Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hasil Tes 16 ODP Reaktif, Kasus Positif Korona di Mataram Diprediksi Melonjak Lagi

Redaksi Lombok Post • Senin, 13 April 2020 | 14:12 WIB
SEMAKIN WASPADA: Menggunakan hand sanitizer saat keluar rumah menjadi salah satu bentuk antisipasi agar tidak terpapar virus Korona.
SEMAKIN WASPADA: Menggunakan hand sanitizer saat keluar rumah menjadi salah satu bentuk antisipasi agar tidak terpapar virus Korona.

MATARAM-Lonjakan kasus pasien terinfeksi virus Korona bisa saja terjadi di Kota Mataram. "Ada 16 orang yang hasil rapid tesnya itu reaktif,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dr. H Usman Hadi.


Usman menjelaskan, rapid tes dilakukan untuk menemukan indikasi. Apakah terpapar virus Korona atau tidak. Ditujukan untuk ODP. Mereka yang menunjukkan gejala sakit ringan maupun tanpa gejala, namun baru pulang dari zona merah virus Korona.


Caranya dengan mengambil sampel darah dari ODP. Ketika sampel darah masuk, alat akan menunjukkan reaksi tertentu.


Pengecekan melalui rapid tes tidak bisa menentukan apakah yang bersangkutan positif atau negatif terjangkit virus Korona. Tetapi, jika tes cepat menunjukkan hasil reaktif, petugas kesehatan akan melanjutkan dengan pengambilan swab.


Hanya saja, pengambilan sampel darah untuk rapid tes tidak dilakukan sekali. Minimal dua kali. Di hari pertama kedatangan ODP, kemudian di tes lagi untuk hari ketujuh atau ke-10. ODP dengan hasil tes reaktif, lanjut Usman, memiliki potensi tinggi untuk menjadi positif.


”Rencananya memang akan kita lakukan swab. Kemungkinan melalui RSUP, sehingga bisa diketahui statusnya, apakah positif atau negatif,” jelas Usman.


Mereka yang menunjukkan hasil reaktif, kata Usman, menurut teorinya harus menjalani isolasi. Membatasi aktivitas mereka di luar rumah. Adapun langkah Dikes, 16 ODP reaktif telah diberikan masker. Masing-masing mendapat 10 masker.


”Memang sebaiknya langsung diisolasi,” katanya.


Sejauh ini, Dikes Kota Mataram sudah melakukan rapid tes untuk 110 orang. Rapid tes bakal digencarkan terus. Menyasar warga kota yang berstatus ODP. Termasuk mereka yang pernah melakukan kontak dengan PDP positif.


”Minggu ini akan datang lagi sekitar 500 alat rapid tes,” tuturnya.


Seperti diketahui hingga kemarin tercatat 22 kasus positif korona di Mataram dua diantaranya meninggal dunia, 19 dalam perawatan dan satu sembuh. Sementara pasien dalam pengawasan sebanyak 27 dan 74 orang dalam pemantauan.

Sementara itu, Direktur RSUD Kota Mataram dr. HL Herman Mahaputra mengatakan, kasus positif Korona di Kota Mataram kemungkinan akan bertambah seiring banyaknya warga yang berstatus ODP. “Saya yakin ini bisa bertambah. Kita sekarang masih menunggu hasil Swab 12 PDP (pasien dalam pengawasan),” kata Direktur RSUD Kota Mataram H dr Lalu Herman Mahaputra, kemarin.


Menurutnya, banyaknya kasus positif Korona di Mataram adalah hal yang wajar. Karena Kota Mataram menjadi pusat pemerintahan dan pusat perekonomian, serta pendidikan. "Orang yang berpergian keluar daerah kebanyakan orang Mataram. Sehingga menularkan virus ini ke keluarga dan kerabat," ungkapnya.


Sekarang, kata pria yang akrab disapa Dokter Jack ini, 12 PDP sudah melakukan tes Swab dan tinggal menunggu hasilnya. "Semakin banyak yang positif, maka semakin mudah ditangani. Daripada tidak kelihatan dan tiba-tiba muncul dengan jumlah yang cukup besar," jelasnya.


Tracing kontak ini akan terus dilakukan sampai ke akarnya-akarnya. Terutama kepada klaster Gowa (jamaah tablig). Menurutnya, cluster ini cukup banyak. Jadi harus dibasmi sampai ke akar-akarnya.


Selasa (14/4), kata dia, reagen (Pemeriksa Korona) di Rumah Sakit Unram bisa digunakan. Ia sudah melakukan kerja sama dengan pihak Unram untuk melakukan Swab kepada pasien Korona. “Kalau ada alat ini di Unram, kita tak perlu nunggu lama hasil Swab,” ucapnya.


Ia mengatakan, banyaknya warga positif Korona juga karena pemerintah yang kurang tegas. Masih banyak ditemukan kerumunan dan orang yang gelar pernikahan. “Ini harusnya tidak diberikan izin,” kesalnya.


Dia menegaskan, warga yang masih nekat membuat keramaian ini harus diberikan sanksi. Karena jika virus ini diam di tubuh orang yang terjangkit akan lemah. “Hulu yang harus diperbaiki, baru ke hilir,” saran Jack.


Sementara itu  Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika I Nyoman Swandiasa akan mengumumkan nama jelas pasien positif dan PDP. Ini sesuai dengan hasil konsultasi dengan komisi informasi dan ketentuan informasi dari BNPB.


“Kita juga sudah minta camat dan lurah melaporkan jika ada warga yang datang dari luar daerah untuk dilakukan pemeriksaan,” ucapnya.


Selain itu, kata dia, Gugus Tugas Penangaan Covid-19 Kota Mataram juga akan melakukan isolasi terpusat bagi PDP di RSUD Kota Mataram. “Tidak boleh lagi ada PDP yang isolasi mandiri,” tukasnya. (dit/jay/r3)


Editor : Redaksi Lombok Post
#Tes Korona #Virus Korona #Rapid Tes #ODP