"PCBL (penanganan Covid-19 berbasis lingkungan) sudah tidak maksimal. Karena penerapan prokes sudah mulai kendor," sesal Plt Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram H Muhtar.
Ketika menghadiri acara perayaan Isra Mikraj ke sejumlah kelurahan, ia melihat penerapan prokes nyaris tidak ada sama sekali. Masyarakat seolah berpikir pandemi korona sudah berakhir. Ini menyebabkan kasus terus bertambah. Meski tidak signifikan.
"Anggaran untuk Covid-19 terus kita alokasikan bahkan refocusing. Tetapi kesadaran masyarakat untuk menerapkan prokes semakin rendah, bagaiamana kita keluar dari Covid-19?" Tanya dia.
Hal senada diungkapkan Ketua Komisi I Ismul Hidayat. Ia melihat PCBL sejauh ini tidak optimal. Sehingga pola penerapannya perlu dievaluasi. "Perlu juga dievaluasi bagaimana sistem PCBL di tiap kelurahan. Mana yang memang zona merah dan kendor itu harus diperketat lagi," pintanya.
Kemudian ia menharapkan agar program Pokir Dewan juga bisa memberi kemaslahatan bagi masyarakat yang terdampak pandemi. Khususnya pemulihan ekonomi. "Karena bisa jadi yang membuat mereka lalai menjalankan Prokes akibat yang ada di pikiran masyarakat, mereka butuh makan," paparnya.
Sehingga harus diperbanyak program padat karya melibatkan warga. Agar masyarakat punya lapangan kerja.
Sekda Kota Mataram tak menampik jika saat ini Prokes mulai kendor. Maka, melalui anggaran refocusing, Pemkot Mataram akan mensinergikan dengan program kampung sehat Polda NTB Jilid II. "Agar semangat mendisiplinkan Prokes seperti awal pandemi bisa kembali," ucapnya.
Data terbaru Satgas Covid-19 Kota Mataram per 17 Maret kemarin, 19 warga terkonfirmasi positif dengan satu pasien meninggal dunia. Dengan tambahan kasus ini, maka jumlah pasien positif korona yang meninggal dunia di Kota Mataram menjadi 124 orang. (ton/r3) Editor : Administrator