LombokPost – Pemerintah Kota Mataram mulai menyiapkan transformasi layanan kesehatan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) hingga ke tingkat puskesmas. Langkah ini ditegaskan dalam kegiatan Diseminasi Riset AI-Driven Pediatric Teledermatology dan pelatihan kesehatan kulit anak yang digelar di Mataram, Sabtu (30/5).
Pemkot menargetkan puskesmas tidak lagi sekadar menjadi fasilitas layanan dasar, tetapi mampu memanfaatkan teknologi modern untuk membantu dokter menegakkan diagnosis secara lebih cepat dan akurat.
“Kota Mataram tidak boleh tertinggal dalam pelayanan kesehatan, tak terkecuali di puskesmas. Kalau rumah sakit canggih itu sudah seharusnya, tapi kalau puskesmas bisa canggih itu baru luar biasa,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. H. Emirald Isfihan, MARS., M.H., CMC., FISQua.
Kegiatan tersebut mempertemukan dunia akademik, peneliti, dan praktisi kesehatan dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi. Dinas Kesehatan Kota Mataram menggandeng Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) PERDOSKI, Universitas Bina Nusantara (BINUS), Pusat Riset Komputasi BRIN, serta Fakultas Kedokteran Universitas Mataram untuk memperkenalkan teknologi PediDERM-AI, sebuah sistem teledermatologi anak yang didukung kecerdasan buatan.
Sebanyak 35 dokter dari seluruh puskesmas di Kota Mataram mengikuti pelatihan tersebut. Masing-masing puskesmas mengirimkan dua hingga tiga dokter sebagai perwakilan untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam memanfaatkan teknologi baru.
Menurut dr. Emirald, aplikasi yang diperkenalkan nantinya akan digunakan di seluruh puskesmas sebagai alat bantu pemeriksaan dan diagnosis penyakit kulit anak. Kehadiran teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketepatan diagnosis sekaligus membantu dokter menentukan terapi yang lebih sesuai bagi pasien.
“Aplikasi ini akan membantu para dokter melakukan pemeriksaan sekaligus diagnosis dengan bantuan teknologi modern. Dengan demikian diagnosis bisa lebih akurat dan pengobatan menjadi lebih tepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masalah kesehatan kulit pada anak masih menjadi salah satu kasus yang cukup sering ditemui dalam pelayanan kesehatan dasar. Di sisi lain, akses terhadap dokter spesialis kulit anak belum merata, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan tenaga spesialis.
Melalui pendekatan teledermatologi berbasis AI, dokter puskesmas dapat memperoleh dukungan dalam proses skrining awal, konsultasi, hingga pengambilan keputusan klinis. Teknologi tersebut diharapkan mampu menjembatani kesenjangan akses layanan kesehatan spesialistik yang selama ini menjadi tantangan.
“Teknologi dapat membantu mempercepat konsultasi, meningkatkan akurasi pengambilan keputusan klinis, serta memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Baca Juga: Melihat Keseruan Komunitas Lombok Diecast Crew, Gen Z dan Generasi X Disatukan oleh Mobil Miniatur
Meski demikian, dr. Emirald menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh dipandang sebagai pengganti peran tenaga kesehatan. Menurutnya, AI hanyalah alat bantu yang mendukung proses pelayanan, sementara aspek kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama dalam dunia medis.
“Secanggih apa pun teknologi yang kita miliki, teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan empati, kepedulian, komunikasi, dan sentuhan kemanusiaan yang menjadi inti profesi kesehatan,” tegasnya.
Selain memperkenalkan teknologi baru, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan di Kota Mataram. Dinas Kesehatan ingin memastikan para dokter terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
“Kita ingin memberikan pelayanan yang lebih baik dengan terus meng-upgrade skill, pengetahuan, dan keterampilan para dokter sekaligus memanfaatkan teknologi kedokteran yang semakin canggih sesuai tuntutan zaman,” jelasnya.
Pemkot Mataram berharap hasil riset dan inovasi yang diperkenalkan dalam forum tersebut tidak berhenti sebagai kajian akademik, tetapi benar-benar dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan sehari-hari. Dengan dukungan teknologi telemedicine dan kecerdasan buatan, puskesmas diharapkan mampu memberikan layanan yang lebih cepat, presisi, dan mudah diakses masyarakat.
“Harapan kami, masyarakat tidak perlu selalu bergantung pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk mendapatkan layanan yang berkualitas. Ketika puskesmas mampu memanfaatkan teknologi modern, maka pelayanan kesehatan yang baik bisa dirasakan lebih dekat oleh masyarakat,” tutupnya.