"Apalagi musim hujan seperti sekarang ini. Ombak juga besar jadi yang datang semakin berkurang," ujar Zainal, salah satu pedagang di Pantai Ampenan.
Pengunjung yang datang hanya beberapa saja. Bisa dihitung dengan jari. Ini berdampak pada omzet pedagang yang biasanya mencapai jutaan per hari kini hanya ratusan ribu saja. "Itu pun omzet, bukan keuntungan," imbu Zainal.
Sementara, untuk modal berdagang, para pedagang Pantai Ampenan mengambil pinjaman di bank hingga lembaga perkreditan. Setiap hari, mereka harus menyetor uang pinjaman. Otomatis, dengan kondisi kunjungan yang kian sepi, pedagang semakin pusing.
"Ya mau gimana lagi. Berharapnya Pantai Ampenan bisa seperti dulu ramai dikunjungi warga. Mudahan pantai ini bisa dibenahi," harapnya.
Kondisi Pantai Ampenan saat ini memang memprihatinkan. Pantai ini terkesan tak terurus dan kumuh. Anjungan yang rusak berpotensi membahayakan pengunjung. Lantaran pagar pembatas anjungan sudah tidak ada lagi. Sehingga pengunjung khususnya anak-anak bisa jatuh ke pantai dengan ketinggian lima sampai 10 meter.
Selain itu, pedagang juga berjualan menggunakan terpal dan dinding kayu hingga bambu. Membuat kawasan wisata ini terlihat tidak layak berada di kawasan pantai wilayah kota.
Pemerintah Kota Mataram sebenarnya sudah membuatkan gedung wisata kuliner di sebelah selatan pantai ini. Sayang, bangunan senilai Rp 2 miliar lebih tersebut justru terkesan mubazir. Karena sampai saat ini tidak dimanfaatkan sama sekali oleh pedagang. "Bangunannya tertutup sangat tidak cocok untuk kondisi pantai," ujar Mahsun pedagang lainnya.
Pemkot Mataram sudah selayaknya memberikan perhatian lebih ke Pantai Ampenan. Karena pantai ini juga menjadi bagian dari destinasi wisata bersejarah Kota Tua Ampenan. Apalagi, Mataram tahun depan berpeluang besar menjadi tuan rumah MXGP di Bulan Juli yang direncanakan dilaksanakan di lokasi eks Bandara Selaparang. Maka Pantai Ampenan bakal menjadi salah satu destinasi wisata pilihan yang bisa dikunjungi wisatawan. (ton/r3)
Editor : Administrator