Sebab, selain wabah virus Korona, ada penyakit lain yg mengancam. Yakni DBD. Lonjakan kasusnya cukup signifikan. Hingga bulan Juni, sudah 644 orang yang terjangkit. Tiga pasien diantaranya meninggal dunia.
“Korona dan BDB hampir mirip gejalanya,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dr Usman Hadi, kemarin.
Karena itu, Usman mengingatkan kepada warga untuk tetap waspada. Caranya, tetap menerapkan pola hidup bersih. "Dibandingkan 2019 lalu, jumlah kasus DBD mengalami peningkatan," ungkap Usman.
Tahun lau, katanya, jumlah kasus DBD di Kota Mataram sekitar 413 kasus. "Itu untuk satu tahun. Nah sekarang, baru enam bulan sudah 644 kasus," jelasnya.
Di tengah Covid-19 pihaknya mengaku tidak bisa leluasa melakukan fogging dan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Sebab, petugas tidak bisa leluasa masuk ke semua lingkungan. "Sekarang kita sudah menetapkan satu rumah satu pemantau jentik (Jumantik)," bebernya.
Dia meminta warga untuk tidak tertutup dengan isu Covid-19. Karena DBD juga lebih berbahaya. Sehingga peningkatan pemberantasan sarang nyamuk harus digalakkan. “Kita minta masyarakat tetap menjaga lingkungan agar tetap bersih,” kata dia.
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dikes Kota Mataram Aini Hulaila mengatakan, pasien DBD yang meninggal merupakan pasien dengan penyakit komplikasi. Artinya, tidak murni hanya karena DBD.
"Ada yang gagal napas dan epilepsi. Mereka asalnya dari Kelurahan Selagalas, Cakra Selatan, dan Keluarahan Rembiga," terangnya. (jay/r3)
Editor : Administrator