Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lansia Mataram Meningkat, dr. Emirald: Petugas Harus Jemput Bola Pantau Pasien Kronis

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 30 April 2026 | 15:56 WIB
CEK KESEHATAN: Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan kondisi tubuh warga menggunakan alat ukur berat dan komposisi tubuh dalam kegiatan layanan kesehatan di tingkat masyarakat, beberpaa waktu lalu.
CEK KESEHATAN: Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan kondisi tubuh warga menggunakan alat ukur berat dan komposisi tubuh dalam kegiatan layanan kesehatan di tingkat masyarakat, beberpaa waktu lalu. (ZAD/LOMBOK POST)

 

LombokPost — Peningkatan angka harapan hidup di Kota Mataram mulai memunculkan tantangan baru. Lansia kini menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi beban penyakit, terutama penyakit degeneratif.


Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirald Isfihan, menyebut angka harapan hidup warga Mataram saat ini berada di kisaran 75 tahun. Angka ini tergolong tinggi, namun membawa konsekuensi yang tidak ringan.


“Usia bertambah, tapi produktivitas menurun. Penyakit degeneratif justru meningkat. Kalau tidak disiapkan, ini jadi beban baru,” tegasnya, Rabu (29/4). 

Dari hasil turun lapangan, persoalan lansia terlihat nyata. Dalam satu lingkungan saja, ditemukan puluhan lansia dengan kondisi kesehatan yang beragam.


“Ini bukan satu dua kasus. Hampir di setiap wilayah ada. Dan sebagian besar terkait penyakit kronis,” ujarnya.


Menurut dr. Emirald, peningkatan usia harapan hidup tidak bisa hanya dipandang sebagai keberhasilan semata. Pemerintah juga harus siap menghadapi dampaknya, terutama dalam pelayanan kesehatan.


Lansia tidak hanya membutuhkan pengobatan, tetapi pendampingan jangka panjang. Apalagi banyak di antaranya yang sudah tidak produktif dan bergantung pada keluarga.


“Bagaimana kualitas hidup mereka di usia itu,” tekannya.


Karena itu, pola layanan kesehatan mulai diubah. Dinas Kesehatan mendorong pendekatan aktif dengan mendatangi langsung warga.


“Kalau lansia tidak bisa datang, petugas yang harus datang. Itu yang kita dorong sekarang,” tegasnya.

 

Baca Juga: Kisah Musa, Penjual Soto di Sudut Islamic Center: Dewasa Sebelum Waktunya karena "Merarik Kodeq"


Pendekatan ini menyasar lansia dengan penyakit kronis, termasuk pasien pasca stroke yang membutuhkan pemantauan rutin. Di sisi lain, dr. Emirald mengingatkan bahwa persoalan lansia tidak berdiri sendiri. 

Ia berkaitan erat dengan kondisi sosial dan lingkungan. “Semua ujungnya ke kesehatan. Mau itu sosial, ekonomi, atau lingkungan, akhirnya bermuara ke sini,” katanya. (zad/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#lansia mataram #layanan kesehatan #angka harapan hidup