“Bahkan bos-bos dari Bima datang ke sini,” kata Arifin, salah satu penjual Durian di taman Ampenan, Jumat malam (5/11).
Tentu saja bos-bos yang di maksud Arifin itu tak jauh-jauh datang dari Bima cuma buat beli Durian. Tetapi kawasan taman itu memang sudah ter-branding sebagai tempat mendapatkan ‘emas berduri’ terbaik di situ.
Ketika ada pekerjaan yang mengharuskan mereka bermalam di Mataram maka taman itulah yang menjadi tujuan utamanya.
“Semakin malam, semakin ramai. kami bahkan sampai berjualan hingga pukul 01.00 dini hari,” tuturnya.
Bos-bos dari Bima yang di maksud Arifin bukan satu-satunya. “Ada dari Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, dari Bali, bahkan Jawa juga singgah di sini untuk beli Durian,” tuturnya.
Lombok Post juga melihat hiruk pikuk pasar dadakan itu yang semakin ramai sampai larut malam. Mobil-mobil standar sampai mewah terparkir memanfaatkan sudut-sudut jalan sampai sesak.
Sementara semerbak harum bau durian menyebar hingga pelosok-pelosok gang yang relatif jauh dari tempat jualan.
“Alhamdulillah, cukuplah bagi kami,” kata Arifin, sungkan menceritakan pendapatannya setiap malam dari hasil jual durian, sembari senyum-senyum tersipu.
Pasar durian dadakan di taman Ampenan memang bukan pasar baru. Tempat itu sudah dari dulu jadi persinggahan terakhir para pembudidaya hingga tengkulak untuk dijual pada konsumen.
Dari yang dijual perbuah sampai berkeranjang-keranjang. “Yang mau eceran ada, yang mau beli perkeranjang juga ada,” jelasnya.
Per buah dari harga Rp 25 ribu sampai ratusan ribu. Sedangkan per keranjang juga variatif dari Rp 250 ribu, Rp 350 ribu, Rp 450 ribu, Rp 650 ribu, sampai jutaan. Tenang, masih bisa tawar-menawar.
“Mau borong semua juga boleh,” ujarnya seraya terkekeh.
Uniknya, kehadiran emas berduri itu telah memantik roda ekonomi yang lain. Mulai dari parkir dadakan, penjual air, hasil kerajinan UMKM lokal, juga tumbuh dan mendapat ruang tersendiri.
“Kalau copet insya Allah aman, kita semua ikut berpartisipasi menjaga agar semua orang bisa membeli dengan nyaman di sini, kami mau sampaikan terima kasih karena pemerintah membolehkan kami berjualan di sini,” jelasnya.
Retno salah satu pembeli yang ditanya Lombok Post mengungkapkan baru pertama kali datang ke sana. “Baru pertama, dapat cerita dari teman-teman,” katanya antusias.
Retno bahkan datang dengan rombongan besar keluarganya. Menikmati durian di tempat yang asyik itu.
“Ada tamannya, anak-anak saya bisa main dengan aman, kami pun bisa menikmati dengan tenang di sini,” jelasnya.
Pembeli asal Lombok Tengah itu tahu beberapa lokasi untuk membeli Durian.
“Tetapi yang ramai seperti pasar seperti ini setahu saya ada tiga, di Lingsar, dekat RSJ (Mutiara Sukma), sama di sini, dan yang baru saya lihat semakin malam semakin ramai di sini. Ini seru,” ungkapnya.
Sementara itu, Anggota Komisi 2 Bidang Perekonomian, DPRD Kota Mataram HM Zaini menyarankan pemerintah memulai penataan kawasan kota tua berdasarkan sektor ekonomi yang tumbuh alami di tengah masyarakat.
“Seperti di sepanjang jalan kawasan Loang Baloq itu masyakat menemukan sendiri yang cocok untuk mereka menjalankan ekonominya yaitu berjualan ikan segar,” katanya.
Pemerintah dapat mengambil peran dengan mendukung penjualan ‘raja buah’ itu di kawasan kota tua. Sehingga sektor ekonomi dapat tumbuh secara alami dan lebih permanen dengan dukungan infrastruktur dari pemerintah.
Daripada memaksakan sektor ekonomi lain, tetapi tidak didukung masyarakat. “Saya kira ini yang disebut kebijakan berdasarkan kearifan lokal, pemerintah harus pandai pembaca naluri ekonomi yang diinginkan masyakat di sana,” dorongnya.
Kawasan kota tua yang selama ini selalu membuat masygul, karena program penataan tidak direspons baik oleh masyakat, solusinya dapat berangkat dari durian effect itu.
“Ekonomi itu saya rasa punya nalurinya sendiri, tidak bisa dipaksa-paksa. Saya kira penataan kota tua, bisa dimulai dengan mendukung sektor positif yang tumbuh baik di sana,” saran politisi Demokrat itu. (zad/r3) Editor : Administrator