Keprihatian pada sesama tidak hanya melahirkan rasa iba. Tapi kadang memotivasi seseorang untuk berani berbuat. Bergerak membantu sesama.
======================
LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram
USAHA yang ini memang baru seumur jagung. Nita Hermawati pemilik industri rumahan ini pun masih ingat dengan baik. Ia memulai usaha ini pada Kamis 24 Januari 2019 lalu. Tapi, sekalipun baru mencium aroma bisnis toko roti. Nita sudah terkaget-kaget dengan pesanan yang bejibun.
“Tidak ada niat membuka usaha sebenarnya. Tapi di kantor saat itu ada pisang yang begitu disukai teman-teman,” kenang Nita.
Nita sama sekali tak menyangka. Pisang itu justru membuka takdir baru usaha rumahannya. Di rumah pisang itu, ia olah menjadi adonan. Kemudian dengan gen pembuat roti yang ia warisi dari sang ibu, Nita membuat sebuah Bolu Pisang Kukus.
“Saat masih kecil, saya memang sering bantu ibu buat kue kukus. Tapi itu 25 tahun lalu, dan saya baru buat kue lagi baru-baru ini,” kisahnya.
Ada jeda waktu yang sangat lama. Sampai akhirnya Nita kembali mencoba-coba buat kue. Sembari mengingat bagaimana ibunya dulu mengajarinya.
Nita mulanya tak terlalu peduli soal rasa. Ia hanya ingin pisang itu tak mubazir. Barangkali dengan membentuknya jadi lebih menarik, orang akan semakin tertarik untuk menikmatinya.
“Keesokan harinya saya bawa ke kantor. Saya bekerja di Dinas Sosial Provinsi NTB,” ujarnya.
Di luar dugaan, rupanya teman-teman kantor Nita menyukai. Ia pun senang makanan pisang itu tidak mubazir. Bahkan beberapa temannya meminta dibuatkan lagi. Nita pun mememenuhi permintaan lagi.
Ia mengaku senang. Mengolah pisang yang awalnya tak terlalu disukai teman-temannya. Menjadi kue yang membuat mereka ketagihan. Setidaknya antusiasme itu menandai kemampuan ia dalam membuat kue juga teruji.
“Memang sih tidak pakai pisang saja, ada tepung, telur, dan beberapa isi kulkas yang bisa saya pakai buat kue. Tapi hampir di bilang saya merintis usaha ini dari pisang tadi,” ujarnya.
Tiga kali Nita membuat kue. Tiga kali itu pula teman-temannya selalu merespons baik dan suka. Ia lantas berpikir bagaimana kalau untuk keempat kalinya tidak gratis. Tetapi dijual dengan harga yang ramah kantong teman-temannya.
“Sebenarnya alhamdulillah gaji saya cukup. Tapi ada hal lain yang membuat saya terdorong ingin tetap menjalankan usaha ini,” ungkapnya.
Hal lain itu adalah keseharian Nita yang selalu berhadapan dengan anak-anak berkebutuhan khusus dan kaum disabilitas. Nita yang juga seorang pekerja sosial di sana selalu tersentuh melihat kehidupan mereka dengan segala keterbtasannya.
“Andai saja saya bisa bantu mereka, terutama para kaum disabilitas yang ada di luar dengan sedekah materi, mungkin kehidupan mereka sedikit akan lebih ringan,” ungkapnya.
Sejak itu Nita pun semakin semangat untuk membuat home industri roti. Ia menghitung-hitung dalam satu roti, ia bisa dapat untung sekitar Rp 5 ribu. Karenanya seribu rupiah dari hasil penjualan roti itu, ia donasikan. Kemudian diberikan pada kaum disabilitas.
“Saya pun mengkampanyekan jargon ‘belanja sambil beramal’,” ujarnya.
Niat baik Nita disambut baik rekan-rekannya. Tak hanya teman kantor Nita pun berusaha memanfaatkan media sosial dan aplikasi sosial lainnya untuk menjual produknya. Satu per satu teman-temannya tertarik membeli hingga ada yang berkali-kali repeat order.
Pesanan tidak hanya datang dari sekitar. Tetapi hingga luar daerah, seperti Sumbawa, Bandung, hingga Kalimatan. Dalam sehari Nita mengaku harus membuat 20-30 pcs roti. Dengan berbagai macam varian yang di-request.
“Sebenarnya pesanan bisa lebih dari 30 pcs, tapi saya hanya mampu memenuhi pesanan paling maksimal 30. Di luar itu angkat tangan saya,” jelasnya.
Saat ini Nita memenuhi pesanan dibantu anak dan suaminya. Sebenarnya laris manisnya roti Nita sempat didengar seorang chef kafe di wilayah Kekait, Lombok Barat. Chef itu pun sempat menawarkan diri mau jadi karyawan Nita.
“Tapi bagaimana ya, saya masih senang menekuni dulu bersama keluarga,” ujarnya.
Ia tak menampik ke depan ingin melihat usaha itu semakin besar. Tapi saat ini ia ingin merahasiakan resepnya dulu. Lalu tetap membuatnya bersama keluarga kecilnya.
Oh ya. Nita juga mengaku sempat mau berhenti. Ia merasa kesulitan mengatur kerja di kantor dengan pesanan yang bejibun. Tapi seorang teman kantornya Ririn memotivasi Nita.
“Dia (Ririn) bilang ‘jangan batasi harapan orang untuk bisa beramal sambil belanja’,” kutipnya pada pesan temannya itu.
Motivasi sahabatnya itu kembali membakar semangat Nita. Ia pun kini lebih bijaksana membagi waktu. Agar pekerjaan kantornya tidak terganggu. Tetapi ia juga bisa memenuhi permintaan kue dari para pelanggan setianya.
“Sepulang kerja baru saya ke pasar, beli bahan-bahan lalu malamnya buat kue,” jelasnya.
Sampai saat ini, setiap bulan Nita bisa menyisihkan sekitar 750 ribu bagi kaum difabel. Ia senang sekalipun jumlahnya belum terlalu besar. Tapi setidaknya dapat bermanfaat bagi mereka.
“Ada banyak kereasi yang bisa saya buat, semua dari bahan-bahan buah yang menyehatkan. Seperti buah naga, apel, pisang, dan lain-lain. Tergantung pesanan,” tandasnya. (*/r5)
Editor : Administrator