Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Target 300 Ribu Wisatawan di Tengah Krisis Avtur, Dispar Mataram Hidupkan "Friday Relax" di Udayana

Sanchia Vaneka • Jumat, 24 April 2026 | 09:13 WIB
ILUSTRASI: Kondisi perhotelan di tengah kenaikan harga avtur, efisiensi anggaran, dan low season.
ILUSTRASI: Kondisi perhotelan di tengah kenaikan harga avtur, efisiensi anggaran, dan low season.

 


LombokPost
- Tren kunjungan wisatawan tengah menunjukkan kelesuan di awal tahun. Selain faktor siklus tahunan low season, hantaman kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur dan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat hingga daerah disinyalir pemicu utama merosotnya tingkat hunian hotel dan aktivitas pariwisata.
 
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra mengatakan, kondisi industri perhotelan saat ini tengah menghadapi tantangan berat. Tingginya harga avtur berimbas langsung pada lonjakan harga tiket pesawat yang membuat calon wisatawan berpikir dua kali untuk berkunjung.
 
“Dampak harga BBM pesawat atau Avtur yang meningkat ini memang sangat terasa pada tingkat kunjungan wisatawan ke Kota Mataram. Ini menjadi keluhan utama dari para pengusaha hotel kita,” ungkap Cahya, Kamis (23/4). 
 
Tak hanya persoalan tiket pesawat, Cahya menyoroti kebijakan efisiensi yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah. Selama ini, Kota Mataram sangat bergantung pada aktivitas Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Berkurangnya intensitas kegiatan seminar nasional dan rapat koordinasi antarinstansi memberikan dampak bagi okupansi hotel. “Itu sangat berpengaruh terhadap ekosistem pariwisata kita,” jelasnya.

 

Baca Juga: Disiplin Retribusi Sektor Wisata Mataram Mulai Ditegakkan
 
Meski belum merinci angka pasti penurunan okupansi secara akumulatif, Cahya mengakui adanya tren penurunan volume kegiatan dan pagelaran festival di tahun ini dibandingkan periode sebelumnya. Pihaknya masih melakukan pendataan saksama untuk melihat angka pasti penurunan tersebut.
 
“Belum kita bisa sebut kalau itu,” katanya.
 
Menyikapi situasi yang kurang menguntungkan, Dispar tidak tinggal diam. Cahya menegaskan, solusi jangka pendek yang diambil yakni memaksimalkan potensi destinasi wisata lokal dan memperbanyak event kreatif memicu pergerakan masyarakat serta wisatawan domestik.
 
“Kalau untuk setahun ini ada sekitar 300 ribu kunjungan yang kita targetkan,” jelasnya. 
 
Salah satu yang kini tengah digalakkan menghidupkan ruang publik sebagai pusat atraksi baru. “Kita harus memaksimalkan destinasi-destinasi yang ada. Salah satunya melalui kolaborasi kegiatan di Teras Udayana,” ucapnya.
 
Dispar menggandeng pihak perbankan, untuk menggelar program bertajuk Mataram Friday Relax. Agenda ini direncanakan menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari Jumat, dua minggu sekali.
 
“Kita ingin menciptakan wadah bagi masyarakat dan tamu untuk bersantai sekaligus menikmati hiburan. Inilah upaya-upaya kita untuk membuat destinasi tetap maksimal untuk dikunjungi, meskipun tantangan cukup berat,” imbuhnya.
 
Terpisah, Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) I Made Adiyasa mengakui, penurunan di awal tahun merupakan pola tahunan atau low season. rendahnya angka hunian baru menyentuh angka di bawah 35 persen.
 
“Tahun ini makin tertekan karena bertepatan dengan momentum Ramadan. Keluhan pengusaha hotel memang cukup terasa di awal tahun ini,” katanya.
 
Angka di bawah 35 persen tersebut dinilai sangat mengkhawatirkan karena berada jauh di bawah ambang batas ideal untuk menutup biaya operasional hotel yang tetap tinggi. Meski kondisi saat ini belum menggembirakan, para pelaku industri perhotelan tetap optimis untuk sisa tahun 2026.

 Harapan besar digantungkan pada rencana penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan tahun ini. Adiyasa menegaskan, event olahraga berskala besar merupakan penyelamat yang paling dinanti mendongkrak angka hunian yang sedang lesu.
 
“Kalau Juli jadi Porprov, pasti bagus. Itu bisa mendongkrak hunian hotel,” imbuhnya.
 
Event tersebut diprediksi akan mendatangkan ribuan atlet, official, hingga penonton dari 10 kabupaten/kota di NTB. Kehadiran massa dalam jumlah besar ini secara otomatis akan memenuhi kamar-kamar hotel, terutama di wilayah Kota Mataram yang menjadi pusat kegiatan. 

Efek domino juga diharapkan menyasar sektor kuliner, transportasi lokal, hingga UMKM pusat oleh-oleh. Sembari menunggu masa panen di bulan Juli mendatang, hotel-hotel mulai memutar otak agar arus kas tetap stabil. 

Salah satu strategi yang diambil dengan menggempur pasar lokal melalui paket promo staycation. “Ini menjaga operasional tetap berjalan hingga masa kunjungan tiba pada bulan Juli nanti,” pungkasnya. (chi/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#wisatawan Mataram #target kunjungan wisata #okupansi hotel