Wanita yang bekerja sebagai petugas kebersihan ibu kota itu terlihat tak biasa. Ia membawa Bayi di bawah Lima Tahun (Balita) ikut serta bersamanya bekerja. Siapa mereka?
LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram
==================================
SIANG yang mulai lelah. Dengan aroma keringat yang menajam. Tangan Muslihatun masih kokoh mengais-ngais daun dengan sapu lidi.
Balita 2,9 tahun di sampingnya tak kalah asyik. Tangannya yang mungil terus melubangi tanah dan menemukan kebahagiaan di sana.
Sekali waktu, balita itu memungut daun. Lalu dimasukan ke dalam tong sampah kuning. Lalu jarak beberapa langkah dari tempat keduanya berada. Kendaraan roda dua dan empat meluncur bak anak panah lepas dari busurnya.
“Sudah biasa,” sahut Atun.
Atun dan putrinya berasal dari Aiq Beriq, Lombok Tengah. Saban pagi sekitar pukul 6 pagi bersama suami berangkat bertiga ke ibu kota. Takdir membuka jalan rezeki keduanya di ibu kota.
“Alhamdulillah saya diterima kerja di sini,” ujarnya syukur.
Sekalipun belum UMK, pendapatannya relatif layak. Sebulan ia bisa mengantongi Rp 1,2 juta. Sedangkan suaminya bekerja di sebuah proyek bangunan kawasan Sweta.
Tak ada yang disesali. Justru rasa syukur melimpah ruah dalam dada. Atun sangat menikmati pekerjaannya membersihkan ruas jalan Pejanggik. Dari perempatan kantor Gubernur ke barat. Sampai Bank BRI.
Ia justru bangga. Bisa ikut menjaga wajah ibu kota. Sehingga tetap bisa terlihat cantik dan mengundang kagum para wisatawan.
“Ya seneng,” ujarnya pendek. Lalu senyum malu-malu.
Hari semakin siang. Atun melepas lelah di bawah pohon beringin. Ia mendekati balitanya yang asyik bermain dengan beberapa helai daun, tanah yang dilubangi, dan imajinasinya yang sederhana.
“Uhuk… uhuk…!”
Balita itu terbatuk berkali-kali. Tapi balita itu seperti tak peduli. Tangannya asyik menggapai-gapai tangan ibunya. Ia berlari kecil mengitari pohon beringin. Sembari beberapa kali memegangi tangan ibunya.
“Sudah lima hari (sakit),” imbuh Atun.
Suci Hidayatullah nama balita mungil itu. Lebih memilih ikut bersama sang ibu daripada berdiam di rumah. Sebenarnya bocah itu punya beberapa teman sebaya di kampungnya. Hanya saja Suci tak betah berlama-lama berpisah dengan ibunya.
“Ada nenek dan kakaknya tapi tidak mau,” terangnya.
Lima hari sakit. Dan Atun tak pernah sekalipun membawa putrinya ke dokter. Alasannya ia takut biayanya kemahalan. Jadi jika bayinya sakit Atun biasanya mencukupkan bantuan medis dari dukun di kampungnya.
“Pakai pengobatan tradisional saja,” imbuhnya.
Bagi orang lain jawaban Atun mungkin keliru. Takut pada biaya yang tak seberapa. Tapi bagi Atun dan suaminya mereka tak ada pilihan. Kebutuhan hidup begitu banyak dan mereka harus pandai mengatur keuangan. Agar kebutuhan sehari-hari tercukupi.
Toh, resep turun-temurun itu selalu berhasil membuat putirnya sembuh. Begitu juga saat ia atau suaminya sakit. Mantra dari dukun beberapa kali terbukti ampuh membuat putrinya yang rewel, perlahan jadi lebih tenang.
“Ia sekarang sudah agak mendingan,” terangnya.
Sebenarnya Atun juga tidak tega membawa putrinya ikut bekerja. Apalagi dalam keadaan sakit seperti itu. Tapi ia tak tega membiarkan anaknya nangis seharian merindukan ia selama pergi bekerja. Karenanya, sebisa mungkin ia meminta anaknya mencari tempat yang agak teduh. Biar tak tesengat matahari langsung.
“Takut demamnya naik lagi,” imbuhnya.
Tapi Atun tak risau anaknya bermain di atas trotoar jalan. Sekalipun di samping ada jalan raya dengan banyak kendaraan melaju kencang. Balitanya itu sudah terbiasa patuh bermain dan tak berani turun ke jalan raya.
“Sambil nyapu saya juga awasi dia,” imbuhnya.
Kulit Suci sebenarnya putih bersih. Tapi sejak ia selalu ikut dirinya bekerja di jalan, kulitnya berubah hitam. Di sekujur kakinya juga terlihat bercak-bercak hitam, bekas luka cacar air.
“Dia sebenarnya kulitnya putih, tapi karena sering ikut kerja jadi hitam,” celetuknya.
Diam-diam Atun menyelipkan mimpi. Agar kelak anaknya bisa tumbuh jadi anak yang baik, pintar, dan berbakti pada orang tua. Atun sebenarnya sangat ingin anaknya kelak bisa jadi dokter. Dan menolong orang-orang yang tak mampu.
“Tapi biayanya mungkin sangat mahal dan saya tidak akan mampu,” cetusnya.
Atun dan putrinya akan terus ada di ruas jalan Pejanggik itu. Dari pukul 10 pagi sampai sore hari. Barulah pada pukul 5 sore, suaminya datang menjemput. Dan ketiganya bersama-sama kembali ke gubuk sederhananya. Yang selalu diselimuti hawa dingin bila malam tiba menjemput sore.
“Sore-sore baru dijemput dan pulang bersama-sama,” tutupnya. (zad/r5)
Editor : Administrator