Anak Jalanan Makin Menjamur, Dinsos Kota Mataram Atur Strategi

Baiq Farida • Dipublikasikan Sabtu, 6 Maret 2021 | 15:27 WIB
HARUS DIPERHATIKAN: Salah satu warga menjual tisu di perempatan Jalan Bung Hatta belum lama ini.
HARUS DIPERHATIKAN: Salah satu warga menjual tisu di perempatan Jalan Bung Hatta belum lama ini.
MATARAM— Fenomena anak jalanan, pengemis di perempatan lampu lalu lintas banyak ditemukan di ruas jalan Kota Mataram. Dinas sosial (Dinsos) setempat menilai persoalan sosial ini muncul bukan karena hanya kemiskinan. Tapi juga kebiasaan warga.

“Mereka memanfaatkan rasa iba masyarakat untuk mendapatkan keuntungan pribadi,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Baiq Asnayati kepada Lombok Post, Jumat (5/3/2021).

Satgas dari Dinsos telah melakukan antisipasi dengan kerap melakukan razia terhadap mereka. Namun mereka seperti kucing-kucingan dengan petugas.

“Kadang disembunyikan anaknya (untuk meminta-minta),” tuturnya.

Beberapa titik yang sering dijadikan tempat mangkal pengemis dan anak jalanan adalah perempatan Jalan Airlangga Gomong, persimpangan Jalan Bung Karno dekat Kantor DPD Golkar NTB, perempatan Sweta, dan Jalan Bung Hatta. “Setiap Magrib juga biasanya mereka keluar,” ujar penuh sesal.

Asnayati menyebut persoalan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Namun tidak bisa juga hanya ditangani Dinsos semata.

“Itu (persoalan anak jalanan dan pengemis) salah satu yang didiskusikan ketika Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman datang ke kantor kami. Beliau mengaku akan mendiskusikan lebih panjang dengan bidang rehabilitasi sosial,” ujarnya.

Mengatasi hal tersebut, pihaknya akan bersinergi dengan banyak pihak. Seperti Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, Forum Kesejahteraan Sosial Anak Terintegrasi. Camat dan lurah juga harus ikut bergerak.

“Sejauh ini langkah yang dilakukan kami dengan memberikan bantuan PKH kepada pengemis dan keluarga anak jalanan yang berkeliaran di Kota Mataram,” ungkapnya.

Dipaparkan Asna, dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kota Mataram, jumlah warga yang masuk dalam data sebanyak 55 ribu jiwa. Data ini didapat dari 40 persen keadaan ekonomi terendah dari jumlah penduduk Kota Mataram.

Dari jumlah tersebut, 18.505 kepala keluarga masuk sebagai daftar penerima PKH. Ditambah tahun ini ada sekitar 3 ribu lebih. Jadi totalnya sekitar 20 ribu lebih kepala keluarga yang menerima bantuan pemerintah.

“Itu semua yang pengemis dan anak jalanan kami berikan bantuan PKH. Cuma itu tadi, mereka tetap saja (berkativitas di jalanan). Maka ini kami butuhkan juga bantuan dari camat dan lurah tempat tinggalnya,” katanya.

AH, salah satu warga yang ditemui Lombok Post berjualan tisu di perempatan Jalan Bung Hatta mengaku terpaksa berjualan mengajak balita yang ada di gendongannya. Lantaran ia tidak bisa hidup hanya mengandalkan bantuan pemerintah.

“Cuma saya terpaksa ajak cucu saya karena ibu bapaknya sudah meninggal,” tutur perempuan tersebut kepada Lombok Post.

AH yang mengaku berasal dari Sweta itu terlihat berjualan tisu di beberapa titik lampu lalu lintas. Mulai dari Jalan Bung Hatta hingga di perempatan Sweta wilayah Sandubaya. Ia terlihat menghampiri setiap mobil sambil menggendong balita yang dibawanya. Membuat sejumlah pengendara iba melihat perempuan ini. “Nggak ada yang jaga di rumah, makanya saya ajak,” kata dia. (ton/r3)

  Editor : Baiq Farida
Pemkot Mataram