Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ubah Paradigma Pelayanan, Dinkes Mataram Masifkan Layanan "Home Visit" Lewat Program Jas Kuning

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 18 April 2026 | 20:18 WIB
Kepala Dikes dr. Emirlad Isfihan, Ketua DWP Dikes Nining Herlina, Plt Camat Ampenan Muzakkir Walad saat menyapa lansia.
Kepala Dikes dr. Emirlad Isfihan, Ketua DWP Dikes Nining Herlina, Plt Camat Ampenan Muzakkir Walad saat menyapa lansia. (ZAD/LOMBOK POST)

 


LombokPost
– Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram kembali menunjukkan komitmen menghadirkan pelayanan kesehatan yang menyentuh masyarakat. Melalui kegiatan Jalan Sehat Berkunjung ke Lingkungan (Jas Kuning), jajaran dikes bersama organisasi profesi kesehatan, kali ini turun ke Lingkungan Bintaro Jaya, Ampenan. 

Kepala Dikes Kota Mataram dr. Emirald Isfihan, menegaskan pendekatan jemput bola seperti ini menjadi kunci menjawab kompleksitas persoalan kesehatan masyarakat saat ini. “Kita tidak bisa hanya bekerja di balik meja,” tegasnya, Jumat (17/4). 

Pemberian vitamin pada balita Stunting.
Pemberian vitamin pada balita Stunting.

 

Dalam kegiatan tersebut, Dikes melibatkan berbagai unsur. Mulai dari tenaga kesehatan puskesmas, organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), hingga pemerintah kecamatan dan kelurahan. 

 

Dari Stunting hingga Lansia: Masalah Nyata di Lapangan

 

Hasil pemantauan lapangan menunjukkan berbagai tantangan kesehatan. Mulai dari kasus stunting pada balita, meningkatnya jumlah lansia, hingga penyakit degeneratif menyertai usia lanjut.

Pengobatan pada lansia.
Pengobatan pada lansia.

 


Menurut dr. Emirald, meningkatnya angka harapan hidup di Kota Mataram kini telah mencapai sekitar 75 tahun. Ia menekankan ini merupakan capaian positif.


 Namun, di sisi lain, hal ini menghadirkan tantangan baru. “Bertambahnya lansia berarti bertambah juga potensi penyakit degeneratif,” ujarnya.

Baca Juga: Hati-Hati! Terdeteksi Judi Online Bisa Bikin BPJS Gratis Dicabut, Begini Cara Urus Reaktivasi di Mataram

Ia juga menyoroti perubahan pola sosial masyarakat. Banyak orang tua bekerja, sehingga pengasuhan anak dialihkan kepada kakek-nenek.

Penyaluran telur dan susu pada balita Stunting.
Penyaluran telur dan susu pada balita Stunting.

 


Kondisi ini berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak. “Terutama risiko stunting,” wanti-wantinya. 

 

Lingkungan dan Sanitasi Jadi Sorotan

 

Selain faktor individu, aspek kesehatan lingkungan juga menjadi perhatian serius. Dikes menemukan masih adanya warga menggunakan sumber air non-PDAM, berpotensi menimbulkan penyakit seperti diare dan infeksi kulit.

 

Diskusi dan evaluasi setelah jalan sehat berkunjung di lingkungan.
Diskusi dan evaluasi setelah jalan sehat berkunjung di lingkungan.

 


Untuk itu, dr. Emirald langsung menginstruksikan laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) melakukan pemeriksaan kualitas air di rumah-rumah warga. “Kita tidak ingin ada kejadian yang berdampak pada kesehatan masyarakat hanya karena kualitas air yang tidak terpantau. Semua harus dipetakan dan ditindaklanjuti,” tegasnya.


Ia juga menyoroti pentingnya kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif. “Kalau lingkungan kita rapi dan bersih, itu bukan hanya enak dilihat, tapi berdampak pada kesehatan dan ketenangan batin masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga: ASN Nakal Siap-Siap Disanksi, Pemkot Mataram Godok Pengawasan Digital untuk WFH Jumat

Pelayanan Proaktif: Tenaga Kesehatan Datangi Pasien

 

Salah satu langkah inovatif yang ditekankan dalam kegiatan ini yakni pelayanan kesehatan berbasis kunjungan rumah (home visit). Dikes meminta puskesmas tidak lagi menunggu pasien datang, terutama bagi penderita penyakit kronis dan lansia.


“Bukan lagi pasien yang datang ke kita, tapi kita yang datang ke pasien. Ini penting, terutama untuk kasus pasca stroke, lansia, dan pasien kronis lainnya,” jelas dr. Emirald.


Program ini akan diperkuat dengan layanan pemeriksaan rutin melalui Labkesda. “Serta penguatan program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis),” paparnya. 

 

Edukasi dan Deteksi Dini Penyakit

 

Dalam sesi diskusi, para dokter turut memberikan masukan penting. Salah satunya terkait kasus infeksi kulit seperti impetigo yang ditemukan di masyarakat. Berikutnya, penting pengawasan distribusi makanan tambahan. Antara lain telur agar tidak menimbulkan dampak kesehatan.


Selain itu, kepadatan penduduk di wilayah tersebut juga dinilai meningkatkan risiko penyakit menular. Antara lain ISPA, TBC, hingga kecacingan pada anak.

Baca Juga: Dulu Tempat Sampah, Kini Jadi Wisata "Tibu Jowet": Metamorfosis Bantaran Sungai Marong Karang Tatah di Tangan Rachman



“Kesehatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta gizi harus berjalan beriringan. Kalau tidak, penyakit akan terus berulang,” ungkap salah satu dokter yang hadir.

 

Apresiasi dari Kecamatan Ampenan

 

Camat Ampenan Muzakkir Walad, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan Jas Kuning. “Kegiatan ini luar biasa. Tidak hanya survei, tapi langsung ada intervensi, solusi, dan edukasi. Ini sangat membantu masyarakat kami,” ujarnya.


Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. “Menjadi inspirasi bagi sektor lain dalam memberikan pelayanan langsung ke masyarakat,” pungkasnya. (zad/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #jas kuning #Dinas Kesehatan #Emirald Isfihan