Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dua Minggu Langsung Penuh, Emak-emak di Pejeruk Mataram Ketagihan Minta Tambah Lubang Biopori!

Lalu Mohammad Zaenudin • Minggu, 24 Mei 2026 | 11:47 WIB
Sumiati tengah menuturkan pengalamannya menggunakan biopori.
Sumiati tengah menuturkan pengalamannya menggunakan biopori.

 


LombokPost
– Pemanfaatan lubang resapan biopori mulai dirasakan manfaatnya oleh warga Kelurahan Pejeruk, Kota Mataram. Selain membantu mengurangi sampah rumah tangga, biopori juga dinilai bermanfaat untuk menyuburkan tanaman di sekitar rumah.

 

Salah seorang warga, Sumiati, mengaku telah menggunakan lima lubang biopori untuk mengelola sampah organik rumah tangganya. Sampah dapur yang sebelumnya dibuang kini dimasukkan ke dalam lubang biopori hingga terurai menjadi kompos alami.

 

“Untuk sampah rumah tangga saya sangat membantu sekali. Hasil penguraiannya saya tabur ke tanaman-tanaman yang pernah saya tanam. Sangat bermanfaat,” ujarnya saat sesi diskusi dalam sosialisasi pemanfaatan biopori.

 

Menurutnya, keberadaan biopori membuat warga memiliki rasa tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan masing-masing rumah tangga.

 

“Kalau dipasang di setiap rumah, seperti kata Pak Kabid tadi, sangat bermanfaat. Jadi warga merasa punya tanggung jawab dengan sampahnya sendiri,” katanya.

 

Ia bahkan mengaku ingin menambah jumlah lubang biopori di rumahnya karena kapasitas yang ada cepat penuh. Dalam dua minggu, satu lubang biopori disebut sudah terisi penuh oleh sampah organik rumah tangga.

 

“Kalau saya pikir sekitar dua mingguan sudah penuh satu lubang,” katanya.

 

Meski demikian, ia menjelaskan volume sampah di dalam lubang lama-kelamaan akan turun karena proses penguraian alami.

 

Dalam sesi diskusi, warga juga menanyakan cara mempercepat proses penguraian sampah di dalam biopori agar tidak menimbulkan bau.

 

Menanggapi hal itu, Kabid Tata Lingkungan, Dinas LH Kota Mataram Salikin menjelaskan bahwa sampah organik dapat langsung dimasukkan ke dalam lubang biopori dengan tambahan daun-daunan sebagai penutup.

 

“Kalau sampah basah dimasukkan langsung bisa saja, cuma supaya tidak bau ditutup daun-daun di bagian atasnya,” jelasnya.

 

Selain membantu menekan bau, penutup daun juga menjaga kelembaban di dalam lubang sehingga proses penguraian berlangsung lebih cepat. Air hujan yang masuk ke lubang juga membantu mempercepat pembusukan sampah organik.

 

“Kalau kelembabannya bagus, proses penguraiannya lebih cepat,” katanya.

 

Dalam kesempatan itu, warga lain, Isna dari Lingkungan Pejeruk Barat juga menanyakan apakah ada jenis tanah tertentu yang tidak cocok untuk pembuatan biopori.

 

Menjawab pertanyaan tersebut, Salikin menjelaskan bahwa hampir semua jenis tanah di Kota Mataram pada dasarnya cocok digunakan untuk biopori.

 

“Hampir semua jenis tanah bisa. Yang perlu diperhatikan hanya tinggi muka air tanahnya,” jelasnya.

 

Menurutnya, lokasi yang memiliki muka air tanah terlalu tinggi kurang ideal untuk fungsi resapan air. Namun kondisi tersebut jarang ditemukan di wilayah Kota Mataram, kecuali di beberapa kawasan yang sangat dekat dengan pantai.

 

“Kalau di Mataram rata-rata masih cocok untuk biopori,” katanya.

 

Suasana diskusi berlangsung santai dan interaktif. Bahkan Salikin sempat berseloroh agar warga tidak membuat biopori di tanah milik tetangga.

 

“Asal jangan buat di tanah tetangga, nanti bisa berkecamuk,” ujarnya disambut tawa peserta sosialisasi.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #lubang biopori #warga pejeruk #karakter tanah