Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nanang Samodra Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Mataram

Prihadi Zoldic • Minggu, 10 September 2023 | 20:51 WIB
Sosialisasi empat pilar MPR RI Nanang Samodra
Sosialisasi empat pilar MPR RI Nanang Samodra

 

LombokPost-Anggota MPR RI H Nanang Samodra melakukan Kegiatan Sosislisasi 4 pilar MPR RI Tahap VI, Kamis (27/7) di Aula Abdurrahim, Universitas Islam Al Azhar, Jalan Unizar 20, Kelurahan Turida, Kecamatan Sandubaya, Mataram. Peserta terdiri atas, mahasiswa, dosen dan karyawan pada Universitas Islam Al Azhar.

Nanang Samodra memaparkan  panjang lebar mengenai sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dijelaskan, Bangsa Indonesia lahir dan bangkit melalui sejarah perjuangan masyarakat bangsa yang pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang.

"Akibat penjajahan bangsa Indonesia sangat menderita, tertindas lahir dan batin, mental dan materil. Mengalami kehancuran di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan hingga sisa-sisa kemegahan dan kejayaan Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit yang dimiliki rakyat di bumi pertiwi, sirna, dan hancur tanpa sisa," jelas pria bergelar doktor itu.

Turut dijelaskan, Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit merupakan sejarah awal pengenalan wilayah kepulauan Nusantara yang merupakan tanah air bangsa Indonesia. Sebutan Nusantara diberikan oleh seorang pujangga pada masa Kerajaan Majapahit, kemudian pada masa penjajahan Belanda sebutan ini diubah oleh pemerintah Belanda menjadi Hindia Belanda.

Indonesia berasal dari bahasa latin indus dan nesos yang berarti India dan pulau-pulau. Indonesia merupakan sebutan yang diberikan untuk pulau-pulau yang ada di Samudra India dan itulah yang dimaksud sebagai satuan pulau yang kemudian disebut dengan Indonesia

Terkait Kerajaan Majapahit, juga merupakan cikal bakal negara Indonesia. Majapahit yang keberadaannya sekitar abad XIII sampai abad XV adalah kerajaan besar yang sangat berjaya, terlebih pada masa pemerintahan Mahapatih Gajah Mada yang wafat disekitar 1360-an.

"Gajah Mada adalah Mahapatih Majapahit yang sangat disegani, dialah yang berhasil menyatukan Nusantara yang terkenal dengan “Sumpah Palapa” (sumpah yang menyatakan tidak akan pernah beristirahat atau berhenti berpuasa sebelum Nusantara bersatu)," jelasnya.

Meski demikian, sejarah juga mencatat bahwa kejayaan Kerajaan Majapahit yang berumur lebih dari 2 abad harus berakhir karena Majapahit mengalami paradoks history setelah Patih Gajah Mada wafat. Kerajaan Majapahit mengalami perpecahan (semacam balkanisasi di Eropa Timur di akhir abad XX) dengan ditandai lepasnya kerajaan-kerajaan yang semula berada dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan—kerajaan kecil yang berdiri sendiri.

Nanang Samodra
Nanang Samodra

Kewaspadaan nasional yang dimiliki Majapahit sebagai negara bangsa (nationale staat) dalam konteks berbangsa dan bernegara waktu itu sangat lemah. "Sehingga konflik-konflik yang terjadi menyulut perpecahan yang lambat laun mempengaruhi ketahanan nasional dan menuju ke kehancuran total," katanya membagi pemahaman.

Sejak berakhirnya masa kerajaan di Indonesia, masuklah bangsa barat seperti Portugis dan Spanyol yang disusul oleh Bangsa Belanda pada abad XVI tepatnya 1596.
Belanda cukup berhasil menguasai Indonesia, mereka mengeruk keuntungan sebesar-besarnya sementara rakyat Indonesia mengalami penderitaan lahir dan batin. Belanda melakukan dominasi politik, eksploitasi ekonomi, dan memperlakukan rakyat Indonesia dengan sewenang-wenang.
Belanda menerapkan politik ”adu domba” dan melakukan diskriminasi rasial kepada rakyat Indonesia.

Kondisi masyarakat yang semakin parah akibat penjajahan tersebut membangkitkan perlawanan yang dipimpin oleh para tokoh perjuangan di antaranya Sultan Ageng Tirtayasa, Cik Dik Tiro, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin, Imam Bonjol, Panglima Polim, dan Pangeran Diponegoro. Namun perlawan-perlawanan tersebut mengalami kegagalan karena pada waktu itu belum terpupuk kesadaran nasional dan perjuangan yang dilakukan masih bersifat kedaerahan.

Perlawanan terhadap penjajahan Belanda terus dilakukan, secara fisik maupun politik. Munculnya kesadaran para pejuang dan golongan terpelajar Indonesia serta situasi internasional yang menimbulkan pergerakan di kalangan negara-negara terjajah, pada 20 Mei 1908 di Jakarta berdirilah Boedi Oetomo yang didirikan oleh dr. Soetomo dan kawan-kawan dengan ketuanya Dr. Wahidin Sudiro Husodo. Setelah gerakan Boedi Oetomo pada 1908, kemudian dilanjutkan dengan berdirinya Serikat Dagang Islam pada 1909 pimpinan H Samanhudi yang kemudian pada 1911 berubah menjadi Serikat Islam dimulai sejak awal pergerakan Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, sampai dengan saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Lanjut Nanang, pada saat perang dunia II berlangsung 1942, Jepang mendarat di Indonesia melalui Tarakan, Minahasa dan Sulawesi, Balikpapan, Ambon, Batavia, dan Bandung. Belanda menyerah kepada tentara Jepang pada 9 Maret 1942. Sejak itulah, Bangsa Indonesia berada dalam jajahan tentara Jepang dan wilayah Indonesia dibagi menjadi 2 bagian, yaitu pertama: Pulau Jawa dan Sumatera di bawah kekuasaan Angkatan Darat, dan kedua: Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian, dan Nusa Tenggara di bawah kekuasaan Angkatan Laut.

Bangsa Indonesia terus melakukan perlawanan terhadap Jepang dan perlawanan tetap berlanjut sampai tentara Jepang terdesak oleh Sekutu pada 1944-1945. Pada 29 April 1945, pemerintah Jepang membentuk sebuah Badan yang bertugas menyelidiki kemungkinan Indonesia Merdeka.

Badan tersebut bernama BPUPKI yang dilantik pada 28 Mei 1945. BPUPKI melaksanakan persidangan selama dua kali, yaitu pada 29 Mei sampai 1 Juni 1945 dan 10 sampai 17 Juli 1945. Sesuai tugas yang diberikan kepada BPUPKI, penyelidikan usaha-usaha kemerdekaan Indonesia ditingkatkan menjadi mempersiapkan kemerdekaan dengan cara antara lain merumuskan dasar negara sebagai landasan negara untuk negara yang akan dibentuk.

Selain perjuangan yang dilakukan dalam sidang BPUPKI, perjuangan Indonesia juga tetap dilakukan melalui gerakan perlawanan di bawah tanah. Hasil perjuangan itulah yang menghasilkan kemerdekaan Republik Indonesia, setelah Jepang dinyatakan kalah dalam Perang Dunia II.

Kemerdekaan Republik Indonesia diperoleh bukan berupa hadiah dari Penjajah Jepang, seperti rencana awalnya. Namun Republik Indonesia merdeka pada tanggal 17 Aguatus 1945 saat Jepang telah kalah perang.

Dalam diskusi yang diadakan, muncul beberapa pertanyaan dari peserta, antara lain, mengapa kerajaan-kerajaan zaman keemasan sebelum era penjajahan dahulu tidak meninggalkan istana yang megah seperti yang ada di Eropa? Ada juga pertanyaan terkait apa peran Gajah Mada dalam mempersatukan Nusantara. Dan apa penyebab dari kehancuran Kerajaan Majapahit saat itu?

Masuknya Belanda ke Indonesia dimulai dengan masuknya para pedagang untuk mencari rempah-rempah, kemudian berkembang dan menetap di Indonesia dengan mendirikan VOC tang merupakan serikat dagang juga ditanyakan peserta. Karena dengan demikian pada masa itu yang menjajah Indonesia bukanlah pemerintah Belanda melainkan serikat dagang Belanda. Kemudian, mengapa penjajah Belanda mampu memecah belah Indonesia menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang tidak berdaya?

Para mahasiswa yang mempelopori kemerdekaan pada awal abad ke-20, telah memberikan angin segar kepada masyarakat Indonesia dalam menyadari posisinya sebagai masyarakat negara terjajah, apakah saat itu tidak ada upaya dari pemerintah Belanda untuk melakukan pencegahan? Dan bagaimana BPUPKI menjalankan tugasnya di saat Jepang menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia Kedua?

Diskusi hangat pun terjadi. Nanang Samodra menyampaikan materi dengan berdasar faktar dan data yang dimiliki. (hiu)

Editor : Prihadi Zoldic
#nanang samodra #empat pilar