“Tradisi maleman ini adalah sebuah upaya mengingatkan tentang adanya malam Lailatul Qadar. Karena bagi siapa saja yang beribadah di malam tersebut nilainya akan lebih baik dari pada seribu bulan,” jelas Haris Maulana, salah satu warga.
Dalam sejarahnya, para wali atau pemuka agama di Kota Mataram sejak dulu berusaha mengingatkan warga betapa pentingnya malam tersebut. Sejak itu masyarakat menyambut suka cita malam itu melalui budaya yang dikenal dengan maleman.
Warga akan beramai-ramai menyalakan obor sebagai bentuk suka cita menyambut malam Lailatul Qadar. Mereka kemudian berkeliling kampung menyemarakkan malam ini.
“Ini juga sekaligus syiar di Bulan Ramadan. Biasanya dilakukan malam ke-21 atau tradisi setiap malam ganjil 10 terakhir Bulan Puasa,” jelasnya.
Semua kalangan masyarakat yang ada di Lingkungan Karang Genteng akan merayakan maleman ini dengan penuh suka cita. Kegiatan tahun ini lebih semarak karena diinisiasi oleh Remaja Masjid Karang Genteng dan Gent Creative.
“Kegiatan positif seperti ini harus dibudayakan di era Society 5.0,” harapnya.
Lurah Pagutan Anuri juga mengatakan jika tradisi ini sudah berlangsung sejak lama di wilayahnya. Ini dirayakan warga sebagai bentuk keceriaan menyambut malam turunnya Alquran.
“Sudah sejak lama tradisi ini memang dirayakan warga kami,” ungkapnya.
Tradisi ini dirayakan secara turun temurun oleh warga untuk mempertahankan nuansa religius di Pagutan. Khususnya di Karang Genteng. (ton/r3)
Editor : Administrator