Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kado Terakhir untuk Ayah: Kisah Fasya, Remaja Ampenan yang Berhaji Gantikan Almarhum Sang Ayah

Sanchia Vaneka • Senin, 27 April 2026 | 10:22 WIB
MENUNAIKAN IBADAH: Lalu Fasya Abiyyu Ramdhani (kanan) mendampingi ibunya untuk berangkat haji tahun ini. (CHIA/LOMBOK POST)
MENUNAIKAN IBADAH: Lalu Fasya Abiyyu Ramdhani (kanan) mendampingi ibunya untuk berangkat haji tahun ini. (CHIA/LOMBOK POST)

 


Langkah kaki Lalu Fasya Abiyyu Ramdhani menuju Baitullah bukan sekadar menjalankan rukun Islam kelima. Perjalanan ini adalah tentang menuntaskan sebuah janji dan membawa rindu yang belum sempat terucap dari mendiang sang ayah, yang berpulang tepat sebelum impian ke Tanah Suci itu mewujud.

 

---

DI usia yang baru menginjak 17 tahun, saat rekan sebayanya sibuk memikirkan ujian sekolah atau hobi remaja, Fasya harus memikul tanggung jawab besar. Remaja asal Pejarakan, Ampenan ini resmi tercatat sebagai jamaah haji termuda dari Kota Mataram tahun 2026.

Seragam Sekolah di Balik Kain Ihram

Pekan ini, Fasya menanggalkan sementara statusnya sebagai siswa kelas 2 di sekolah unggulan MAN Insan Cendekia (IC) Lombok Timur. Seragam batik khas sekolahnya masih tersimpan rapi di asrama, berganti dengan dua lembar kain ihram putih yang tak berjahit.

“Ibu sempat mengecek status keberangkatan tahun lalu. Alhamdulillah, hasilnya keluar dan kami dijadwalkan berangkat tahun ini," tutur Fasya saat ditemui, Minggu (26/4).

Namun, takdir menuliskan skenario yang menguji ketegaran hati. Sang ayah berpulang ke hadapan Sang Pencipta pada tahun 2025 lalu, meninggalkan kursi kosong dalam manifes keberangkatan keluarga. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, tanpa perlu perdebatan panjang, Fasya langsung mengambil tanggung jawab besar untuk menggantikan posisi sang ayah.

Antara Syukur dan Rasa Sedih yang Mendalam

Menjadi tamu Allah di usia muda tentu merupakan anugerah yang diimpikan jutaan orang. Fasya tak menampik ada rasa syukur karena panggilan ini datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Namun, di balik senyumnya, ada duka yang masih tersisa.

“Tentu ada senang dan syukurnya. Tapi dari lubuk hati, ada sedih yang sulit disembunyikan. Seharusnya Ayah yang ada di sini bersama Ibu,“ ucapnya lirih.

Bagi Fasya, ini adalah perjalanan emosional yang luar biasa. Ia tidak hanya mendampingi fisik sang ibu, tapi juga membawa doa-doa untuk almarhum ayahnya. Di tempat-tempat mustajab seperti di depan Ka’bah atau di Padang Arafah nanti, ia sudah menyiapkan satu hajat utama.

“Saya mau mendoakan Ayah. Semoga nanti kami sekeluarga bisa bertemu lagi di surga-Nya. Saya ingin berdoa agar kuburnya dilapangkan dan segala urusannya di alam sana dipermudah,” tambahnya dengan tatapan mata yang dalam.

Dukungan Sekolah dan Amanah Menjaga Ibu

Menempuh pendidikan di sekolah dengan sistem asrama yang ketat membuat Fasya harus merelakan waktu belajarnya tersita. Beruntung, pihak MAN IC Lombok Timur memberikan dukungan penuh dan izin khusus bagi siswanya untuk menunaikan ibadah haji ini.

Ibu Fasya telah merelakan dan menguatkan hati putra sulungnya tersebut. Sementara itu, sang adik yang masih kecil akan tinggal di rumah bersama bibinya selama Fasya dan sang ibu berada di Arab Saudi.

Kini, fokus Fasya hanya satu: memastikan sang ibu dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan menjadi pelayan terbaik bagi orang tuanya selama di Tanah Suci. “Tugas saya adalah menjaga Ibu di sana dan beribadah semaksimal mungkin untuk Ayah," pungkasnya penuh tekad. (*/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #haji bafadal #kisah haji termuda