Biasanya dijauhkan. Kali ini justru didekatkan. Yang sering dihindari, justru jadi pusat perhatian.
---
DI lapangan Sangkareang yang terbuka itu, sebuah mobil kuning berhenti tanpa suara. Tulisan di badannya tegas: penyedotan lumpur tinja.
“Memang sengaja kita tampilkan ini,” kata Lale Widiahning, kepala dinas PUPR Kota Mataram, Selasa (21/4).
Jenis kendaraan yang selama ini identik dengan bau, kotor, dan pekerjaan yang jarang dilihat orang. Namun hari itu berbeda.
Di sekelilingnya, pegawai Dinas PUPR berdiri rapi. Helm proyek dikenakan. Cangkul dan arko dipegang seperti properti panggung.
Bukan untuk bekerja. Tapi untuk berfoto. “Pesannya supaya orang melihat bahwa pekerjaan yang sering dianggap kotor itu justru punya nilai besar,” imbuhnya.
Ini jauh dari definisi dekorasi mewah sebagai latar foto. Juga bukan latar artistik seperti biasanya.
Yang ada justru alat-alat yang selama ini berada di belakang layar. Yang bekerja diam-diam. Yang jarang mendapat sorotan.
Baca Juga: Ujung Tombak Validasi Data, Kelurahan di Mataram Dikerahkan Sisir Peserta BPJS Nonaktif
“Namun justru di situlah daya tariknya,” tekannya.
Satu per satu pegawai mengambil posisi. Sebagian berdiri di samping mobil. Sebagian lain duduk santai di atas arko.
Semua terlihat ringan. Tapi pesannya dalam.
“Kalau kota ini bersih, nyaman, itu ada proses panjang di belakangnya. Itu yang ingin kita perlihatkan,” ujarnya.
Momentum Hari Kartini membuat suasana terasa berbeda. Perempuan-perempuan PUPR tampil percaya diri dengan balutan rapi, namun tetap mengenakan helm proyek.
Simbol sederhana. Bahwa ruang kerja tak lagi terbatas. Bahwa perempuan juga hadir di garis kerja yang sama.
Di balik foto itu, ada cerita tentang kerja yang tak selalu terlihat indah, tetapi selalu dibutuhkan. Tentang profesi yang kadang dijauhkan, tetapi sesungguhnya paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dan perlahan, cara pandang itu mulai berubah. Yang dulu dihindari, kini dipahami. Yang dulu dianggap biasa, kini dihargai.
“Ini juga bentuk apresiasi untuk teman-teman di lapangan yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan,” katanya.
Baca Juga: Disperkim Mataram Realisasikan Program RTLH 2026, Fokus Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Miskin
Karena pada akhirnya, bukan alatnya yang menentukan nilai sebuah pekerjaan.
Melainkan manfaat yang dihasilkan. “Jangan lihat dari apa yang kita pakai, tapi lihat dari apa yang kita kerjakan untuk masyarakat,” tutupnya. (*/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin