LombokPost – Ancaman abrasi dan terjangan gelombang pasang di pesisir Kota Mataram terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Memasuki kuartal pertama tahun 2026, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram bergerak cepat memperkuat mitigasi bencana melalui pemasangan batu boulder (penahan gelombang) di titik-titik kritis, terutama di kawasan legendaris Pantai Ampenan.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning, menyatakan langkah ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kota Mataram di bawah kepemimpinan Wali Kota H. Mohan Roliskana untuk menjamin keamanan warga pesisir. "Kami memprioritaskan penanganan di lokasi yang paling terdampak, seperti Kampung Bugis dan sekitarnya, guna meminimalkan risiko kerusakan pemukiman akibat rob," ujarnya, Senin (27/4).
Pemasangan batu boulder tahun ini tidak dilakukan secara serampangan, melainkan berdasarkan pemetaan titik rawan. Berikut adalah detail teknis program yang bersumber dari APBD 2026 untuk pemasangan batu bolder di tiga lokasi utama.
Alokasi per Titik, khusus untuk kawasan pesisir Ampenan (termasuk Kampung Bugis/Pondok Perasi). Cakupan Panjang batu boulder berhasil dipasang sepanjang kurang lebih 300 meter secara akumulatif di area-area strategis yang mengalami penurunan elevasi tanah.
Spesifikasi Material, menggunakan batu alam (andesit besar) dengan volume satu bongkah batu mencapai 1 meter kubik. Hal ini memastikan penahan gelombang memiliki bobot yang cukup untuk meredam energi ombak.
Metode "Dilepas Berjejer" yang Ramah Nelayan
Berbeda dengan tanggul permanen yang menjulang tinggi, Dinas PUPR menerapkan sistem riprap atau batu yang dilepas berjejer menjorok ke arah pantai sekitar 3-4 meter. Metode ini dipilih bukan tanpa alasan.
"Kami mendengarkan aspirasi warga. Jika dibuat tanggul tinggi yang kaku, para nelayan kita akan kesulitan saat hendak melaut atau menyandarkan perahu mereka. Dengan sistem boulder yang dilepas ini, fungsi memecah gelombang tetap maksimal, namun mobilitas nelayan tidak terganggu," tambahnya.
Target Jangka Panjang
Baca Juga: Dapur MBG Ramai-Ramai Urus Sertifikat Higiene, Dikes Mataram Pastikan Tak Ada "Jalur Belakang"
Meskipun pemasangan batu bolder di titik-titik seperti Pondok Perasi dan Bintaro telah rampung pada Februari-Maret 2026, Pemerintah Kota Mataram menyadari penanganan permanen membutuhkan dana yang jauh lebih besar. Saat ini, juga tengah mengusulkan bantuan ke pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk pembangunan pemecah gelombang (breakwater) permanen di sepanjang 9 kilometer garis pantai Mataram.
Sambil menunggu dukungan pusat, batu boulder inilah yang menjadi "tameng utama" bagi warga Ampenan menghadapi musim angin barat dan cuaca ekstrem di tahun 2026. Melalui langkah taktis ini, Pantai Ampenan tidak hanya tetap menjadi ikon wisata sejarah, tetapi juga menjadi kawasan yang lebih tangguh dan aman.
“Terutama bagi ribuan warga yang menggantungkan hidupnya di pinggir laut,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin