Perannya mungkin tak terlalu banyak yang memperhatikan. Tetapi ia telah menyambung persaksian abadi, tidak hanya di dunia. Tapi hingga masa pengadilan Tuhan digelar!
LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram
=================================
PRIA jangkung itu menaruh tas hitamnya dengan pelan. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah Alquran. Dengan takzim ia mendekap di dadanya. Sejurus kemudian ia telah berjalan menuju sebuah kursi kosong. Di samping para pejabat yang akan dilantik.
Baju rohaniawan yang ia kenakan berkibar pelan. Pria itu begitu tenang namun tak mengurangi sikapnya yang takzim dan penuh hormat. Sedikit membungkuk takzim. Baju rohaniawan serupa baju para hakim itu berkibar. Pelan.
Ia M Fathurraman. Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Selaparang. Entah sudah yang keberapa kali ia dipercaya menjadi saksi dan pemegang Alquran untuk sumpah pejabat. “Kalau dihitung sejak saya dilantik jadi kepala KUA sepertinya sudah ribuan kali,” kata Fathur, lembut.
Orang dengan mudah akrab dengan Fathur. Sikap dan tutur bahasanya yang teduh dan lembut. Begitu cepat menggambarkan pria ini sosok yang menyenangkan dan mendamaikan. Tak salah jika ratusan kali menggelar pelantikan pejabat, pemkot selalu mempercayakan tugas ini pada dia. “Iya ini pekerjaan yang berat di dunia dan akhirat,” akunya.
Lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini memang tak sekadar mengangkat kitab suci. Di atas kepala para pejabat yang mengikararkan janji setia. Lebih dari itu kelak Fathur akan bersaksi di hadapan pengadilan Tuhan atas ribuan pejabat yang telah ia saksikan sumpahnya.
Kala itu tidak ada seorang pun yang bisa membayar kesaksiannya. Tidak pula materi semulia apapun yang dapat mengoyakhan kesaksiannya di hadapan Tuhan. Atas sumpah dan janji yang telah diucapkan dengan lantang. Oleh para pejabat.
“Karenanya saya memohon dan berpesan. Bekerjalah dengan sesungguh-sungguhnya dan sebaik-baiknya, karena itu akan dimintai pertanggung jawaban kelak di hadapan Tuhan,” imbuhnya.
Tugas sebagai saksi kelak di akhirat mungkin tidak akan berat bagi Fathur. Di masa peradilan Tuhan yang diyakini pasti terjadi oleh semua umat Islam itu bersaksi mungkin pekerjaan yang paling mudah.
“Beda dengan di dunia, mungkin kita berat bersaksi karena masih bisa dipengaruhi iming-iming materi,” ujarnya.
Tapi di peradilan Tuhan tak ada yang bisa sembunyi. Kejujuran menjadi hal yang sangat mudah dan pasti dilakukan di akhirat kelak. Di saat itu Fathur mungkin tidak akan bisa menolong saudara, sahabat, dan kawannya yang telah ia ambil sumpahnya dengan kesaksian yang meringankan.
Karenanya, ia berharap mereka yang telah diambil sumpah bekerja dengan sebaik-baiknya. Setulus-tulusnya. Dan hanya takut pada Pencipta. Bukannya manusia.
“Setiap orang pasti pernah salah, memang sudah fitrah kita bisa salah. Tapi sudah sewajarnya, setelah salah jangan diulangi agar beban sumpah itu kelak tak terlalu berat,” nasehatnya.
Bagi Fathur momen yang paling berat yakni saat mengangkat Alquran di atas kepala pejabat. Bukan berat dalam arti harfiah, karena itu tak lebih sekadar musaf yang tebalnya hanya beberapa ratus halaman.
Tapi Fathur sadar, Alquran itu telah menjadi simbol pertalian janji. Antara pengucap janji dengan Tuhan yang menciptakannya.
“Hati saya kadang bergetar, menyaksikan orang-orang yang bersumpah di bawah Alquran. Betapa janji yang ia ucapkan, begitu kuat persaksiannya kelak di hadapan Pencipta,” ulasnya.
Sekalipun sudah ribuan orang telah ia ambil sumpahnya. Rasa bergetar dan takut itu begitu kuat ia rasakan sampai saat ini dalam jiwanya. Bagaimana tidak, janji setia itu diucapkan di bawah kalam-kalam Tuhan yang tak terbantahkan.
“Saya lupa persisnya tapi sudah puluhan tahun saya terus yang dipercaya sebagai pengambil sumpah,” ungkapnya.
Fathur yang gemar mendengar lantunan indah qari membaca alquran di waktu senggang melalui smartphonenya tak tahu sampai kapan ia akan dipecaya mengemban amanah mulia itu. Tapi semasa ia masih bisa menunaikannya dengan baik, ia memastikan selalu siap. Berdiri di samping para pejabat dan mengangkat alquran. “Termasuk diminta isi doa pun saya siap,” imbuhnya.
Beberapa pejabat mungkin akan lupa setelah bersumpah. Lalu ada yang larut dalam euforia kebahagiaan naik jabatan. Tapi Fathur telah merekam, semua persaksian mereka. Hingga kelak di masa Hari Perbalasan.
“Baju rohaniawan ini, semua kepala KUA, kanwil, dan kemenag punya baju ini,” jelasnya memperlihatkan baju rohaniawan yang ia pakai.
Baju itu boleh lusuh. Tapi serupa pita suara, baju itu juga telah ikut ‘merekam’ persaksian para pejabat yang dilantik dan pernah ia ambil sumpahnya. Kelak selain Fathur yang akan bersaksi sendiri. Baju itu pun akan bersaksi hingga yang bersumpah tidak bisa lagi membantah.
“Dewan hakam juga punya seperti ini,” tandasnya. (*/r7)
Editor : Administrator