluarga di rumah dapat menjadi suntikan moral yang luar biasa.
“Apalagi di bulan Ramadhan ini, melihat senyum keluarga bisa menjadi penguat moral bagi mereka untuk menjalani masa pidana dengan ikhlas dan menjadi pribadi yang lebih baik,” imbuhnya.
Selama bulan puasa, antrean di bilik video call memang cenderung meningkat. Pihak Lapas dan Rutan di wilayah NTB menyiasatinya dengan pengaturan durasi yang ketat namun adil agar semua penghuni mendapatkan kesempatan yang sama. Pengawasan pun dilakukan secara humanis oleh petugas. Selain memastikan tidak ada pembicaraan yang melanggar aturan, petugas juga berperan menjaga kenyamanan privasi warga binaan saat melepas rindu.
Editor : Akbar Sirinawa