“Kesimpulan yang kami dapatakan, kenaikan harga sejumlah barang ini dipicu perayaan Natal dan Tahun Baru,” kata Asisten II Setda Kota Mataram H Mahmuddin Tura.
Selain itu, harga bapok naik juga karena produksi berkurang. Seperti pengusaha ayam broiler sekarang ini banyak melakukan pembersihan kandang. Sehingga produksi berkurang. Begitu juga dengan beberapa komoditi yang produksinya banyak dikirim keluar daerah.
“Telur produksinya banyak, tapi banyak dijadikan sumbangan program pemerintah seperti PKH (program keluarga harapan),” kata mantan kepala Dinas PUPR Kota Mataram ini.
Diungkapkan, harga telur Rp 60 ribu per trai dari harga sebelumnya Rp 30 ribu. "Kita prediksi kenaikan harga ini sifatnya hanya sementara. Sebab, usai tahun baru harga akan kembali normal," yakinnya.
Sementara untuk cabai rawit, Tura mengaku memang stoknya terbatas. Petani banyak mengirim hasil panennya ke daerah lain. “Hampir semua bahan pokok stoknya tersedia. Hanya daya beli menurun. Orang-orang tertentu yang mampu beli,” ujar dia.
Kenaikan harga sejumlah bahan pokok terjadi tiap tahun. Terutama pada hari-hari besar. "Jika kenaikan harga bapok masih sampai tahun baru, kita putuskan akan melakukan operasi pasar,” tegasnya.
Dia menuturkan, pandemi Covid-19 membuat daya beli masyarakat menurun. Banyak karyawan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Namun jelang akhir tahun ini, masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa. Hanya saja daya beli masyarakat rendah. “Tadi saja saya temukan pedagang bawang tak ada pembeli satu pun,” tutur dia.
Diungkapkan, kenaikan harga bapok berpengaruh terhadap tingkat inflasi. "Karena itu, kita harus tetap pantau,” ungkap Tura.
Sementara Kabid Pengendalian Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Sri Wahyunida mengaku belum bisa melakukan operasi pasar. Karena anggarannya belum ada. "Tapi kalau ketersediaan stok saya jamin tetap ada. Cuma harganya yang masih tinggi,” tandasnya.
Sedangkan Pedagang Telur Pasar Mandalika Nursiah menuturkan, harga telur memang sangat mahal. Naiknya bisa dua kali lipat dari harga biasanya. "Dari pemasok kita membeli dengan harga tinggi. Kalau kita jual murah, dong rugi,” tuturnya. (jay/r3) Editor : Administrator