“Perlu diketahui para orang tua, anak-anak kita apalagi yang sudah remaja, mereka ini aktif dan hormonnya naik dan terus meningkat, yang laki-laki seperti raja, yang perempuan seperti ratu,” jelasnya, usai seminar Propethic Parenting dengan Tema Solusi Mengatasi Permasalahan Pendidikan Anak Generasi Z dan Post Gen Z, di Ballroom Islamic Center, Minggu (30/7).
Ketika mengalami fase tersebut, anak ingin dianggap oleh orang tuanya. Di sinilah komunikasi dan peran orang tua, agar anak selama menjalani fase tersebut, disalurkan pada aktivitas atau kegiatan positif.
“Mereka (anak-anak, Red) suka bingung nah di sini orang tua harus mau mendengarkan anak-anaknya,” ujar wanita kelahiran 17 Desember 1968 ini.
Penting dipahami orang tua, anak saat remaja tidak terlalu senang dinasehati. Mereka lebih senang didengar. Bagi orang tua yang memiliki anak remaja perempuan, saat sedang mengobrol, orang tua sebisa mungkin harus melihat wajah anaknya.
“Kalau anak lagi cerita, lihat mukanya, jangan sambilan kita orang tua main hp, balas WA (Whatsapp, Red), karena kalau sambil kita pegang hp nih, anak merasa ayah atau ibu tidak memperhatikan,” jelasnya.
“Kita respons aja misalnya sambil ngangguk-ngangguk, kadang memang kita tidak mengerti tetapi ini penting, karena ketika dia mau curhat nantinya, dia tidak takut dan tahu orang tuanya memperhatikan,” tambah dr Aisyah.
Sementara itu, tips menasehati anak remaja laki-laki, orang tua jangan sampai menegurnya di depan orang lain, baik kawan bahkan di depan saudaranya sekalipun. “Ini akan mempengaruhinya,” ujarnya.
Di sisi lain, orang tua harus bisa membuat anak lebih terbuka dan mau bercerita banyak hal. Pada saat hal ini terjadi, orang tua juga harus paham bagaimana cara merespons anak.
“Kalau lagi cerita, tahan diri orang tua untuk cepat berikan nasehat, banyak istigfar saja, jangan langsung dijudge begini begitu, ya kedepannya nggak mau ngomong, ini harus dihindari para orang tua,” tegas dia.
Berikutnya, agar anak terhindari dari aktivitas negatif, dukung kegiatannya pada hal-hal yang mengeluarkan energi. Bisa melalui futsal, karate, basket, main band atau ragam kegiatan lainnya.
“Nah ini juga tips untuk orang tua, untuk mendukung kegiatannya tadi, supaya mencari sekolah yang banyak memiliki kegiatan ekstrakurikuler, dengannya dia bisa memilih dan tenaganya bisa tersalurkan,” jelas dia.
Lebih dari itu, untuk aktivitas otak maka anak akan belajar banyak tentang kepemimpinan, organisasi, mengerti diri sendiri, dan lingkungan sekitar termasuk meningkatkan kepekaan terhadap kondisi orang-orang di sekelilingnya.
“Kalau ini menjadi pembiasaan dan dilakukan terus menerus, anak di usia 21 tahun akan matang dengan sendirinya,” tandas dia.
Ketua TP PKK NTB Hj Niken Saptarini Zulkieflimansyah mengapresiasi digelarnya seminar tersebut. Menurutnya, orang tua perlu diberikan pemahaman terhadap mendidik anak di era sekarang, karena zenerasi Z memiliki karakteristik yang unik, hal itu disebabkan oleh lingkungannya yang serba digital membuat orientasi, gaya hidup, dan gaya belajar mereka berbeda.
Sehingga pendidik harus menyesuaikan dengan karakteristik generasi ini. Untuk itu, kesadaran juga pemahaman pendidik perlu terus ditingkatkan. “Alhamdulillah saya selaku sesepuh organisasi perempuan di NTB, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada panitia dari FORHATI NTB, yang telah berupaya dengan segenap daya upayanya menghadirkan dokter Aisah dan tim ke tempat kami," ujarnya. (yun/r10)
Editor : Baiq Farida