Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketika Tak Semua Anak Kota, Menikmati Hidup yang Serba Mudah

Redaksi Lombok Post • Sabtu, 6 April 2019 | 10:55 WIB
BERSANTAI: Rifai beristirahat di atas kursi kayu miliknya di bawah Jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan, kemarin (1/2).
BERSANTAI: Rifai beristirahat di atas kursi kayu miliknya di bawah Jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan, kemarin (1/2).

Ibu kota tak selalu menyenangkan bagi semua orang. Sekalipun di sana ada bangunan mewah dengan pusat-pusat kesenangan yang menggiurkan. Perbincangan dengan salah seorang bocah kota, memotret semua itu.


LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram


=================================

SIANG itu Yayan Maulidina menepi di teras ATM BNI 46. Ia menghindari sengatan matahari yang merayap tepat di atas ubun-ubun kepala. Sembari merebahkan badan dan menikmati sensasi dingin lantai keramik ia menyapa satu dua pengunjung ATM yang ingin tarik tunai di sana. “Jajan pak, bu ...,” sapa Yayan parau.


Suaranya nyaris tak terdengar. Tapi sepertinya cukup membuat orang tersadar ia ada di sana. Bandul di tangannya berulang kali ia mainkan. Hanya untuk membunuh waktu yang semakin lama membuatnya jemu menunggu. “Terima kasih mas,” jawab Yayan santun.


Begitu seorang pria berkemeja membeli kue dan rujak jualannya. Yayan masih bertahan. Sekali waktu tangannya merapikan bungkus kue dan rujak yang terbuka oleh tiupan angin.


Wajahnya menyiratkan risau yang cukup dalam. Melihat dagangannya masih banyak yang belum laku. “Nanti keliling lagi,” jawabnya pada Lombok Post datar.


Yayan bisa saja memilih seperti kebanyakan anak-anak seusianya yang lain. Sepulang sekolah pergi bermain sepuasnya. Sampai sore. Hingga orang tuanya memanggil untuk pulang. Tapi ia tak melakukan itu.


Ia lebih memilih menyisir lekuk-lekuk wajah kota. Membawa keresek penuh berisi kue dan rujak buatan bibinya. “Kalau laku semua bisa dapat upah Rp 20 ribu,” ujarnya.


Ia memang tidak bisa seperti kebanyakan anak-anak yang lain. Minta uang pada orang tuanya lalu bermain. Jika ia tak berjualan sendiri, Yayan anak asal Kebon Bawaq Timur, Pejeruk, Ampenan itu ia tak bisa punya uang saku. “Ayah saya namanya Aim, kerja sebagai buruh bangunan, ibu saya Raniah ibu rumah tangga biasa,” sebutnya.


Bagaimana rasanya lahir di keluarga tak berada? Yayan tersenyum. Lalu menyembunyikan separo wajahnya dalam lipatan tangannya. Ia tak bisa menjawab langsung pertanyaan ini. Tapi lebih memilih tertawa kecil, tanpa menyisakan raut penyesalan sedikitpun di wajahnya. “Biaya sekolah tetap ayah dan ibu yang tanggung,” terangnya.


Jawaban ini, cukup jadi alasan Yayan terlihat sangat bersyukur memiliki keluarga sederhana. Namun tidak membuat bocah kelas 6 SD itu, gentar menggantungkan cita-cita setinggi langit.


Yayan berharap suatu saat, jerih payahnya berkeliling kota berdagang dengan berjalan kaki membuahkan fisik kian tangguh. Lalu ia bisa mewujudkan mimpinya yang ingin jadi prajurit negara. “Mau jadi tentara,” jawab ia polos.


Kembali ke jualannya. Yayan setiap hari hampir kehilangan waktu bermain dengan teman-temannya. Ia bisa berdagang sampai sore. Bahkan hingga malam dengan kabut dinginnya turun ke bumi. Itu hanya, terjadi saat dagangannya tidak banyak terjual. “Ya terpaksa tidak ikut ngaji di surau,” ujarnya.


Tapi ia selalu berusaha. Supaya semua dagangannya bisa habis terjual sebelum matahari terlelap di peraduan. Lalu secepatnya pulang ke kampung. Berjalan kaki setengah berlari. Melewati pematang sawah dan sungai yang membelah kota. “Lalu buru-buru ke masjid dan mengaji dengan teman-teman,” jawabnya.


Yayan salah satu potret anak-anak kota yang tidak bisa ikut menikmati gemerlapnya pembangunan kota. Justru ia dan keluarganya tersingkir dalam sengitnya persaingan yang ada.


Saat orang-orang berduit berlomba-lomba mengumpulkan harta benda berlipat ganda. Yayan memilih merintis mimpi dari uang Rp 20 ribu, upah jualan dari bibinya.


“Ndak (capek), sudah terbiasa. Sudah dua tahun saya jualan seperti ini,” ungkapnya.


Yayan juga potret, sengitnya persaingan ibu kota. Berada di pusat pemerintahan yang jadi dambaan banyak orang dengan gemerlap pembangunan. Tidak serta merta membuat hidup di kota enak dan serba menyenangkan.


Tapi bagi mereka yang punya hati tangguh dan gigih. Akan menganggap apa yang sulit ini sebagai sesuatu yang mudah dan wajar. Seperti yang dituturkan Yayan, tentang hari-harinya, siang itu. “Sudah ya mas, saya mau lanjut jualan lagi,” ujarnya.


Yayan bangkit. Ia menyeret langkah membelah jalan yang tersengat siang. Ketika kebanyakan orang memincingkan mata, melihat fatamorgana di badan-badan jalan. Yayan justru membelahnya dengan harapan semoga dagangannya segera laku terjual. “Mbak rujak?” tawarnya pada wanita yang tengah parkir di pinggir jalan. (*/r5)




Editor : Redaksi Lombok Post
#Metropolis