Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Niar, Eks Punggawa Timnas Basket Kursi Roda: Saya Masih Kuat, Tapi Lapangan Tak Ada

Sanchia Vaneka • Senin, 20 April 2026 | 11:20 WIB
BERPRESTASI: Karniasih dan tim saat latihan basket beberapa tahun silam.
BERPRESTASI: Karniasih dan tim saat latihan basket beberapa tahun silam.

 


Di tengah keterbatasan fisik akibat polio, Karniasih membuktikan kursi roda bukanlah penghalang mengharumkan nama bangsa di kancah bola basket internasional. Meski kini aktivitas kompetisinya terhenti karena minimnya dukungan sarana, semangat Niar tetap menyala!

 
---

BERPRESTASI: Karniasih dan tim saat latihan basket beberapa tahun silam.

 

 
LAMPU sorot lapangan Bali Cup beberapa tahun silam sebelum Covid 19 merebak, masih membekas jelas di ingatan Karniasih. Di atas kursi roda khusus yang didesain tangguh, perempuan yang akrab disapa Niar ini melesat, memutar roda dengan tangan-tangan kuatnya, lalu melepaskan tembakan yang disambut riuh penonton. 

Basket bukan sekadar olahraga, tapi ruang di mana disabilitasnya lebur menjadi prestasi. Sebagai penyandang disabilitas polio, ia menghabiskan hampir delapan tahun hidupnya sebagai atlet basket kursi roda.

Perjalanan itu dimulai saat sebuah yayasan dari Bali, Bali Sports Foundation (BSF), melihat potensi dalam dirinya. Sejak saat itu, Niar berubah menjadi punggawa tim nasional yang disegani di level Asia.


“Waktu itu kita mewakili Indonesia melawan sebelas negara. Ada Afghanistan, Malaysia, Singapura, hingga Thailand. Yang paling kuat itu Afghanistan, fisiknya luar biasa,” kenang Niar, Minggu (19/4). 
 
Menjadi atlet disabilitas bukan perkara mudah. Niar menceritakan tantangan terbesar bukan hanya pada teknik permainan yang hampir 8 tahun dilakoninya itu, melainkan pada mahalnya kaki tambahan mereka. 

Satu unit kursi roda standar kompetisi harganya bisa mencapai Rp 8 juta hingga Rp 10 juta lebih. Angka yang fantastis bagi banyak penyandang disabilitas di daerah.
 
“Itu yang bikin pemain sering berganti atau tidak bertahan. Alatnya mahal, dan tidak semua orang punya akses ke sana,” tuturnya. 
 
Namun, kendala biaya tidak menyurutkan nyalinya. Bersama empat rekan dari Lombok, ia bergabung dengan atlet dari Bali dan Makassar untuk membentuk tim solid.
 
Latihan intensif sering dilakukan di Praya, Lombok Tengah. Uniknya, Niar dan kawan-kawan sering berkolaborasi dengan pemain basket non-disabilitas. 

Dalam sesi latihan tersebut, terjadi pertukaran peran yang mengharukan. “Teman-teman yang normal mencoba pakai kursi roda kita. Mereka kaget, ternyata susah ya. Tapi kalau sudah biasa, rasanya gampang dan seru,” kata Niar sambil tertawa kecil.
 
Sayangnya, kejayaan basket kursi roda perempuan di Indonesia kini meredup. Niar mengungkapkan saat ini hampir tidak ada lagi tim basket kursi roda perempuan yang aktif secara reguler di tanah air.

Baca Juga: Perkuat Identitas Lingkungan, Pemkot Mataram Bangun Gapura di Empat Ruas Strategis


Banyak rekan sejawatnya yang berhenti karena kesibukan rumah tangga. Namun faktor utama adalah hilangnya dukungan sponsor dan ketiadaan lapangan yang ramah disabilitas untuk berlatih.
 
“Dulu kita sering dikirim latihan sampai ke Thailand. Tapi sekarang, BSF lebih fokus ke rugby. Padahal kriteria rugby beda lagi, lebih ke teman-teman dengan Cerebral Palsy (CP),” ungkapnya.
 
Meski kini usianya sudah memasuki kepala empat, Niar menegaskan fisiknya masih aman. Secara mental dan tenaga, ia merasa masih sanggup bersaing di lapangan.

Namun, tanpa adanya lapangan yang permanen untuk menyimpan peralatan dan tanpa pelatih yang konsisten, ia terpaksa menepi dari hiruk-pikuk kompetisi. Saat ini, Niar mengalihkan energinya ke jalur advokasi. 

Ia aktif di organisasi PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia). Ia berjuang agar teman-teman disabilitas lainnya mendapatkan hak dan kesempatan yang sama, persis seperti kesempatan yang ia dapatkan saat pertama kali memegang bola basket.
 
Baginya, basket adalah alat pemersatu. Melalui olahraga, kaum disabilitas tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan dilihat sebagai manusia yang berdaya. 

Ia masih menyimpan harapan besar agar pemerintah atau pihak swasta mau kembali melirik potensi basket kursi roda perempuan. “Kalau ditanya mau main lagi atau tidak? Jawabannya jelas, mau banget! Saya masih kuat. Kami hanya butuh lapangan dan kesempatan untuk membuktikan Indonesia masih punya taji di basket kursi roda," tutupnya. (*/r9)
 

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#atlet basket #disabilitas Kota Mataram #basket kursi roda