LombokPost — Evaluasi program 5.000 wirausaha baru memasuki tahap evaluasi. Hal ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana target tersebut benar-benar berjalan di lapangan, bukan sekadar angka dalam perencanaan.
Kepala Bappeda Kota Mataram Lalu Bramantio Ganeru, mengatakan evaluasi dilakukan bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) guna melihat efektivitas strategi yang telah dijalankan. “Kami harus optimis target tercapai. Tapi bagaimana cara mewujudkannya, kami harus melihat lagi secara realistis,” ujarnya, Senin (6/4).
Program ini sendiri dirancang untuk dicapai dalam lima tahun masa kepemimpinan, dengan target rata-rata 1.000 wirausaha baru setiap tahun. Namun dalam perjalanannya, dinamika ekonomi global mulai memberi tekanan yang tidak bisa diabaikan.
Bramantio mengakui, kondisi global saat ini ikut memengaruhi arah kebijakan daerah, sehingga diperlukan langkah yang lebih konkret dan adaptif agar target tetap relevan. “Perlu ada strategi yang benar-benar disiapkan agar target ini bisa tercapai sesuai yang ditetapkan,” katanya.
Di tengah evaluasi tersebut, pemkot mencoba menggeser pendekatan dari sekadar target kuantitas menuju pembangunan ekosistem usaha. Salah satu langkah yang mulai ditempuh adalah pemanfaatan lahan eks Bandara Selaparang sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang tumbuh bagi pelaku usaha baru. Sekaligus menjaga keseimbangan antara geliat ekonomi dan penataan kota.
Selain itu, sektor pariwisata juga didorong untuk ikut mengambil peran. Event-event kreatif diharapkan mampu memicu pergerakan ekonomi, sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis komunitas.
Namun demikian, di lapangan, dampak program ini dinilai belum merata. Pengembangan wirausaha masih berjalan bertahap dan sangat bergantung pada kesiapan masyarakat itu sendiri.
Pemerintah pun mulai menegaskan penciptaan wirausaha tidak bisa hanya mengandalkan intervensi anggaran daerah semata. “Pengembangan wirausaha tidak boleh hanya bergantung pada APBD,” tegasnya.
Baca Juga: Keamanan Jogging Track Udayana Diperketat, Buntut Kasus Pelecehan Seksual
Ke depan, pendekatan yang diambil akan lebih menitikberatkan pada pembentukan mental kewirausahaan melalui pelatihan dan pendampingan. Harapannya, masyarakat tidak hanya menjadi pelaku usaha sementara, tetapi mampu bertahan dalam tekanan ekonomi yang fluktuatif.
“Dengan jiwa usaha yang kuat, masyarakat diharapkan mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi global yang tidak menentu,” ujarnya.
Sebelumnya, peringatan datang langsung dari Wali Kota Mataram Mohan Roliskana. Ia mengingatkan kondisi geopolitik global saat ini bukan sekadar isu luar negeri, tetapi berpotensi menekan ekonomi daerah secara langsung.
Dalam pidato pembukaan rapat paripurna beberapa waktu lalu, Mohan menegaskan dunia tengah berada dalam fase ketidakpastian yang dapat memicu krisis multisektoral.
“Kondisi geopolitik global saat ini bisa berdampak terhadap krisis multisektoral. Beberapa negara sudah mengalami kondisi itu,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia memang masih berada dalam posisi relatif stabil. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan agar dampaknya tidak merembet ke daerah, termasuk Kota Mataram.
“Kita berharap Indonesia bisa melewati situasi krisis ini dengan baik dan tidak berdampak signifikan terhadap kondisi ekonomi kita,” katanya.
Dalam konteks ini, program pengembangan wirausaha—termasuk target 5.000 pelaku usaha baru—tidak lagi berdiri sendiri sebagai program ekonomi biasa.
Ia menjadi bagian dari strategi bertahan menghadapi tekanan global. Namun ia menekankan, ketahanan ekonomi tidak cukup hanya dengan menciptakan usaha baru.
Diperlukan fondasi fiskal daerah yang kuat dan efisien agar program-program tersebut tidak goyah di tengah tekanan anggaran. “Oleh karena itu, kami berpesan agar struktur fiskal dan politik anggaran ditata kembali supaya lebih efisien,” tegasnya.
Baca Juga: Efek Ramadan! Pajak Restoran Mataram Tembus Rp11,28 Miliar
Pesan ini menjadi sinyal ruang fiskal daerah ke depan tidak akan longgar. Setiap program, termasuk pengembangan UMKM, harus benar-benar terukur, tepat sasaran, dan memiliki dampak nyata.
Di sisi lain, Mohan menekankan pentingnya menjaga stabilitas sosial sebagai fondasi ekonomi. Ia mengingatkan dalam situasi krisis, kekuatan utama justru terletak pada kohesi sosial masyarakat.
“Semangat persatuan dan patriotisme kita diuji untuk tetap menjaga semangat persaudaraan dan kebangsaan,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus mempertegas strategi ekonomi daerah. Ke depan tidak hanya soal angka dan target, tetapi juga soal daya tahan sosial masyarakat dalam menghadapi tekanan global.
Dengan demikian, evaluasi program 5.000 wirausaha yang kini dilakukan menjadi semakin relevan. Bukan hanya mengejar capaian, tetapi memastikan setiap wirausaha yang lahir benar-benar mampu bertahan di tengah situasi ekonomi yang kian tidak pasti.
“Yang penting kita bisa menjaga ritme ini sampai situasi krisis ini bisa kita lewati bersama,” pungkasnya. (zad/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin