Jalanan di depan eks Bandara Selaparang, tak pernah sepi dari beragam aktivitas. Apalagi selama bulan Ramadan.
Puluhan lapak pedagang kaki lima (PKL) berderet rapi. Menjual berbagai macam kudapan kekinian, untuk dijadikan takjil.
------------------
“IZIN ibu, saya atur rapi ya biar motornya nanti gampang keluar,” ucap salah seorang tukang parkir.
Ia menata dan mengatur satu per satu setiap kendaraan warga yang hendak membeli makanan, untuk berbuka puasa atau takjil di sepanjang jalan eks Bandara Selaparang, Mataram.
Puluhan kendaraan baik roda empat maupun roda dua yang berhenti di sepanjang area tersebut, memang menjadi bukti bahwa jajanan yang dijual oleh para pedagang sangat menggugah selera.
Mereka kebanyakan membawa kendaraan pribadi. Itu yang membuat petugas parkir sibuk mengarahkan para pengendara untuk menepi, agar jalan tidak macet.
Pengunjung juga mengelilingi penjual-penjual takjil yang ada di lokasi.
Terlihat juga ada antrean di penjual kue basah dan kering. Tetapi, tidak sedikit pula yang terlihat mendatangi lapak penjual minuman dingin dan segar.
Rasanya tidak terhitung, berapa jumlah penganan yang dijual di lokasi tersebut.
Mulai dari potongan buah segar, stick kentang, mochi si kue tradisional Jepang dengan berbagai rasa, penganan khas Korea Selatan, potongan kue tart, es campur, es kelapa muda, sate Rembiga, ragam jajanan tradisional, tahu gejrot, dimsum, kebab, pangsit, gohyong, cimol, cireng, lumpia, martabak, jus buah, pempek Pelambang, es cokelat, soto, rawon, ragam olahan seafood, ikan bakar, ayam geprek dan masih banyak lagi.
Ragam pilihan takjil yang dijual di sepanjang jalan eks Bandara Selaparang membuat Dinci, warga Labuapi, Lombok Barat rela datang lebih awal agar bisa kebagian.
“Tadi selepas salat Asar, sudah jalan ke sini, biar kebagian, kan tahu di sini ramai banget,” kata dia.
Dinci tidak sendiri, ia membawa serta anaknya yang berusia empat tahun untuk sama-sama berburu takjil.
“Alhamdulillah dia puasa, jadi ini kita cari takjil sambil ngabuburitlah,” ujarnya.
Ia memang sengaja berburu takjil di depan eks Bandara Selaparang.
Selain lokasinya yang sangat strategis, pilihan penganan untuk berbuka puasa juga banyak dan pastinya tidak monoton.
“Tadi beli kebab, burger, gorengan, jus buah, ini mau beli beberapa lagi,” terang Dinci.
Selain itu, tak kalah penting adalah rasa penganan yang dijual memiliki cita rasa yang enak, menggugah selera dan pastinya berkualitas.
Meski demikian, harganya tetap terjangkau dan tergolong masih ramah di kantongnya.
“Di sini selain varian jajanan lebih banyak, harganya masih terjangkau menurut saya, ada yang seribuan sampai Rp 10 ribu,” ungkapnya.
Tidak heran, ini juga yang membuat Dinci suka kalap dan lapar mata.
Dari rumah, ia sudah menyiapkan budget untuk membeli aneka penganan takjil sebesar Rp 100 ribu.
Namun, setibanya di depan eks Bandara Selaparang, berjalan memilih dan memilah penganan apa saja yang akan dibeli, eh jumlah budget itu malah bertambah.
“Tau-taunya sudah habis Rp 150 ribu, bahkan Rp 200 ribu, apalagi saya bawa anak juga kan ini, nggak kerasa full kantong plastik di tangan saya,” katanya sambil tersenyum.
Sama halnya yang terjadi dengan Topan. Warga Mataram ini datang membeli aneka kudapan untuk berbuka puasa, bersama teman-teman kantornya.
“Ini tadi beli gorengan sama es campur, gorengan itu pasti ya, nggak bisa di skip kalau lagi buka puasa, ini mau beli jajan yang lain lagi,” kata dia.
Menurutnya, beragam jajanan kekinian yang di jual di depan eks Bandara Selaparang, adalah daya tarik tersendiri mengapa lokasi tersebut tidak pernah sepi dari pembeli. Kemudian lapak UMKM yang ada juga bersih.
“Saya suka beli takjil di sini, ramai tapi nggak padat, kita masih bisa jalan kaki santai, sambil lihat-lihat mana jajan yang mau kita beli, seru aja gitu sambil nunggu buka puasa,” ujarnya. (bersambung/r3)
Editor : Kimda Farida