“Dulu setiap ada kegiatan pemerintah di luar daerah, kami sering diajak ikut pameran mempromosikan produk cukli. Gaungnya dulu sangat terasa kita dibantu pemerintah,” ungkap H Fauzi, salah satu pelaku usaha cukli di Rungkang Jangkuk, Sayang-Sayang.
Pria yang sudah puluhan tahun bergelut dengan usaha kerajinan cukli ini ingat betul bagaimana aneka produk cukli jadi primadona. Mulai dari kursi, meja, sofa, lemari, tempat tisu hingga aneka kerajinan cukli lainnya banyak diburu pelanggan. Bahkan warga Lingkungan Rungkang Jangkuk yang menjadi pusat kerajinan ini sampai kewalahan memenuhi pesanan.
“Kami ingat sekitar tahun 2014 itu kerajinan cukli kami dibawa pakai truk ke Pulau Jawa hampir tidak pernah putus. Rame sekali. Setiap ada kegiatan pameran, kami selalu dilibatkan. Ini yang kami rindukan,” ungkapnya.
Dulu, para perajin merasakan kerajinan cukli Sayang-sayang begitu dibanggakan Pemkot Mataram. Setiap ada kegiatan, cukli selalu dipromosikan. Namun sekarang, kesannya diabaikan atau kurang mendapat perhatian.
Ini membuatnya berharap ada pembinaan dan pendampingan dari dinas terkait untuk mengembalikan kejayaan cukli. “Terutama kami sangat butuh bantuan modal dan bantuan promosi. Kalau ada acara pameran, tolong ajak kami,” pintanya.
Meski kondisi geliat usaha cukli tidak seramai dulu, namun H Fauzi masih bertahan dengan usaha ini. Karena banyak warga khususnya perajin yang mencari nafkah bagi keluarganya dari kerajinan cukli. “Mau kerjakan yang lain kadang warga tidak punya skill. Makanya sebagian masih memilih bertahan meski situasinya tidak mudah,” akunya.
Kondisi kerajinan cukli juga saat ini terasa mulai mengeliat pasca melandainya kasus pandemic Covid-19. Pesanan mulai berdatangan meski tidak seperti pada masa kejayaannya. “Sudah mulai ada lagi banyak yang datang,” ujar Sumawarni warga lainnya.
Tak hanya tamu lokal, beberapa wisatawan mancanegara juga ada yang datang membeli kerjajinan cukli seperti topeng, patung serta pernak-pernik lainnya. “Kalau pengunjung domestik dan pesanan luar daerah kebanyakan beli satu set kursi, meja dan sofa. Ini harganya Rp 12 juta. Kadang bisa laku dua set dalam sebulan,” syukurnya. (ton/r3) Editor : Administrator