Pagi, belum sepenuhnya sibuk. Namun sapu-sapu dan tangan telah lebih dulu lincah bergerak.
---
SEBELUM jam kerja dimulai, halaman kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Mataram tidak langsung dipenuhi antrean. Yang terlihat justru para pegawai memegang sapu, kantong sampah, dan alat kebersihan lainnya.
Mereka menyapu. Mengumpulkan daun kering.
Membersihkan sudut-sudut yang kerap luput dari perhatian. “Hanya 30 menit, setiap hari. Lingkungan kerja bersih, tubuh bugar,” kata Kepala Dinas Dukcapil Kota Mataram Dr. Mansur, Rabu (1/4).
Kegiatan dilakukan sebelum pelayanan dibuka untuk masyarakat. Bukan sekadar rutinitas spontan.
Ada arah yang jelas di baliknya. Mansyur, menyebut kegiatan itu sebagai bagian dari upaya membangun budaya kerja baru di lingkungan aparatur sipil negara.
“Ini bukan hanya soal bersih-bersih, tapi bagaimana membangun disiplin dan rasa memiliki terhadap tempat kerja,” tegasnya.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran, Pejabat Pemkot Mataram Gowes ke Kantor
Gerakan itu selaras dengan arahan nasional. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menginstruksikan agar seluruh aparatur meluangkan waktu minimal 30 menit sebelum bekerja untuk membersihkan lingkungan kerja.
Instruksi itu kemudian diterjemahkan di berbagai daerah. Di sejumlah wilayah, bahkan dituangkan dalam kebijakan resmi.
Di Kota Mataram, gerakan itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Namun terasa nyata.
Setiap pagi, aktivitas ini menjadi pembuka hari. Sebelum komputer dinyalakan.
“Sebelum berkas diproses,” tekannya.
Sebelum masyarakat datang mengurus administrasi. “Kalau lingkungan kerja kita bersih, maka semangat kerja juga ikut bersih. Itu yang ingin kita bangun,” ujarnya.
Tak ada pembagian peran yang kaku. Semua terlibat.
Baca Juga: Gerbang Tembolak Dekati Satu Dekade, Kondisinya Masih Aman
Pejabat. Staf. Petugas pelayanan. “Saya juga, kita semua sama. Punya tanggung jawab yang sama pada lingkungan kerja kita,” tekannya.
Mereka bekerja bersama dalam suasana yang cair. Tanpa sekat jabatan.
Sapu menjadi alat yang menyatukan. Setidaknya untuk tiga puluh menit pertama di pagi hari.
Bagi sebagian pegawai, kegiatan itu awalnya terasa biasa. Namun perlahan menjadi kebiasaan.
Ada rasa berbeda ketika memasuki lingkungan yang sudah dibersihkan bersama. Lebih ringan. Lebih tertata.
Di sisi lain, masyarakat yang datang pun merasakan dampaknya. Lingkungan kantor terlihat lebih rapi.
Lebih nyaman. Dan mungkin tanpa disadari, itu memengaruhi cara pelayanan diberikan.
Baca Juga: Arsenal Kena Mental! Piero Hincapie Tumbang, Daftar Pasien Mikel Arteta Makin Panjang
Gerakan kecil itu menunjukkan sesuatu yang lebih besar. Bahwa perubahan budaya kerja tidak selalu dimulai dari kebijakan besar.
Kadang cukup dari hal paling sederhana. “Harapan kami ini bisa menjadi budaya, bukan hanya program sesaat, sehingga kebersihan dan kedisiplinan itu melekat dalam pelayanan kepada masyarakat,”
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin