Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pertama Kali di Dunia, Wayang Sasak Dimainkan di Layar Lebar

Fatih Kudus Jaelani • Jumat, 8 September 2023 | 10:42 WIB

PERTUNJUKAN WAYANG SASAK: Wayang sasak tampil di layar lebar berukuran 10x5 meter di Teater Tertutup Taman Budaya NTB.
PERTUNJUKAN WAYANG SASAK: Wayang sasak tampil di layar lebar berukuran 10x5 meter di Teater Tertutup Taman Budaya NTB.
MATARAM – Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) mencatat sejarah pertunjukan wayang tradisi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk pertama kalinya di dunia, wayang sasak dimainkan secara langsung di layar lebar berukuran 10x5 meter.

Pertunjukan spektakuler yang memukau lebih dari 300 penonton di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB dalam Festival Komunitas Seni Media (FKSM) 2023 itu berlangsung pada Selasa malam, 5 September 2023.

“Ini luar biasa. Muncul di layar selebar itu merupakan impian saya sejak dulu,” kata Ki Dalang H Safwan yang tampil sebagai penyelaras dalam pertunjukan wayang tersebut.  

Biasanya ukuran klir (layar,red) wayang sasak 3 x 0,8 meter. Kata Safwan, ukuran layar itu sudah menjadi pakem karena disesuaikan dengan kemampuan labakan. Labakan merupakan lampu khusus berbahan bakar minyak kelapa yang berfungsi sebagai penghasil bayangan wayang di layar. Jika layar diperbesar, labakan yang ada tidak mampu menghasilkan bayangan di ujung sisi kiri dan kanan layar.

Sementara dalam pertunjukan SPWS bertajuk ‘Pertale Gumi (Dunia dalam Lipatan), pertunjukan dari layar tradisi diambil menggunakan kamera yang secara langsung ditembakkan ke layar lebar menggunakan proyektor. Gagasan menggunakan teknologi pada pertunjukan wayang tradisi itu menjadi bagian penting yang secara pribadi membuat Safwan sebagai dalang wayang sasak terkesima.

“Pengalaman ini tidak akan terlupakan. Dan tentu sangat bisa digelar lagi di pertunjukan lainnya,” papar Safwan, Ki Dalang yang berasal dari Desa Badrain, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat.

Pertunjukan yang akan tercatat dalam sejarah wayang sasak di dunia itu menghadirkan dalang muda dari Kota Mataram Lalu Anom Wirajagat. Menjadi catatan sejarah juga, untuk pertama kalinya dalang muda wayang sasak didampingi dua dalang senior Ki Dalang Darum Diya dan Ki Dalang H Safwan. Selain itu, pertunjukan berkolaborasi dengan wayang botol yang dimainkan Dalang Abdul Latief Apriaman dan Dalang Wayang Botol Wahyu Kurnia.    

Selain menggabungkan tiga layar yang berbeda, SPWS juga tidak hanya menampilkan musik tradisi yang mengiringi lakon pertunjukan wayang. Selain Sekehe Kelompok Pedalangan Jayengsemare Desa Batu Kumbung, Lombok Barat yang mewakili musik tradisi, mereka juga menghadirkan kelompok musik modern yang dimainkan Yuga Anggana, Sukirno, dkk. 

Ketua SPWS Abdul Latief Apriaman menerangkan, ide awal pertunjukan wayang sasak di layar lebar sudah digagas akhir 2021 lalu. Saat itu, bersama para dalang wayang sasak di Lombok, mereka membayangkan adanya pertunjukan wayang sasak di lapangan dengan menghadirkan tiga dalang, tiga layar, yang disatukan permainannya dalam satu layar lebar. “Dan Alhamdulillah, gagasan itu akhirnya terwujud melalui adanya FKSM 2023 yang tahun ini digelar di Lombok,” kata Latief.

Pertunjukan tersebut berjalan sukses dan menjadi sejarah tersendiri bagi SPWS dan pecinta wayang sasak di Lombok khususnya dan Indonesia bahkan dunia pada umumnya. Latief mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya pertunjukan kolaboratif tersebut.

 

Sekolah Pedalangan Wayang Sasak berdiri pada Mei 2015. Sekolah yang didirikan oleh Fitri Rachmawati, Abdul Latief Apriaman, dan sejumlah pecinta seni tradisi di Lombok itu terlahir atas keprihatinan akan keberadaan Wayang Sasak yang kian hari kian redup ditelan perkembangan zaman. “Hal itulah yang mendorong kami 'nekad' mendirikan SPWS,” ungkap Latief.

 

Saat ini, SPWS bernaung di bawah Yayasan Pedalangan Wayang Sasak. Berbagai kegiatan inovatif dan kreatif dalam melestarikan kesenian tradisi wayang sasak telah lahir dari SPWS. Salah satunya wayang botol. (tih)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Sekolah Pedalangan Wayang Sasak #taman budaya ntb #Festival Komunitas #2023 #Wayang Sasak #dalang