LombokPost – Suasana hangat terasa dalam pertemuan Ketua DPC Gerindra Kota Mataram Abd Rachman dengan sejumlah tokoh Nahdlatul Wathan (NW).
Tidak ada agenda resmi.
Tidak ada forum formal. Tetapi percakapan mengalir panjang, ringan, dan penuh makna.
“Ini momen Syawal. Kesempatan untuk kembali merajut silaturahmi, memperkuat kebersamaan,” ungkap Rachman, Kamis (26/3).
Di ruang yang sederhana, obrolan tidak kaku. Sesekali diselingi canda.
Tawa kecil pecah. Nada bicara cair. Tetapi justru di situ letak kekuatannya.
Bukan sekadar bertemu. Tapi menyambung rasa.
Rachman menyebut, silaturahmi seperti ini penting di tengah perubahan wajah kota.
“Mataram tumbuh cepat,” ucapnya.
Tetapi di saat yang sama, ia mengingatkan ada nilai-nilai sosial yang tidak boleh ikut hilang. “Kita tidak ingin kota ini hanya maju secara fisik. Tapi juga harus tetap hangat secara sosial,” ujarnya.
Menurutnya, kultur keguyuban yang selama ini menjadi ciri masyarakat Lombok, termasuk yang dijaga kuat oleh komunitas NW, harus terus dirawat. Ada nilai kebersamaan.
Ada rasa saling peduli. Ada kebiasaan duduk bersama, berbincang tanpa sekat.
“Itu yang harus tetap hidup. Jangan sampai tergeser oleh pola hidup yang makin individual,” ujarnya.
Ia menilai, hubungan antarmanusia tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi. Komunikasi digital memang memudahkan.
Tetapi tidak selalu mampu menghadirkan kehangatan yang sama. “Kadang kita merasa sudah cukup hanya lewat pesan singkat. Padahal bertemu langsung itu beda rasanya,” ujarnya.
Karena itu, ia selalu meluangkan waktu bertemu langsung para tokoh. Mendengar.
“Berdiskusi atau sekadar bertukar pandangan,” paparnya.
Dalam pertemuan tersebut, Rachman juga menyerap banyak hal. Mulai dari persoalan sosial, dinamika masyarakat, hingga cara-cara menjaga harmoni di tengah keberagaman.
“Banyak masukan. Banyak pandangan. Ini penting sebagai bekal dalam menjalankan tugas,” katanya.
Ia menegaskan, peran tokoh masyarakat dan organisasi seperti NW sangat strategis. Tidak hanya dalam menjaga nilai keagamaan, tetapi juga merawat keseimbangan sosial di tengah masyarakat kota.
“Mereka ini simpul-simpul penting di masyarakat. Punya pengaruh. Punya kedekatan dengan warga,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya berbasis kebijakan. Tetapi juga membutuhkan sentuhan sosial yang kuat.
Karena itu, hubungan dengan tokoh-tokoh masyarakat harus terus dijaga. Bukan sekadar formalitas.
Tetapi hubungan yang hidup. “Kita harus sering duduk bersama. Mendengar langsung. Itu bagian dari ikhtiar membangun kota,” katanya.
Dalam suasana Syawal, nilai ukhuwah menjadi benang merah pertemuan tersebut. Bukan hanya ukhuwah dalam arti keagamaan, tetapi ukhuwah sosial.
“Penting sekali hubungan antarmanusia yang dilandasi saling percaya dan saling menguatkan,” tegasnya.
Ketua Komisi 3 DPRD Kota Mataram ini menyebut, dari ruang-ruang seperti inilah sering lahir solusi. Bukan dari forum besar.
Tetapi dari percakapan sederhana yang jujur dan terbuka. “Kadang solusi itu lahir dari obrolan santai. Dari keberanian berpikir, mencari jalan keluar bersama,” ujarnya.
Ia menilai, masyarakat Lombok memiliki kekuatan itu. Tradisi berdiskusi.
Tradisi mencari jalan bersama. Bahkan dalam suasana ringan sekalipun.
“Itu bagian dari kearifan. Harus dijaga dan harus terus tumbuh di tengah kota dan menjadi tradisi para pemimpin kita,” katanya.
Karena itu, silaturahmi menurutnya bukan sekadar tradisi tahunan. Tetapi bagian dari cara merawat energi sosial masyarakat.
“Silaturahmi ini menjaga rasa. Menjaga kebersamaan,” tegasnya.
Di tengah dinamika kota yang terus berubah, pertemuan seperti ini menjadi pengingat. Pembangunan tidak hanya soal jalan dan gedung.
Tetapi juga tentang manusia. Tentang hubungan.
Tentang rasa saling memiliki. “Kalau kebersamaan kuat, Insya Allah apa pun yang kita hadapi bisa diselesaikan bersama,” pungkasnya. (zad/r9)