Ziarah ke makam para wali adalah ritual spiritual dalam perayaan Lebaran Topat di Lombok. Di Makam Bintaro, Ampenan, kemeriahan ritual belah ketupat dengan khusyuknya doa yang dipanjatkan di pusara para penyebar Islam.
----
MAKAM Habib Husen Bin Umar Al-Mashur yang tenang dengan tiang-tiang kayunya menjadi saksi jejak Syarifah Zahra Al Habsy dan Syech Abdullah Al Badawi. Mereka adalah parawali yang tiba di Lombok sekitar tahun 1865 untuk menyempurnakan ajaran Islam yang kala itu masih bercampur dengan tradisi lokal.
“Tradisi ziarah makam pada Lebaran Topat ini adalah pilar dari rangkaian perayaan kita,” kata Ustadz Nazar Abdul Basir, Sabtu (28/3).
Habib Husen Bin Umar Mashur, Syarifah Zahra Al Habsy, dan Syech Abdullah Al Badawi yang sebelumnya singgah di Malaysia setelah meninggalkan Hadramaut di Yaman Selatan. Pada sekitar Tahun 1865 tiba di Lombok dengan membawa misi menyempurnakan Agama Islam yang telah disebarkan beberapa puluh tahun sebelumnya karena ajaran masih dengan kondisi tercampur dengan tradisi bahkan mengarah pada penyimpangan-penyimpangan sehingga tinggal menetap di Lingkungan Telaga Mas Kampung Arab Ampenan sampai wafat pada sekitar Tahun 1880.
Setelah Lebaran Idulfitri yang menekankan pada ampunan kepada Allah, lalu belah topat sebagai simbol silaturahmi dengan sesama. Maka ziarah makam ini adalah simbol rahmat dan kasih sayang untuk mereka yang telah mendahului.
Ustadz Nazar menjelaskan ziarah makam di Bintaro bukan sekadar ritual tabur bunga. “Warga yang datang ke sini bukan untuk berlibur, melainkan untuk berkah spiritual. Di sinilah rahmat Allah itu turun, dari dua wali yang sangat dihormati di pesisir Ampenan ini,” jelasnya.
Di bawah tudung kelambu berenda jingga yang hangat dan teduh, seorang wanita dengan telaten menyisir pucuk rambut hitam pekat anak laki-lakinya. Tangannya yang mengenakan cincin emas memegang gunting kecil, bersiap untuk ritual membasuh rambut simbolis.
“Membasuh rambut anak saat ziarah di perayaan Lebaran Topat ini adalah tradisi yang sarat makna,” lanjutnya.
Seorang pria bermasker dengan kopiah cokelat mengusap-usap air dari sebuah botol minum plastik ke kening dan wajahnya. Botol-botol air mineral yang tertata rapi di samping pusara menjadi bukti antusiasme peziarah untuk mendapatkan air doa yang dianggap memiliki khasiat tertentu.
Tradisi membasuh kening dan wajah dengan air doa ini, menurut Ustadz Nazar, bentuk simbolis dari harapan peziarah mendapatkan pencerahan dan kejernihan pikiran. “Air itu sendiri adalah benda mati, tetapi niat, doa, dan perantara rahmat Allah dari makam para wali ini yang memberikan makna spiritual,” jelasnya.
Perayaan di Makam Bintaro ini menjadi seri pelengkap dari kemeriahan serupa di Loang Baloq dan ritual belah ketupat agung. Jika di Loang Baloq kekuatannya ada pada riuh rendah berujetan 400 ketupat, di Bintaro kekuatannya ada pada detail pengerjaan spiritual dan pesan kebhinekaan yang diikat dengan segenggam doa.
Makam Bintaro, yang menjadi persemayaman para penyebar syiar Islam, tidak hanya dipadati warga lokal, tetapi juga menjadi tujuan utama peziarah dari berbagai penjuru Pulau Lombok hingga luar daerah. Parhan, salah seorang warga asli Bintaro yang setiap tahun menyaksikan keriuhan ritual ini, menuturkan Lebaran Topat adalah momen di mana Makam Bintaro mencapai puncak kunjungan tertingginya.
Menurutnya, arus peziarah mulai menunjukkan peningkatan signifikan seiring matahari yang beranjak naik. “Momen Lebaran Topat ini memang yang paling ramai. Terutama nanti di jam-jam agak siang, pengunjung dari luar daerah mulai ramai datang untuk berziarah,” ujarnya.
Parhan menyebutkan, mereka datang dari berbagai wilayah di Pulau Lombok, mulai dari Lombok Tengah hingga Lombok Timur. Motif kedatangan mereka pun beragam, ada yang datang untuk menunaikan nazar, hingga mereka yang sekadar ingin melihat langsung jejak sejarah para wali yang dimakamkan di sana.
“Tergantung pengunjungnya, ada yang berziarah karena bernazar, atau memang ada hal-hal yang ingin mereka lihat langsung di dalam makam ini,” imbuhnya.
Jangkauan peziarah yang datang juga dari luar Pulau Lombok. Parhan mengisahkan, pada hari-hari tertentu, area Makam Bintaro bisa kedatangan rombongan besar dari Pulau Jawa yang menggunakan bus pariwisata.
“Bahkan ada juga yang dari luar Pulau Lombok, mereka datang rombongan, kadang sampai dua atau tiga bus yang datang ke sini,” ujarnya. (*/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post