Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kalah Saing Lawan Pasar Daring, Retribusi Pasar Tradisional Mataram Melambat di Triwulan I

Sanchia Vaneka • Minggu, 3 Mei 2026 | 13:31 WIB
MULAI SEPI: Deretan lapak penjual baju di salah satu pasar di Kota Mataram, beberapa waktu lalu.
MULAI SEPI: Deretan lapak penjual baju di salah satu pasar di Kota Mataram, beberapa waktu lalu.

 

LombokPost  – Capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi pasar hingga penghujung triwulan pertama tahun 2026 menunjukkan tren melambat. Berdasarkan data per 30 Maret 2026, realisasi retribusi baru menyentuh angka 17 persen dari total target tahunan yang dibebankan sebesar Rp 8,25 miliar.
 
“Per Maret ini seharusnya kita sudah di posisi 20 persen. Tapi memang di awal tahun begitu. Pertama, kita masih berada di musim penghujan. Kedua, kemarin bulan puasa dan persiapan musim haji juga memengaruhi aktivitas di pasar,” ungkap Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Irwan Harimansyah, Rabu (29/4). 
 
Ia menjelaskan, anggapan bulan Ramadan akan meningkatkan retribusi secara otomatis tidak sepenuhnya tepat. Meski jumlah pedagang musiman atau pedagang takjil meningkat di sore hari, namun aktivitas pedagang reguler di pagi hari justru berkurang.
 
“Pedagang itu kebanyakan mengumpul di sore hari saja. Pagi hari cenderung jarang. Tetap kita pungut retribusinya, tapi masalahnya banyak pedagang rutin yang justru tidak berjualan atau jam operasionalnya terbatas,” jelasnya.
 
Tahun ini, target retribusi pasar memang mengalami kenaikan cukup signifikan. Jika sebelumnya target dipatok pada angka Rp 7,4 miliar, tahun ini Disdag harus mengejar angka Rp 8,25 miliar. 

Baca Juga: JCH asal Kota Mataram Ditolak Masuk Arab Saudi, Terkena Sanksi Aturan Keimigrasian

Kenaikan beban target ini mencakup retribusi harian pedagang hingga sewa ruang atau kios di 19 pasar yang dikelola pemkot. Meski realisasi tahun lalu hanya mencapai 76 persen dari target Rp 7,5 miliar, Irwan mengaku tetap optimistis menghadapi tahun 2026. 

Ia menargetkan setidaknya capaian akhir tahun nanti bisa menembus angka di atas 80 persen. “Saya harus optimistis. Walaupun target dinaikkan, kita berusaha minimal bisa habiskan atau capai 80 persen ke atas,” tegasnya.
 
Irwan mengatakan sering melakukan inspeksi mendadak (sidak) hingga menyamar ke pasar-pasar untuk memetakan titik kebocoran retribusi. “Saya sering turun lapangan sendiri untuk melihat ini,” tambahnya.
 
Selain masalah kebocoran, tantangan berat juga datang dari sektor perdagangan konveksi atau pakaian. Pasar-pasar seperti Cakranegara dan Pagesangan mulai lesu akibat hantaman bisnis online atau sistem COD. 
 
“Pedagang baju kita kalah bersaing dengan pasar daring. Ini hampir terjadi di semua pasar, termasuk pasar besar," katanya.
 
Kondisi fisik bangunan juga menjadi sorotan. Irwan mencontohkan Pasar Mandalika yang memiliki konstruksi beton permanen namun tidak diminati pedagang karena dianggap tidak sesuai dengan budaya berjualan di lantai. Konstruksi yang dibangun tahun 2017 tersebut hingga kini sulit difungsikan secara optimal.
 
“Budaya pedagang kita itu inginnya yang praktis, tidak mau konstruksi yang terlalu formal seperti tempat jual ikan di kota-kota besar. Tugas kami sekarang bagaimana membenahi itu dan menarik kembali minat pedagang untuk masuk ke dalam pasar agar tidak berantakan di luar,” paparnya.
 
Saat ini, tumpuan utama PAD pasar masih berada di empat pasar besar, yakni Pasar Mandalika, Pasar Kebon Roek, Pasar Pagesangan, dan Pasar Sayang-Sayang. “Jangan lihat depannya saja yang deretan ruko. Kalau masuk ke dalam sampai ujung kali, itu aktivitasnya sangat padat. Pasar-pasar besar inilah yang akan terus kita genjot menutupi kekurangan target di pasar-pasar kecil," pungkasnya. (chi) 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #pasar cakra #target retribusi #pasar tradisional vs daring