Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Agustus 2023 BMKG Catat 490 Kali Gempa Terasa di NTB

Yuyun Kutari • Selasa, 5 September 2023 | 17:01 WIB

Ilustrasi Gempa Lombok
Ilustrasi Gempa Lombok
LombokPost-Gempa bumi dengan kekuatan 7,1 magnitudo yang mengguncang wilayah Utara Lombok akhir bulan lalu membuktikan NTB merupakan daerah yang aktif secara tektonik.

 

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram Ardhianto Septiadhi menjelaskan, secara umum terdapat dua generator utama sebagai penyebabnya. “Ada subduksi di Selatan pulau dan zona sesar di bagian utara pulau,” ujarnya, kemarin (4/9).

 

Sepanjang 2022, berdasarkan catatan BMKG, tercatat 9.216 kejadian gempa bumi dan didominasi gempa bumi dengan kedalaman dangkal. Artinya kurang dari kedalaman 60 kilometer sebanyak 7.954 kejadian. “Dan kekuatan gempa bumi kurangnya dari skala 3.0 yaitu sebanyak 1.224 kejadian,” jelasnya.

 

Sementara itu, dalam sebulan terakhir, tepatnya Agustus lalu, telah terjadi gempa bumi sebanyak 490 kejadian. Untuk memonitoring aktifitas kegempaan di Utara Pulau Lombok, BMKG selalu meningkatkan kemampuan dalam memonitoring gempa bumi.

 

Untuk mengukur potensi gempa bumi, biasanya digunakan beberapa parameter seperti surface rupture, epicenter, dan hypocenter atau focus. Focus atau hypocenter adalah titik di dalam bumi yang menjadi pusat dari gempa bumi. Cara mendapatkan parameter tersebut, dipasang peralatan monitoring sebanyak 21 lokasi di NTB. “Jumlah ini termasuk di Pulau Lombok ada tujuh Lokasi,” kata Ardhi.

 

Diharapkan dengan rapatnya peralatan monitoring akan dapat memberikan informasi yang cepat, tepat, dan akurat. Gempa bumi dapat menimbulkan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

Secara langsung gempa bumi dapat menyebabkan guncangan, sobekan permukaan, likuifaksi, rock fall, longsoran, dan rusaknya bangunan. Dampak tidak langsung dari gempa bumi dapat mengakibatkan tsunami, banjir, dan kebakaran. “Gempa bumi adalah suatu fenomena yang tidak bisa kita hindari serta belum ada teknologi yang bisa memprediksi atau menghindarkan kita dari bahaya gempa,” jelasnya.

 

Informasi BMKG perlu dijadikan acuan sebagai dasar untuk pembangunan, khususnya di daerah yang mempunyai kegempaan yang sangat tinggi seperti NTB, khususnya Pulau Lombok. Begitu juga pembangunan pemahaman masyarakat terhadap gempa bumi dan mitigasinya di daerah rawan menjadi hal yang penting. Sosialisasi sampai dengan tingkat masyarakat sudah banyak dilakukan oleh instansi pemerintah yang menangani sektor kebencanaan.

 

Di samping itu, pembangunan kesiapsiagaan melalui rencana kontijensi sampai dengan tingkat desa dan gladi serta simulasi rutin yang melibatkan multi stakeholder. “Jadi, mitigasi bencana ini merupakan investasi jangka Panjang. semua pihak perlu memahami gempa bumi, memahami info BMKG dan kesiapsiagaan untuk dapat mengurangi risiko yang diakibatkan bahaya dari gempa itu sendiri,” pungkasnya. (yun/r8)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Gempa Lombok #bmkg #Gempa Bumi #Mataram