Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kadis Berganti, Sampah Tak Kunjung Tertangani

Redaksi Lombok Post • Rabu, 11 Maret 2020 | 12:50 WIB
BELUM ADA SOLUSI: Seorang pemulung memilah sampah di TPS Karang Baru, kemarin. Sampah di Kota Mataram tak kunjung tertangani karena DLH masih mengandalkan sistem angkut-buang.
BELUM ADA SOLUSI: Seorang pemulung memilah sampah di TPS Karang Baru, kemarin. Sampah di Kota Mataram tak kunjung tertangani karena DLH masih mengandalkan sistem angkut-buang.

MATARAM-DRPD Kota Mataram menyoroti persoalan sampah yang tak kunjung beres. Meski Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram beberapa kali berganti, namun masalah sampah tak kunjung tertangani.


“Sama saja. Penanganan sampah masih menggunakan gaya konvensional. Angkut-buang,” sindir Ketua Komisi I DPRD Kota Mataram Ismul Hidayat, Selasa (10/3).


“Kita ingin ada pola pemilahan sampah. Kalau pengangkutan itu sudah wajib. Sistem pengurangan ini yang kita harapkan,” imbuh politisi PKS itu.


Menurutnya, penanganan sampah tidak cukup hanya menghadirkan armada sampah di setiap lingkungan atau kelurahan. Kendaraan roda tiga tidak bisa menyelesaikan masalah sampah di Kota Mataram.


Harusnya kata Ismul, Pemkot Mataram membangun tempat pemilahan sampah terpadu. Sehingga, permsalahan sampah dari hulu sampai hilir bisa tertangani. “Jangan hanya berpuas dengan memfasilitasi satu lingkungan satu kendaraan roda tiga. Ini belum menyelesaikan masalah,” cetusnya.


Ismul sebenarnya berharap banyak dengan terpilihnya Nazaruddin Fiqri menjadi Kepala DLH yang baru. Nazaruddin dikenal cerdas. Terutama dalam merumuskan konsep penyelesaian masalah pembangunan di Kota Mataram.


Tapi nyatanya, hingga kini belum ada terobosan baru atau inovasi penanganan sampah. “Hasil pansel perlu dipertanyakan. Saya tidak tahu seperti apa mereka menginterview peserta dalam lelang jabatan,” kesal Ismul.


Diungkapkan, pola angkut-buang tidak bisa menyelesaikan persoalan sampah. Kemampuan kota dengan segala sarana prasarana sistem angkut-buang dipastikan tidak akan mampu. Volume sampah dihasilkan per hari mencapai 350 sampai 400 ton menjadi hal yang menakutkan. Apalagi saat ini banyak sampah berceceran di jalan.


“Dengan sarana prasarana hanya 60 persen bisa diangkut. Sisanya  40 persen tidak tersentuh,” beber dia.


Ismul meminta pemkot mengambil langkah terpadu dalam menyelesaikan persolan sampah. Kelurahan dan kecamatan harus diajak duduk bersama. Sebab, tidak cukup dengan hanya memberikan fasilitas di setiap kelurahan. “Jangan hanya berikan fasilitas lalu selesai,” ujarnya.


Sementara itu Kepala DLH Kota Mataram Nazaruddin Fiqri mengaku kesulitan dalam soal pemilahan sampah. Soal pemilihan sampah ini kata dia, sejalan dengan program zero waste. Hanya saja belum bisa diterapkan maksimal. “Ini sudah kita sosialisasikan ke warga. Bahkan masuk ke sekolah-sekolah,” ujarnya.


Untuk sistem angkut buang tetap diberlakukan. Karena sesuai dengan undang-undang. Persoalan sampah ini juga bisa diselesaikan dengan teknologi. Mengubah sampah menjadi tenaga listrik. Tapi ini membutuhkan biaya besar. “Negara-negara maju terapkan sistem ini,”ujarnya.


Selama sistem angkut buang tidak menyalahi aturan maka pihaknya akan memperbaiki sarana prsarana. Seperti pemasangan lampu kendaraan pengangkut sampah dan menyediakan lampu di TPS. “Keselamatan pekerja kita utamakan,” ucapnya.(jay/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#sampah #Metropolis #Dinas Lingkungan Hidup