Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menengok Para Lansia di Panti Jompo Mandalika saat Momentum Kemenangan Tiba

Sanchia Vaneka • Rabu, 25 Maret 2026 | 20:13 WIB

 


Lansia di Panti Jompo Mandalika
Lansia di Panti Jompo Mandalika

Menunggu Jemputan Keluarga 

 

Di balik tawa saat melantunkan tembang lawas Dian Piesesha, senyum kakek dan nenek yang memilih menghabiskan sisa usia dalam dekapan panti ketimbang meratapi rumah yang telah runtuh dimakan waktu.

Suara petikan gitar tipis-tipis nyaris tenggelam oleh riuh rendah tepuk tangan di sebuah aula berukuran sedang. 

Suasana pagi di Panti Jompo Mandalika beberapa waktu lalu mendadak semarak. Seorang nenek dengan kerudung merah marun maju ke depan. Nafasnya mungkin tak lagi panjang, namun suaranya saat melantunkan Tak Ingin Sendiri milik Dian Piesesha sanggup membungkam sunyi yang biasanya menggelayut di selasar panti.

 Baca Juga: Yayasan Insan Peduli Umat Santuni Anak Yatim dan Lansia di Pujut, Ratusan Warga Hadir

Tak mau kalah, seorang kakek menyusul dengan tembang Berkelana milik Rhoma Irama. Tawa pecah. Untuk sejenak, beban usia dan keterbatasan fisik mulai dari langkah yang harus ditopang kruk (alat bantu jalan) hingga pandangan yang mulai mengabur seolah menguap bersama udara pagi yang cerah.

Kegembiraan itu adalah potret persiapan mereka menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh pada pertengahan Maret 2026. Kehadiran para pengunjung, mulai dari istri pejabat hingga anggota DPD RI yang membawa bingkisan sembako, mengundang senyum hangat bagi 67 penghuni panti. 

Namun, di balik itu, ada perasaan yang lebih dalam untuk menerima bahwa pulang tak lagi memiliki alamat yang pasti.

Salah satunya adalah Ibu Rahmatullah. Lansia asal Kabupaten Lombok Tengah ini adalah anomali dari cerita penelantaran yang kerap kita dengar. Ia tidak dibuang oleh anak-anaknya. Ia justru mengantar dirinya sendiri ke panti setahun yang lalu. Sebuah keputusan besar dari seorang perempuan paruh baya yang merasa sudah selesai dengan urusan duniawi.

“Rumah saya hancur kena hujan dan angin. Mau ditempati tidak bisa, mau diperbaiki pun tidak ada biaya,” katanya Selasa (17/3). 

Ketimbang membiarkan sisa hidupnya terkubur bersama rumah reot itu, Rahmatullah memilih menyerahkan aset rumahnya kepada masjid setempat. Ia memilih pergi dengan tangan kosong menuju panti, dan yakin bahwa hidup sebatang kara bukan berarti harus berakhir sengsara.

Baca Juga: Srikandi PP NTB “Manjakan” Lansia, Dari Sekolah Mandiri hingga Umrah Gratis   

Lahir dari orang tua yang bercerai saat ia masih dalam kandungan, Rahmatullah tumbuh tanpa saudara. Pernikahannya pun tidak dikaruniai buah hati. Baginya, panti jompo bukan tempat pembuangan, melainkan hunian masa tua yang paling aman. 

“Alhamdulillah, di sini kamar sendiri, makanan terjamin, pakaian ada. Saya bahagia,” ucapnya. 

Bahkan, ia sudah menitipkan wasiat terakhirnya kepada pihak panti agar kelak jika ajal menjemput, jasadnya dimandikan di sana sebelum dihantarkan kembali ke masjid di kampungnya.

Baca Juga: Jika Money Oriented, AC Milan Pasti Lepas Strahinja Pavlovic dan Putar Uangnya untuk Beli Mario Gila

Di sudut lain, ada raut wajah yang meredup saat pembicaraan beralih ke soal mudik. Bagi mereka, Lebaran seringkali mendatangkan ingatan kesendirian. 

Kepala Seksi Bimbingan dan Rehabilitasi Sosial Baiq Wiwik Astuti menjelaskan, dari 67 lansia yang ada terdiri dari 40 perempuan dan 27 laki-laki tidak banyak yang bisa mencicipi hangatnya sungkeman di kampung halaman. Tahun ini, tercatat hanya sembilan orang yang dipulangkan sementara untuk merayakan kemenangan bersama keluarga.

“Kami memiliki jadwal pemulangan, mulai dari Lombok Timur hingga Kota Mataram. Tapi syaratnya keluarga harus siap menerima dan merawat mereka selama di sana,” jelas Wiwik.

Proses pemulangan ini seringkali menjadi momen emosional sekaligus dilematis. Pihak panti harus melakukan verifikasi ketat. Tak jarang, setelah didata, pihak keluarga justru menyatakan ketidaksiapan mereka untuk menampung kembali orang tua mereka, meski hanya untuk sepuluh hari. Jika sudah begitu, pintu panti tetap terbuka lebar sebagai tempat merayakan Lebaran paling hangat bagi mereka yang terlupakan.

Bagi sembilan orang yang beruntung, panti akan menjemput mereka kembali sepuluh hari pasca Lebaran. Kecuali, jika ada keluarga yang tiba-tiba terketuk hatinya untuk merawat secara permanen. 

“Kalau keluarganya mampu dan siap, tentu kami persilakan,” tambahnya. 

Setelah hari raya berlalu dan hiruk-pikuk kunjungan pejabat mereda, Panti Jompo Mandalika kembali ke rutinitasnya. Bagi Ibu Rahmatullah dan puluhan lansia lainnya, setiap hari di panti adalah sebuah perayaan kecil atas rasa syukur.  

 

Editor : Prihadi Zoldic
#lebaran #pelayanan sosial #Mataram #Lansia #Panti Jompo