Pagi, orang-orang datang tanpa diundang. Sore, tempat ini kembali riang. Seperti ada yang memanggil pulang.
---
SETELAH lima tahun proses penataan, bantaran sungai di Marong Karang Tatah tak lagi sekadar ruang yang diperbaiki. Ruang ini berubah menjadi taman yang menyenangkan.
Anak-anak berlari di pinggir sungai. Sebagian bermain air.
Yang lain menendang bola di lahan yang dulu tak pernah terpikirkan sebagai lapangan. “Alhamdulillah masyarakat senang. Dulu tidak punya fasilitas umum, sekarang anak-anak sudah bisa bermain di sini,” ujar Kepala Lingkungan Marong Karang Tatah Lalu Muhammad Yakub, Kamis (16/4).
Perubahan itu terasa nyata. Jika dulu kawasan ini hanya dipandang sebagai tempat pembuangan sampah, kini ia menjadi titik kumpul warga.
Dari anak kecil hingga orang tua. Setiap pagi, warga datang untuk berjalan santai.
Sebagian menjadikannya ruang terapi ringan. Sore hari, suasana kembali hidup dengan aktivitas bermain dan berkumpul.
“Sekarang ini jadi tempat kumpul masyarakat,” katanya.
Kehidupan sosial pun perlahan tumbuh. Berbagai kegiatan mulai digelar.
Dari olahraga hingga kegiatan rekreasi sederhana. Festival layangan menjadi salah satu agenda yang rutin dilakukan.
Sementara di aliran sungai, warga mulai mengenalkan aktivitas river tubing, menyusuri air dengan ban.
Sederhana. Namun cukup untuk menghidupkan suasana.
“Sudah ada kegiatan layangan, river tubing, dan ke depan kita rencanakan lagi seperti flying fox,” ujar Yakub.
Kawasan ini pun kini memiliki nama. Tibu Jowet.
Nama lama yang dihidupkan kembali. Diambil dari kenangan masa lalu, ketika tempat ini menjadi lokasi bermain dan mandi warga, dengan banyaknya pohon jowet yang tumbuh di sekitarnya.
Kini, nama itu bukan sekadar penanda. Lebih dari itu identitas baru.
“Jadi kita hidupkan lagi nama itu supaya masyarakat punya rasa memiliki,” katanya.
Rasa memiliki itu terlihat dari cara warga menjaga dan memanfaatkan ruang tersebut. Tanpa perlu diminta, mereka datang, menggunakan, dan merawatnya.
Di sisi lain, denyut ekonomi mulai terasa. Lapak-lapak kecil mulai muncul.
Saat ini tercatat sekitar 13 pedagang mulai berjualan di kawasan tersebut. Meski sebagian masih dalam tahap penataan ulang.
“Ekonomi mulai tumbuh. Nanti kita kembangkan lagi,” ujarnya.
Ke depan, kawasan Tibu Jowet ini tidak hanya diarahkan sebagai ruang rekreasi. Lebih dari itu.
Kawasan ini dirancang menjadi ruang terpadu. Tempat olahraga.
Tempat bermain anak. Sekaligus ruang edukasi.
Yakub membayangkan kawasan ini bisa menjadi pusat pembelajaran sederhana berbasis masyarakat. Mulai dari pertanian, peternakan, hingga pengolahan sampah.
Semua terintegrasi dalam satu kawasan. “Ada pertanian, peternakan, pariwisata, sampai pengolahan sampah, semua di sini,” katanya.
Di tengah keterbatasan ruang terbuka hijau di lingkungan tersebut, bantaran sungai menjadi satu-satunya pilihan yang dihidupkan. Dan kini, pilihan itu terbukti.
Dari ruang yang dulu dihindari, menjadi ruang yang dirindukan.
Baca Juga: Gas Melon Langka di Daerah Tetangga, Disdag Mataram: Stok Kita Aman, Jangan Panik
“Makanya sekali lagi kami ingin menyampaikan terima kasih pada bang Rachman telah membangun lokasi ini,” tutupnya. (*/r9)