Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Fakta Unik Beduk Raksasa di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center

Administrator • Sabtu, 23 Februari 2019 | 13:57 WIB
UKURAN RAKSASA: Beberapa orang melintas di dekat beduk Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center. Lokasi ini pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ Nasional 2016 lalu.
UKURAN RAKSASA: Beberapa orang melintas di dekat beduk Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center. Lokasi ini pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ Nasional 2016 lalu.

Acap kali dibuat jadi latar selfie, beduk raksasa Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ternyata menyimpan beberapa fakta unik. Apa saja itu?


LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram


==================================

SEORANG pria berdiri dekat beduk. Seorang lagi di samping kentungan. Pria di samping kentungan memulai. Ia mengetuk beberapa kali.


Lalu dengan sekuat tenaga, pria di samping kentungan mengerahkan tenaga. Dengan kedua tangan menghantam kulit yang jadi membran beduk. Dug... Duk... Duk!


Momen unik itu nampak sayang dilewatkan. Beberapa pria yang hendak naik ke lantai dua, berhenti. Menyaksikan beduk dipukul bertubi-tubi.


Sementara beberapa pria lain yang sudah kadung dibawa naik eskalator, enggan mengalihkan pandangannya. Terutama dari pria yang kembali berancang-ancang menghantam beduk dengan sekuat tenaga.


“Memang harus keras, kalau pelan malah suaranya kecil,” kata Abdurrahman, salah satu takmir masjid.


Bunyi beduk yang bertalu-talu sebelum azan jumat yang pertama itu pun telah jadi tradisi. Tak hanya para pria yang senang melihat momen jarang-jarang itu. Tapi ibu-ibu dan anak-anak, acap kali berkerumun. “Ya sampai (500 meter suara gema),” kiranya.


Jauh juga. Bahkan takmir pernah berupaya. Membuat suara gema lebih jauh lagi. Yakni dengan memasukkannya ke dalam amplifier spiker masjid. “Tapi suaranya kurang merdu,” imbuhnya.


Beduk itu hanya dibunyikan sekali dalam seminggu. Yakni pada hari Jumat saja. Kalau pas bulan Ramadan baru bertambah serial hari. Yakni pada saat buka puasa. “Seharusnya memang setiap masuk waktu salat, tapi masih kita lihat dulu bagaimana teknis memukulnya,” imbuhnya.


Maksudnya, apa pukulannya dibuat sama atau masing-masing waktu salat punya ciri khas. Sehingga orang yang mendengar. Bisa membedakan waktu itu.


“Misalnya Magrib di pukul berapa kali, terus Isya berapa kali,” terangnya.


Pukul beduk memang tradisi sebelum masyarakat muslim akrab dengan amplifier untuk azan. Maka beduk digunakan sebagai sarana informasi sejauh-jauhnya, telah tiba waktu salat.


Kepala UPT Islamic Center Sulaiman Jamsuri membenarkan beduk raksasa itu sumbangan dari komunitas masyarakat Tionghoa. “Tapi yang muslim,” kata Sulaiman.


Mereka tergabung dalam PITI. Akronim dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, NTB yang diketuai H Maliki. Beduk itu dibuat dari bahan kayu jati. Dari kulit sapi berbobot lebih dari satu ton. “Sapi berangus,” ujarnya.


Beduk raksasa itu sebenarnya punya 'saudara' ketika dibuat di Mojokerto, Jawa Timur. Dengan dimensi sama persis. Serta diameter 1,6 meter. “Cuma satu di bawa ke Bandung,” terangnya.


Pembuatan beduk menghabiskan anggaran Rp 75 juta. Saat beduk itu didatangkan dari Jawa menggunakan truk.


Begitu sampai beduk tidak bisa di bawa masuk. Karena terhalang pilar dan tangga di sisi masjid sebelah timur.


“Geser beduk dari tangga sampai ke tempatnya sekarang itu butuh tenaga 25 orang, selama 2 hari,” tuturnya.


Hanya saja posisi beduk saat ini ternyata tidak tepat. Karena rentan terkena sinar matahari dan percikan air saat hujan. Belakangan, bahkan muncul retakan-retakan di badan beduk yang mengkhawatirkan. “Mungkin karena panas dan dingin silih berganti,” ujarnya.


Sulaiman sebenarnya ingin menggeser posisi beduk agak dalam. Sehingga tidak lagi disinari matahari secara langsung dan terkena percikan air.


“Kalau saya lihat di daerah lain beduknya malah dibuatkan ruang khusus, bahkan dikasih kelambu,” katanya.


Biasanya salah satu usaha mebel di Sweta yang ikut berkontribusi merawat beduk itu. Sulaiman berharap daya tahan beduk bisa lebih lama. Selain sebagai ikon MTQ 2016 juga, kini kerap dijadikan kebanggaan saat berfoto dengan latar beduk raksasa itu. “Beduk itu datang beberapa hari sebelum gelaran MTQ 2016,” tutupnya. (*/r7)

Editor : Administrator
#Metropolis