Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan Sekadar Rupiah, Pedagang Musiman di Asrama Haji Mataram Cari Berkah "Tamu Allah"

Sanchia Vaneka • Minggu, 3 Mei 2026 | 13:44 WIB

 

MENGAIS REJEKI: Muhamad pedagang musiman bantal leher di depan Asrama Haji. (CHIA/LOMBOK POST)
MENGAIS REJEKI: Muhamad pedagang musiman bantal leher di depan Asrama Haji. (CHIA/LOMBOK POST)

 


Keberangkatan calon jamaah haji tahun 2026 menjadi peluang bagi para pedagang musiman. Banyak orang menangkap peluang untuk menyediakan kebutuhan logistik para tamu Allah dan keluarganya.

 
----
 

TERIK matahari di kawasan Jalan Lingkar Selatan, seolah tidak menyurutkan langkah ribuan orang yang memadati sekitaran Asrama Haji Mataram. Aroma minyak wangi khas tanah suci sesekali tercium, berbaur dengan riuh rendah suara sanak saudara yang melepas keberangkatan jamaah haji musim 2026 ini. 
 
Di tengah suasana tersebut, ada dinamika lain yang bergerak. Denyut ekonomi kecil yang mengais rezeki di sela trotoar dan pagar asrama.
 
Muhamad, pria asal Masbagik, Lombok Timur, musim haji adalah jarak dari rutinitasnya sebagai buruh serabutan. Mengenakan kaos merah yang mulai lembap oleh keringat, tangannya nampak cekatan menata tumpukan dagangan yang ia gantung pada bilah-bilah bambu sederhana.

Ada boneka, mainan anak-anak, hingga perlengkapan pendukung seperti bantal leher. Muhamad paham benar karakter pengantar haji asal Pulau Seribu Masjid ini. 

Tradisi mengantar jamaah hingga ke depan pintu asrama seringkali melibatkan rombongan besar dalam satu keluarga, termasuk anak-anak kecil. “Kalau jamaah dari Lombok Timur yang datang, pengantarnya bisa mencapai ribuan orang. Mereka membawa cucu atau anak kecil. Di situ dagangan mainan atau sekadar bantal leher untuk istirahat di pinggir jalan laku,” kata Muhamad, sambil melayani seorang pembeli yang menawar dagangannya, Selasa(28/4). 
 
Menurutnya, berdagang di sini bukan sekadar soal untung-rugi. Ini perhelatan tahunan yang dinanti. 
 
“Ini kesempatan setahun sekali. Menyediakan apa yang kira-kira dibutuhkan pengantar yang harus menunggu berjam-jam di luar pagar,” imbuhnya.
 
Tak jauh dari tempat Muhamad berdiri, tampak Zaidin, pria asal Selagalas yang mengenakan kaos biru. Jika Muhamad fokus pada mainan dan perlengkapan santai, Zaidin lebih banyak bergerak pada kebutuhan dasar pengantar yang kerap terlupakan. 

Ia adalah salah satu pedagang yang sudah bertahun-tahun merasakan manis-pahitnya berjualan di musim haji. Menurut Zaidin, kunci sukses berdagang di area asrama adalah kecepatan membaca situasi. 

Ia paham ribuan pengantar yang datang dari desa-desa terpencil seringkali tidak melakukan persiapan matang, menunggu lama di area asrama yang minim fasilitas duduk. “Banyak yang datang hanya modal semangat mengantar keluarga, tapi mereka lupa kalau di sini panas dan prosesnya lama. Kebutuhan alas duduk seperti tikar plastik atau sandal jepit pengganti jika sandal mereka putus di tengah kerumunan itu sangat tinggi,” jelasnya.
 
Zaidin bercerita, menjadi pedagang musiman di musim haji membutuhkan ketahanan fisik yang prima. Ia harus berangkat sejak subuh untuk mendapatkan posisi strategis dan tetap terjaga hingga bus terakhir jamaah meninggalkan asrama menuju bandara.
 
Fenomena ini menunjukkan betapa ritual ibadah besar mampu memberikan efek domino bagi ekonomi lapisan bawah. Angle ini memperlihatkan sisi lain haji yang tidak hanya soal spiritualitas, tapi tentang bagaimana sebuah keramaian menjadi magnet bagi perputaran uang yang nyata bagi warga lokal.
 
Kebutuhan sandang atau alas duduk, barang-barang yang nampak sepele seperti tas selempang kecil, kaos kaki, hingga bantal leher menjadi primadona. Bagi para pengantar, barang-barang ini penyelamat kenyamanan di tengah cuaca Mataram yang menyengat.
 
Dalam sehari, baik Muhamad maupun Zaidin mengaku bisa mengantongi keuntungan cukup lumayan dibandingkan hari-hari biasa. “Alhamdulillah, hasilnya sangat membantu untuk tambahan biaya sekolah anak dan kebutuhan dapur. Rezeki haji ini bukan hanya untuk yang berangkat ke Mekkah, tapi juga merembes ke kami yang berjualan di pinggiran,” ucap Zaidin.
 
Meski demikian, tantangan yang mereka hadapi tidaklah mudah. Mereka harus pintar-pintar menata lapak agar tidak mengganggu arus lalu lintas dan tertib mengikuti aturan dari pihak keamanan asrama. 

Belum lagi persaingan dengan puluhan pedagang lain yang menawarkan barang serupa. Meskipun mengejar rupiah, Zaidin menekankan pentingnya etika. 

Baca Juga: Warga Taman Seruni Keluhkan Infrastruktur, Lurah Taman Sari: Drainase Kecil dan Banyak yang Dicor

Baginya, berjualan di tengah suasana orang yang hendak beribadah tidak boleh dilakukan dengan cara "aji mumpung" atau menaikkan harga secara tidak wajar. “Kita di sini juga mencari berkah. Jangan sampai karena orang butuh, lalu harganya dipukul mahal sekali. Kasihan mereka yang sudah jauh-jauh datang dari desa. Biar untung sedikit, yang penting lancar dan barokah," tegas Zaidin sambil merapikan tumpukan tikarnya. (*/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #asrama haji Mataram #ekonomi warga #pedagang kecil